October 29, 2020

Review : Jeritan Malam


“Pernahkah kalian merinding di suatu tempat, mencicipi kehadiran sesuatu yang sebelumnya kalian percaya hanyalah permainan imajinasi otak insan belaka?”

Sebelum diubahsuaikan ke dalam tontonan layar lebar, Jeritan Malam lebih dulu dikenal sebagai salah satu thread bentukan @morfosis_meta di lembaga Kaskus. Thread yang membungkus satu dongeng menakutkan unggahan si pembuat ini, tanpa dinyana-nyana menjadi buah bibir di kalangan pengunjung dunia maya dan seketika dibukukan. Salah satu alasan paling fundamental yang menciptakan dongeng tersebut sanggup menjaring ketertarikan publik secara cepat yaitu fakta (setidaknya berdasarkan si penulis) bahwa narasi yang diutarakan dalam Jeritan Malam bersumber dari pengalaman nyata. Disamping faktor lain yang meliputi: 1) ceritanya terasa bersahabat dan familiar khususnya bagi masyarakat Jawa di kawasan yang masih kerap bersentuhan dengan kebudayaan atau kesenian yang aroma mistisnya cukup kental, dan 2) ada elemen misteri dibubuhkan melalui kalimat pembuka yang mengakibatkan ambiguitas sehingga pembaca pun mempunyai ketertarikan untuk membaca demi menjawab pertanyaan “benarkah ini semua betul-betul terjadi?.” Oleh versi layar lebarnya yang digarap Rocky Soraya (The Doll, Mata Batin), elemen misteri ini masih menjadi satu cara yang ampuh dalam menarik atensi. Terlebih lagi, ada satu peringatan dibubuhkan berbunyi kurang lebih “jangan lakukan apa yang telah saya lakukan” yang seketika menciptakan diri ini dan mereka yang belum pernah menyentuh bahan sumbernya dilingkupi kepenasaranan. Apa yang bekerjsama telah dilakukan oleh si tokoh utama sampai-sampai ia menyerukan peringatan tersebut kepada penonton?

Sesuai dengan bahan sumbernya, Jeritan Malam melempar kita kembali ke tahun 2007 dan memperkenalkan kita kepada seorang mahasiswa S1 berjulukan Reza (Herjunot Ali). Selepas diwisuda, Reza berniat untuk eksklusif terjun ke dunia kerja demi mengumpulkan modal biar bisa menikahi kekasihnya, Wulan (Cinta Laura Kiehl). Sayangnya, sesudah berbulan-bulan lamanya menganggur dan sesudah berpuluh-puluh surat lamaran dikirimkan, Reza tak kunjung mendapat panggilan kerja. Hingga akhirnya, satu perusahaan berkenan untuk memberinya satu posisi di tempat mereka. Mendengar kabar tersebut, Reza terperinci berbahagia meski Wulan dan kedua orang tuanya (dimainkan oleh Roy Marten bersama D’Ratu) justru merasa cemas. Pasalnya, protagonis kita ini ditempatkan di Banyuwangi yang ribuan kilometer jauhnya dari Bogor. Tidak ada yang tahu apa yang ada di sana, tidak ada yang tahu apa yang tersembunyi di sana. Guna menjamin putra semata wayangnya ini terbebas dari hal-hal tidak diinginkan, sang ayah pun menawarkan kujang sebagai pelindung. Sebuah proteksi yang terpaksa diterima Reza yang sejatinya enggan mempercayai keberadaan dunia gaib. Sesampainya di Banyuwangi, Reza ditempatkan di sebuah mess yang jauh dari pemukiman warga bersama Indra (Winky Wiryawan), Minto (Indra Brasco), dan Pak Dikin (Fuad Idris). Untuk sesaat, mess ini tampak menyerupai tempat tinggal yang nyaman bagi Reza hingga kemudian ketiga teman barunya mengungkap bahwa mereka tidak tinggal sendirian di tempat itu. Ada entitas lain dari alam berbeda yang terkadang menampakkan diri sebagai salah satu penghuni mess.


Didasarkan pada bahan sejenis dengan Keluarga Tak Kasat Mata (2017) yang hasil balasannya tergolong memprihatinkan, saya tentu mulanya skeptis pada Jeritan Malam. Tapi sokongan bujet hingga 20 miliar rupiah (konon, inilah film horor termahal di Indonesia!) dan proses syuting yang berlangsung cukup panjang hingga 54 hari, rupanya memperlihatkan hasil yang sebanding. Jeritan Malam sanggup terhidang sebagai tontonan horor yang cukup memuaskan. Selayaknya film-film lain produksi Soraya Intercine Films, satu hal yang bisa dipuji yaitu production value dalam film ini yang tersusun atas pengambilan gambar, pewarnaan, penyuntingan, tata suara, hingga tata artistik memberi kesan “mahal”. Ada upaya lebih untuk menghindarkannya dari tontonan yang dikerjakan secara serampangan dari sisi teknis, dan itu nampak. Saya pribadi mengapresiasi sektor ini yang untungnya turut disokong oleh kemampuan Rocky Soraya dalam mengkreasi sederet momen seram. Alih-alih bergantung pada jumpscares demi menciptakan penonton terlonjak dari dingklik bioskop, si pembuat film lebih sering mengandalkan atmosfer yang mengusik kenyamanan guna membangkitkan rasa takut. Kita mengendus sisi misterius dari mess yang menyimpan masa kemudian kelam, kita dibikin merinding oleh hutan gelap yang tampak terperinci bukan area yang semestinya dimasuki insan biasa, dan kita pun bergidik tatkala sosok-sosok dari alam seberang menampakkan wujud aslinya. Divisualisasikan dengan tata rias beserta imbas khusus mumpuni, sedikitnya ada dua momen yang menciptakan bulu kuduk saya meremang yakni: 1) penghuni pohon, dan 2) kepala buntung.

Kapabilitas Rocky dalam mengkreasi trik menakut-nakuti ini dibarengi pula dengan guliran pengisahannya yang mesti diakui efektif dalam menambat atensi. Memang betul rangkaian dialognya yang memakai Bahasa Indonesia baku (khususnya ketika Reza berbincang dengan Wulan) terdengar janggal di telinga, dan beberapa adegan terasa repetitif sekaligus berpanjang-panjang seolah ingin mengisi kekosongan durasi menyerupai ketika Reza terbangun pada tengah malam atau penutup yang agak preachy. Namun Jeritan Malam yang naskahnya diolah oleh Ferry Lesmana bersama Donny Dhirgantoro ini setidaknya bisa memancing ketertarikan saya dengan satu pertanyaan: apa bekerjsama yang sedang dihadapi oleh Reza? Ndilalah, penokohan si huruf utama ini pun terbilang menarik. Adanya satu bencana di masa kecil mendorongnya untuk tumbuh sebagai pribadi yang enggan memercayai mistisisme maupun hal-hal gaib. Baginya, semua peristiwa sanggup dijabarkan memakai nalar sehat. Penggunaan voice over yang menarasikan pemikiran-pemikiran Reza turut membantu kita untuk mengenal pribadinya lebih dalam. Dia yaitu sosok yang cukup kompleks, walau kegigihannya dalam menegasikan peristiwa mistis membuatnya terasa menjengkelkan. Bisa jadi, ini ada keterkaitannya dengan interpretasi kurang sempurna dari Herjunot Ali yang acapkali terasa hampa secara emosi. Saya yang memakai kacamatanya untuk memandang setiap adegan, tidak pernah benar-benar mencicipi pergolakan batinnya. Padahal, ia tengah dirundung serentetan pertistiwa mengejutkan yang menggoyahkan persepsi sekaligus egonya sebagai insan modern yang terpelajar.


Syukurlah, Herjunot didampingi oleh Winky Wiryawan dan Indra Brasco yang menghadirkan chemistry meyakinkan sebagai dua teman yang diteror memedi. Keduanya membantu mencairkan suasana di tengah situasi yang mendebarkan, keduanya pun sanggup menciptakan kita peduli kepada mereka berkat pembawaan yang santai nan asyik. Bukankah Reza terbilang beruntung bisa menyebarkan mess dengan Indra dan Minto? Hanya saja, persahabatan mereka sayangnya terjalin di tempat angker yang kian dikacaukan oleh keberadaan Reza. Ketimbang menghormati para penunggu, huruf utama film ini justru memperlihatkan kepongahannya sebagai insan dengan menyepelekan keberadaan para lelembut. Bentuk kesombongan yang berujung pada musibah ini menjadi semacam pengingat sekaligus pesan untuk penonton Jeritan Malam bahwa kita tidak hidup sendirian di muka bumi. Ada hal-hal mistik yang sulit terjelaskan yang sebaiknya tidak kita usik atau pandang rendah alasannya siapa yang tahu apa konsekuensi yang menanti atas tindakan kita.

Exceeds Expectations (3,5/5)