July 12, 2020

Review : Johnny English Strikes Again


“Let’s kick some bottom!” 
Adakah diantara kalian yang merindukan sepak terjang Johnny English? Ada? Tidak? Atau malah tidak tahu siapa abjad ini? Well, kalau kalian belum mengenalnya sama sekali, Johnny English yaitu seorang intel asal Inggris yang tergabung dalam MI7. Jangan bayangkan ia mempunyai karisma kolam James Bond atau kemampuan bertahan hidup menyerupai Jason Bourne, alasannya yaitu karakternya sendiri dibuat sebagai parodi untuk spy movies. Penggambaran paling mendekati yaitu Austin Powers dalam versi sama sekali tidak kompeten nan ceroboh, atau oh, Mr. Bean (jangan bilang kau juga tak mengetahuinya!). Ya, Johnny English tak ubahnya Mr. Bean yang memutuskan untuk menjalani profesi sebagai mata-mata Inggris. Sang intel dideskripsikan sebagai abjad yang payah dalam hal apapun, tapi mempunyai keberuntungan tingkat yang kuasa sehingga pada kesudahannya dunia selalu bisa diselamatkan. Kemiripan diantara keduanya sulit untuk dihindarkan mengingat karakter-karakter ini dimainkan oleh bintang film yang sama, Rowan Atkinson, dengan gaya bercanda yang senada pula. Gaya bercanda khas Rowan Atkinson yang kerap bergantung pada mimik konyol, tingkah absurd, serta fatwa ngasal itulah yang menjadi jualan utama rangkaian seri Johnny English yang sekarang telah membentang sampai tiga instalmen; Johnny English (2003), Johnny English Reborn (2011), dan Johnny English Strikes Again

Dalam Johnny English Strikes Again, sang abjad tituler dikisahkan telah pensiun dari pekerjaannya sebagai intel di MI7 dan sekarang menjalani profesi sebagai guru geografi seraya belakang layar menggembleng muridnya dengan kemampuan dasar seorang agen. Suatu ketika, Johnny yang telah bertahun-tahun tak turun ke lapangan ini mendadak memperoleh panggilan kiprah dari MI7 pasca mereka menerima serangan siber yang mengungkap identitas agen-agen aktif. Johnny, satu-satunya mantan biro yang tersisa dan masih sehat walafiat, pun ditugaskan untuk mengungkap dalang dibalik peretasan tersebut. Ditemani oleh kaki tangan andalannya, Jeremy Bough (Ben Miller), yang sudah membangun rumah tangga bersama seorang kapten kapal selam, mereka pun bertolak ke Prancis untuk menyelidiki kapal pesiar berjulukan Dot Calm yang disinyalir sebagai markas utama sang peretas. Upaya Johnny untuk merampungkan misi, tentu saja, tidak berlangsung lancar-lancar saja karena ia menerima kendala dari seorang wanita misterius berdarah Rusia, Ophelia (Olga Kurylenko), dan seorang pengusaha sukses asal Amerika Serikat yang bergerak di bidang IT, Jason Volta (Jake Lacy). Sosok Jason sendiri tengah didekati oleh Perdana Menteri Inggris (Emma Thompson) yang kelabakan alasannya yaitu peretasan telah merambat ke sektor lain tanpa pernah menyadari bahwa Jason sejatinya menyimpan agenda terselubung dibalik kesediaannya untuk membantu sang Perdana Manteri. 

Meski aku menikmati dua instalmen pertama dalam cap dagang Johnny English, aku bergotong-royong tidak terlalu mengantisipasi munculnya Johnny English Strikes Again karena tak ada lagi yang bisa dieksplorasi dari sisi narasi maupun karakter. Kalaupun dilanjutkan, guliran penceritaannya hanya dipergunakan untuk memberi jalan masuk bagi si intel biar bisa membuat kekacauan yang mengundang tawa. Tidak pernah lebih. Satu-satunya alasan yang melandasi ketertarikan aku untuk tetap merasakan Johnny English Strikes Again isyarat David Kerr (sebelumnya lebih dikenal sebagai sutradara serial televisi Inggris menyerupai No Offence dan Inside No. 9) di layar lebar yaitu kerinduan aku terhadap Mr. Bean yang tak tertahankan – aku butuh episode atau film gres dari Mr. Bean! Dan menyerupai telah disinggung di paragraf pembuka, Johnny English mengatakan candaan senada seirama yang sedikit banyak bisa mengobati rasa rindu tersebut. Saat aku kesudahannya memutuskan untuk menonton film ini, itulah yang aku harapkan. Bernostalgia dan terhibur. Apabila ekspektasi yang kau tanamkan terhadap Johnny English Strikes Again tidak jauh berbeda dengan saya, atau malah sesederhana hanya ingin mencari obat penawar bagi kepenatan yang menerjang pikiran, maka tidak sulit bagimu untuk bisa menikmati tontonan yang mengedepankan guyonan receh ini. Sejauh mana kau bisa menolerir guyonan dan narasinya yang cethek bergantung kepada setinggi apa ekspektasimu dan sebesar apa kesukaanmu terhadap Rowan Atkinson. 
Selama durasi mengalun yang tak mencapai 90 menit, penonton sebatas disodori kekacauan demi kekacauan yang diciptakan oleh mata-mata gadungan ini. Sedari Johnny English mendarat di kantor MI7, ia telah memunculkan tragedi alam yang menyebabkan beberapa biro pensiunan lain batal dikirim, dan tentunya tragedi alam tak disengaja akhir kecerobohannya ini terus muncul silih berganti selama Johnny menjalankan misi. Tak seluruhnya mengundang tawa malah ada pula yang terasa janggal, tapi tak sedikit diantaranya yang membuat aku terkekeh-kekeh cukup lama. Beberapa adegan yang menggoreskan kesan amat baik ini antara lain tatkala Johnny dan Jeremy menyusup ke dalam kapal Dot Calm (humor permainan kata untuk dot com) memakai sepatu magnet, kemudian ketika Johnny yang tak bisa memejamkan mata memutuskan untuk menelan obat tidur eh malah salah ambil sehingga ia pun jejogetan semalam suntuk di lantai dansa, dan dikala ia menjajal virtual reality yang membawanya berkeliaran di jalanan kota London. Melalui ketiga adegan tersebut, beserta beberapa humor kecil lain, Rowan Atkinson sekali lagi menegaskan bahwa ia dikaruniai comic timing yang mengagumkan. Dia yaitu nyawa utama bagi Johnny English Strikes Again yang sejatinya kekurangan nyawa di sektor narasi dan laga ini. Tanpa disokong bintang film yang mempunyai kepekaan ngelaba sekuat Rowan Atkinson, guyonan yang dilontarkan dalam Johnny English Strikes Again sangat mungkin berakhir anyep yang tentu saja bukan menerangkan elok bagi film yang mengandalkan guyonan.

Acceptable (3/5)