October 29, 2020

Review : John Carter

Mission: Impossible – Ghost Protocol, maka tidak halnya dengan Andrew Stanton. Film live action perdananya, John Carter, yakni pembiasaan dari Princess of Mars yang merupakan bab dari novel berseri, Barsoom, karangan Edgar Rice Burroughs yang selama ini Anda kenal sebagai pencipta Tarzan. Berbeda dengan “saudaranya” yang mengalami nasib baik dalam hal adaptasi, John Carter justru terseok-seok. Sempat menjadi proyek yang selalu mengembara dari satu tangan ke tangan lain, dan pada risikonya tercatat sebagai salah satu “development hell” terlama dalam sepanjang sejarah sinema, proyek mendapat lampu hijau sesudah Disney mengakuisisi hak ciptanya. Disuntik dana sebesar $250 juta, Andrew Stanton membidani sebuah proyek yang megah. Belum apa-apa, banyak kalangan mencibir. Disney dinilai terlalu percaya diri mengingat John Carter tidak terlalu dikenal oleh publik di luar Amerika. Dengan dana sebesar itu, dan melihat kondisi ekonomi ketika ini, apa sanggup John Carter balik modal? Pertanyaan yang lebih penting, akankah hasil risikonya semegah yang dibutuhkan oleh para penonton?

Secara garis besar sanggup dituliskan bahwa John Carter berkisah wacana veteran Perang Sipil berjulukan John Carter (Taylor Kitsch) yang ‘terlempar’ ke Mars sesudah berusaha menghindari kejaran suku Indian. Saat sesosok makhluk asing tiba dari planet seberang, rupawan, perkasa, dan bisa terbang, maka tidak ada alasan untuk menyiksanya. Carter yang menjalin korelasi baik dengan makhluk Mars berkulit hijau yang menciptakan saya jijik, Tars Tarkas (Willem Dafoe), dan putri Mars yang aduhai, Dejah Thoris (Lynn Collins), pribadi mengubah statusnya dari tawanan menjadi pendekar dalam waktu sekejap. Misinya, menyelamatkan Mars dari Sab Than (Dominic West), penguasa Zodanga yang kejam yang mengancam akan menyulut peperangan apabila Dejah dari Helium menolak untuk menikahinya. Pertanyaan demi pertanyaan pun mulai mengemuka sesudah Carter menjelajahi Mars. Apakah masyarakat Barsoom (Mars) selain kekurangan air juga kekurangan kain? Kasihan John Carter yang sepanjang film harus rela bertelanjang dada sehingga dituduh sebagai eksibisionis. Dan sebagai sebuah planet dimana teknologi telah jauh berkembang pesat melewati Jarsoom (Bumi), Barsoom enggak banget. Lihat saja cara mereka berperang, masih menggunakan pedang cuy! Yang menciptakan saya tidak habis pikir, mengapa binatang super lamban masih dijadikan alat transportasi? Saya mengerti bila bangsa Tharks menolak untuk terbang, tapi mbok ya bikin alat transportasi darat yang memadai.

Untuk ukuran sebuah film dengan bujet raksasa, pengaruh khusus dari John Carter tergolong kurang bombastis dan telah kita lihat berulang kali di film-film fiksi ilmiah sebelum ini. Tidak ada inovasi. Bandingkan dengan Transformers: Dark of the Moon yang mempunyai beberapa adegan yang mencengangkan. Di beberapa bab pengerjaannya masih tampak berangasan walaupun tampilan Helium dan adegan peperangannya terasa megah, dan 3D-nya pun tak sehebat Hugo. Sekalipun di lini teknis tak sehebat yang diharapkan, Stanton bisa mewujudkan tujuan utama John Carter, yakni menghibur penonton. Ya, saya mengakui bahwa film ini ternyata bisa membawa saya ke beberapa momen menyenangkan dan kepenatan dalam memikirkan beban hidup yang kian menumpuk pun hilang. Bukan yang terbaik dalam hal memuaskan penonton, namun John Carter ternyata tidak seburuk yang diperkirakan. Tentu saja ini belum termasuk dengan sektor naskah. Jika Anda berusaha untuk menilai film ini dari sudut pandang cerita, maka kemungkinan besar Anda akan pribadi putus asa. Naskah yang dikerjakan secara keroyokan oleh Stanton, Mark Andrews, dan Michael Chabon, luar biasa menggelikan. Jika mengutip ucapan yang sering terlontar dari lisan salah satu teman, “film iki abstrak tenan!” Tapi toh bukan ini yang dicari oleh penonton kebanyakan. Keanehan jalan dongeng dari John Carter malah menjadi hiburan tersendiri bagi saya. Memasang ekspektasi yang serendah mungkin terhadap film ini ternyata membawa keuntungan. Apabila Anda ingin bersantai menghabiskan waktu luang di bioskop bersama sahabat atau orang terkasih, maka John Carter yakni pilihan yang tepat. Semrawut, tanpa otak, namun menghibur.


Acceptable

 that something new can come into this world REVIEW : JOHN CARTER