October 24, 2020

Review : Jilbab Traveler: Love Sparks In Korea


“Kamu mencuri mimpi-mimpiku. Tapi saya suka kau yang mencuri mimpi-mimpiku.” 

Surprise, surprise. Siapa menyangka diantara sejumlah rilisan gres film Indonesia di libur Idulfitri tahun ini, Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea bakal tampil paling berpengaruh dan meninggalkan kesan paling dalam? Tentu saja, tidak ada niatan mengucilkan atau meremehkan – bahkan Jilbab Traveler termasuk salah satu yang menarik perhatianku sedari awal berkat faktor Morgan Oey, pembiasaan novel Asma Nadia, dan Korea Selatan – hanya saja mengusut konten yang diusungnya kemudian menyandingkan dengan rilisan lain, agak sulit bersama-sama membayangkan Jilbab Traveler akan hadir begitu menonjol. Nyatanya, tanpa banyak berekspektasi kala menyimak film isyarat Guntur Soeharjanto ini di layar perak, membawa laba tersendiri. Jilbab Traveler tidak semata-mata membuai mata melalui hamparan pemandangan alam Korea Selatan maupun Indonesia yang keelokkannya sungguh menakjubkan, namun turut membuai hati berkat guliran pengisahan yang terhidang hangat, manis pula renyah buat dikudap. 

Jilbab Traveler merupakan julukan yang didapat Rania (Bunga Citra Lestari), seorang penulis berhijab, dari para pembaca setianya sebab hasrat besar Rania dalam menjelajah tempat-tempat gres di muka bumi. Kecintaannya terhadap dunia travelling sendiri menerima pinjaman penuh dari sang ayah (Wawan Wanisar) yang terus mendorong Rania untuk mengejar mimpinya, meski ibunya (Dewi Yull) cenderung menentang sebab keresahannya sebagai seorang ibu senantiasa bergejolak setiap kali Rania melanglang buana. Dorongan dari sang ayah lantas membawa Rania ke Baluran, Jawa Timur, yang menjadi saksi bisu berseminya cinta kedua orang tuanya. Dalam penjelajahannya, Rania berjumpa dengan fotografer asal Korea Selatan, Hyun Geun (Morgan Oey), yang kemudian meminta Rania mendampingi perjalanannya menyaksikan keindahan alam Kawah Ijen. Sebuah keputusan yang harus dibayar mahal oleh Rania karena di ketika bersamaan, sang ayah berpulang. Diliputi kekecewaan, Rania memendam dalam-dalam kegemarannya bepergian. 
Apakah ini berarti tidak akan ada lagi perjalanan-perjalanan berikutnya dalam hidup Rania? Kita semua tentu yakin bahwa sang protagonis tidak akan semudah itu mengorbankan apa yang membuatnya mencicipi kebahagiaan. Rania memang pada mulanya menentukan fokus ke dunia pendidikan selepas Ilhan (Giring Ganesha) menawarinya mengajari ibu-ibu buta huruf, akan tetapi datangnya permintaan untuk menjadi akseptor Writers in Residence di Gangwon, Korea Selatan, menghadapkannya pada dilema; terima atau tolak. Menyadari ada ketidaktenangan dalam diri Rania selepas menjauhi passion-nya, sang ibu melunak dan meminta Rania mendapatkan permintaan tersebut. Perjalanan Rania ke Korea mempertemukannya kembali dengan Hyun Geun yang ternyata selama ini menyimpan rasa. Jauh di lubuk hati, Rania mencicipi getaran sama namun pinangan dari Ilhan yang terang lebih dikenalnya ketimbang Hyun Geun dan fakta bahwa Hyun Geun bersama-sama telah mempunyai tunangan menimbulkan keduanya sulit bersatu. 
Berdasarkan sekelumit paparan dongeng ini, bukankah Jilbab Traveler terdengar tak ubahnya melodrama lainnya dari Asma Nadia ibarat katakanlah, Assalamualaikum Beijing maupun Surga Yang Tak Dirindukan? Well, tidak ada yang salah bersama-sama mengusung tuturan kisah formulaik sebab pada balasannya sanksi menurut kerjasama tim yang memegang peranan penting. Dan Jilbab Traveler, dibalik plot sederhananya terkait kisah cinta segirumit mempunyai sanksi mengesankan. Hampir semua elemen dalam film ini bekerja secara semestinya atau dengan kata lain, solid. Telah terbiasa menangani genre sejenis, Guntur Soeharjanto tampak tangkas kala menerjemahkan goresan pena Alim Sudio – hasil pembiasaan dari karya Asma – sehingga alunan kisah pun mengalir. Mayoritas penonton, nyaris sanggup dipastikan, mengetahui bagaimana problematika asmara Rania akan menjumpai akhirnya. Tapi tetap saja ada keingintahuan besar terhadap proses menuju tercapainya kebahagiaan Rania berkat plot menghanyutkan yang ditingkahi storytelling lancar Guntur, tangkapan gambar penuh presisi dari Enggar Budiono yang menghasilkan panorama menakjubkan, alunan musik dan iringan tembang ‘Aku Bisa Apa’ yang menusuk kalbu, serta bangunan karakter berpengaruh dengan permainan lakon kelas wahid dari jajaran pemainnya. 
Satu hal paling menarik dari Jilbab Traveler adalah, ini merupakan kesempatan emas kita menyaksikan Bunga Citra Lestari, Morgan Oey, dan Giring Ganesha dalam akting terbaik mereka sejauh ini. Terlepas dari kontroversi atas penunjukkan BCL sebagai leading actress karena dalam kehidupan orisinil ia tidak mengenakan hijab, BCL yaitu pilihan sempurna untuk memerankan Rania. Pancaran matanya hidup dan telah berbicara banyak. Kita sanggup mencicipi gejolak emosinya – entah itu semangatnya kala berpetualang atau kekecewaan besarnya ketika menyadari pilihan hidupnya membawa konsekuensi menyakitkan – tanpa perlu diterjemahkan lewat intonasi meninggi, gerak badan berlebihan, dan air muka penuh kesenduan. Beruntung bagi BCL, ia mempunyai lawan main sama tangguhnya. Lewat Jilbab Traveler, Morgan Oey semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain drama muda paling berbakat tanah air ketika ini dengan lakon hebatnya sebagai orang Korea. Coba dengarkan baik-baik aksennya. Seandainya kau tidak mengetahui siapa itu Morgan (atau tak memperhatikan layar ketika ia melafalkan dialog), sanggup jadi kau akan terkecoh dan mengira ia yaitu orang Korea. Yup, he’s THAT good
Dan Giring Ganesha – dalam karir keaktorannya yang kedua selepas Sang Pencerah – mengatakan perkembangan membanggakan. Ilhan, di tangannya, terlihat sedikit rumit yang terkadang menyulitkan kita untuk menentukan perilaku ke karakternya. Di satu sisi, ia tampak ibarat sosok mengayomi dengan segala bentuk pengorbanannya yang menimbulkan ia pasangan harmonis bagi Rania. Tapi di sisi lain, kecemburuannya kepada Hyun Geun menjadikannya sebagai sosok menjengkelkan walau perilaku antagonisnya tersebut masih dalam batasan masuk akal dan sanggup dipahami. Jilbab Traveler juga mempunyai pemain pendukung manis ibarat Ringgo Agus Rahman sebagai Alvin, sahabat Hyun Geun dari Indonesia, yang celetukan-celetukan konyolnya memberi penyegaran sekaligus penyeimbang rasa bagi film serta Dewi Yull yang aura keibuannya bersinar kuat. Kehadirannya memberi keteduhan, rasa hangat, dan tatapannya kepada Rania mengatakan kasih sayang seorang ibu yang sangat besar.

Outstanding (4/5)