October 21, 2020

Review : Jason Bourne


“I know who I am. I remember everything.” 

Di penghujung The Bourne Ultimatum, Jason Bourne telah mengetahui jati dirinya, apa yang telah dilaluinya selama ini, dan sang biro mata-mata super menghilang ditelan arus sehabis terjun ke sungai. Sebuah konklusi yang sempurna, sebetulnya. Kala itu kita semua beranggapan bahwa petualangan Bourne telah menjumpai ujungnya menyusul keputusannya untuk menghilang dari peradaban. Tapi kemudian pundi-pundi dollar angkat bicara yang mendorong Universal Pictures tetap menghidupkan franchise ini dengan atau tanpa Bourne. Berselang lima tahun, percobaan pertama mereka diluncurkan lewat The Bourne Legacy yang menampilkan aksara gres – disebabkan Matt Damon emoh bergabung karena sutradara dua jilid sebelumnya, Paul Greengrass, hengkang. Legacy memperoleh respon bermacam-macam yang kebanyakan menilai kemampuan bercerita maupun tingkatan ketegangannya tidak setinggi trilogi awal. Meski menuai resepsi kurang memuaskan, nyatanya pihak studio tetap tancap gas dan melalui percobaan kedua, direkrut kembalilah ujung tombak franchise; Damon dan Greengrass. Dengan keterlibatan mereka berdua, kita pun akibatnya bisa berkata, “ladies and gentlemen… Jason Bourne is back!.” 

Sekalipun seluruh tabir misteri yang menghinggapi masa lalunya telah tersingkap, nyatanya Jason Bourne (Matt Damon) belum juga mendapat ketenangan batiniyah. Dia masih dihantui oleh rasa kepenasaran jago terkait keluarganya, terutama sang ayah. Teman usang Bourne yang membantunya mengumpulkan ingatan, Nicky Parsons (Julia Stiles), memberinya kabar penting usai membobol dokumen-dokumen penting milik CIA yang secara ringkas menyatakan, “well, kau belum sepenuhnya tahu masa lalumu!.” Mengingat keberadaan Nicky telah terlacak dan bagaimanapun juga petinggi CIA, Robert Dewey (Tommy Lee Jones), berambisi meringkus Bourne, maka tidak ada pilihan lain bagi Bourne kecuali melesak lagi ke permukaan demi membongkar diam-diam yang selama ini ditutup-tutupi agensi dari dirinya. Dewey yang menyadari bahwa Bourne bukanlah tangkapan gampang lantas menitahkan seorang pembunuh bayaran berjulukan Asset (Vincent Cassel) untuk menghabisi Bourne meski di waktu bersamaan beliau sejatinya telah mempercayakan kiprah penangkapan Bourne kepada Heather Lee (Alicia Vikander), biro CIA yang mengepalai divisi Cyber, yang motifnya ‘membawa pulang’ Bourne juga patut dipertanyakan. 

Apakah plot di atas terdengar familiar buatmu? Apabila kau telah mengikuti petualangan pencarian jati diri Bourne sedari awal – itu berarti semenjak The Bourne Identity – dan dibentuk terpukau olehnya seraya menahbiskan The Bourne Ultimatum sebagai salah satu film agresi berbasis dunia spionase paling jago yang pernah dibuat, maka materi kupasan seri kelima bertajuk Jason Bourne ini tidak lebih dari sekadar pengulangan: bagaimana Bourne mendapat materi gres mengenai operasi yang dijalankan CIA, kemudian pihak CIA menggebu-nggebu ingin melenyapkan sang protagonis, dan mereka pun menyewa jasus lain untuk memburunya. Tidak ada yang baru. Bahkan set piece pertama film ini yang berlangsung di Yunani, mencakup adegan kejar-kejaran motor menerobos kerusuhan besar, ibarat merekonstruksi adegan pembuka The Bourne Supremacy yang berujung pada maut pasangan hidup Bourne, Marie Kreutz. Tapi bila Jason Bourne ialah pengalaman pertamamu – atau kedua sehabis The Bourne Legacy – apa yang dipaparkan Paul Greengrass bersama Christopher Rouse bisa berdampak ganda; pertama, sedikit memusingkan karena plotnya sangat terkait ke film ketiga dan kedua, memunculkan decak kagum karena ini ialah ‘tiruan’ yang baik. 

Hmmm… decak kagum? Oh ya, dengan melabelinya sebagai tiruan yang baik dari tiga jilid pertama, secara tidak pribadi menyebut Jason Bourne sebagai sajian trend panas berdaya hibur tinggi. Film ini memang miskin orisinalitas – utamanya pada plot yang berputar-putar kolam bianglala – tapi sulit dipungkiri bahwa ketegangannya masih berada di level atas. Melambung tinggi ketimbang seri sebelumnya, malah. Polanya gampang terbaca termasuk ke penyingkapan misteri di ujung, namun berkat kepiawaian Greengrass dalam ber-storytelling, kedinamisan Barry Ackroyd melensakan gambar, serta kecekatan Christopher Rouse menyunting potongan-potongan gambar, kita masih sedikit segan menolaknya apalagi hingga simpulan Juli tahun ini minim film bergenre agresi produksi Hollywood yang mencengkram erat. Toh, dikala kita menyaksikan kejar-kejaran ala kucing tikus antara Bourne dengan pihak CIA yang berlangsung dari Yunani ke Jerman, kemudian Inggris, dan berakhir di Inggris masih tetap mendapati sensasi asyik pula gregetan, to? Dan Jason Bourne juga mempunyai salah satu adegan sabung terbaik sepanjang sejarah film agresi pada klimaksnya dikala sebuah truk SWAT secara membabi buta menghantam belasan (atau malah puluhan?) kendaraan beroda empat di jalanan Las Vegas yang padat. Agak sulit untuk tidak ber-“whoa” “whoa” di titik ini saking serunya, serius. 

Disamping intensitas tinggi yang terjaga cukup stabil, gambaran gahar Jason Bourne terselamatkan pula oleh departemen akting. Well, tidak banyak yang bisa dibahas dari Matt Damon karena beliau sudah ibarat ditakdirkan memerankan Bourne (perbedaan paling mencolok darinya ialah fisik yang tampak lebih kekar) dan Julia Stiles yang sekadar numpang lewat, “permisi, permisi, aku mau memberikan pesan,” namun ada hal menarik dari jajaran pemain pendukung. Bukan Vincent Cassel yang tampak ibarat halnya villain sekunder lain dari franchise ini yang menyiratkan ancaman besar tapi gampang dilupakan maupun Tommy Lee Jones yang membawakan kiprah antagonis satu dimensi dengan daya tarik tidak sekuat Joan Allen sebagai Pamela Landy di tiga film predesesor melainkan aktris penggenggam satu Oscar, Alicia Vikander. Dia ialah alasan lain mengapa Jason Bourne terasa bernyawa. Dia menawarkan percikkan dari interpretasi elok pula misteriusnya kepada sosok Heather Lee. Sepintas, Heather terlihat hanya akan mengisi slot kosong aksara wanita yang ditinggalkan Stiles, Franka Potente, serta Rachel Weisz dengan keberadaannya ditempatkan untuk membantu Bourne – atau malah sebagai love interest. Tapi ternyata, beliau lebih rumit dari asumsi dengan gelagat sulit diterkanya yang mengakibatkan beliau menguarkan aroma berbahaya. Apabila franchise Bourne diputuskan untuk berlanjut, sangat berharap Vikander bersama aksara Heather Lee akan kembali hadir karena beliau ialah ‘pasangan’ tepat bagi Bourne. 
Exceeds Expectations (3,5/5)

Intermezzo : Hal terbaik dari Jason Bourne ialah penjepit rambut Alicia Vikander. Sangat, sangat yakin beliau membelinya dari obralan 10 ribuan sanggup 3.