October 22, 2020

Review : Joker

“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a comedy.”

Siapa sih yang tidak mengenal Joker? Apabila kau kerap bersentuhan dengan pop culture, huruf satu ini tentu tidak lagi asing. Memiliki perawakan mirip badut dengan kulit serba putih, rambut berwarna hijau menyala, dan bibir yang merah mengkilat, Joker dikenal sebagai supervillain yang menjadi lawan berat bagi pahlawan andalan DC Comics, Batman. Dalam khasanah sinema Hollywood, psikopat dengan selera humor bernada gelap ini telah berulang kali dilakonkan oleh aneka macam aktor. Dari Jack Nicholson yang tampil bengis dalam Batman (1989), kemudian mendiang Heath Ledger yang menghidupkannya kolam penjahat sinting lewat The Dark Knight (2008) dimana ia dianugerahi piala Oscar, hingga Jared Leto yang cenderung komikal melalui Suicide Squad (2016). Menilik bermacam-macam interpretasi yang telah diberikan kepada sang penjahat, dan kesemuanya mesti diakui dimainkan secara gilang gemilang, maka ketika Warner Bros. bersama DC Films berencana untuk mengkreasi sebuah film solo berbentuk origin story baginya, tentu ada satu tanya mengemuka: apa lagi pendekatan yang hendak diambil? Pada mulanya, saya sempat menerka Joker garapan Todd Phillips (Road Trip, trilogi The Hangover) bakal sedikit banyak mirip The Dark Knight. Tapi ternyata, film yang dicanangkan sebagai bab dari DC Dark – pembiasaan eksperimental dengan nada penceritaan lebih gelap – alih-alih DC Extended Universe ini mengambil jalur sama sekali berbeda. Mengenyahkan unsur fantasi yang biasanya menempel erat pada tontonan berbasis komik kepahlawanan, Joker menjejakkan kakinya di ranah realis dimana film lantas mengajak penonton untuk memperbincangkan wacana mental illness dan situasi sosial politik cendekia balig cukup akal ini.

Dalam Joker versi termutakhir, sang huruf tituler ialah seorang badut berjulukan Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang pekerjaan sehari-harinya berkisar pada menghibur belum dewasa di rumah sakit, mempromosikan toko memakai papan penanda di trotoar, serta apapun yang diminta oleh klien. Menjalani pekerjaan serabutan semacam ini terang bukan impian dari Arthur alasannya ialah ia sejatinya bermimpi untuk manggung sebagai seorang stand up comedian. Yang kemudian menghalanginya untuk mewujudkan mimpinya adalah, ia tak mempunyai kepercayaan diri yang mumpuni. Sang ibu yang tinggal bersamanya, Penny (Frances Conroy), menganggap putranya tersebut tak cukup lucu dan Arthur sendiri masih belum menemukan formula yang pas dalam candaannya. Disamping ketiga faktor ini, satu alasan lain yang menciptakan sang huruf utama senantiasa dilingkupi keragu-raguan ialah penyakit kejiwaan yang dideritanya. Arthur mengidap pseudobulbar affect (PBA) yang membuatnya kerap tertawa terbahak-bahak secara mendadak di kala dirinya mengalami kegelisahan atau ketakutan. Lantaran penyakit yang diidapnya, Arthur kerap dipandang sebagai orang abnormal serta mengalami perisakan dari begundal-begundal di Gotham City yang membuatnya mempunyai pandangan negatif terhadap masyarakat. Dia menilai masyarakat yang tumbuh di lingkungan sekitarnya telah mengalami degradasi moral, sementara para kaum elit dipandangnya hanya sanggup membual tanpa pernah berbuat signifikan untuk merubah keadaan. Akibat aneka macam situasi jelek yang terus menghampirinya ini, kondisi kejiwaan Arthur pun semakin tak stabil yang lantas memicunya untuk melaksanakan hal-hal mengerikan yang selama ini hanya menari-nari dalam pikirannya.


Tidak mirip tontonan live action lain yang melibatkan si badut, Joker bukanlah sajian laga yang dipenuhi dengan spektakel gegap gempita di sepanjang durasinya. Phillips yang membesarkan namanya dari genre komedi menentukan untuk melantunkannya secara serius, realistis, serta kelam. Ini bukan soal supervillain berjulukan Joker yang menjalankan aksi-aksi sinting hingga bikin Batman kewalahan dalam menghadapinya, ini lebih ke proses terciptanya seseorang berjulukan Joker yang tak segan-segan bertindak keji. Guna mendedah transformasi sang huruf tituler dari insan biasa yang cenderung tak berdaya menjadi sesosok insan berbahaya yang sanggup menggerakkan massa, Phillips memakai pendekatan studi huruf dalam menarasikan film terbarunya ini. Kita, sebagai penonton, didekatkan kepada Arthur untuk mengobservasinya demi melongok jalan pikirannya, demi mengetahui imbasnya kepada tindakan-tindakannya. Sebuah cara bercerita yang menarik dan ndilalah, Joker memang mempunyai huruf utama yang sangat kuat. Pada awal mula, Arthur tidak ditampakkan sebagai langsung yang tega berbuat apapun demi membela dirinya. Malah, ia terlihat cukup simpatik. Berkenan untuk merawat sang ibu yang sudah berusia senja, berupaya untuk mengejar mimpi yang agak tidak mungkin diwujudkan, berhadapan dengan rekan kerja yang bermuka dua, dan mengalami bullying dari orang-orang di sekelilingnya yang menganggapnya sebagai banyolan belaka. Diperankan secara luar biasa oleh Joaquin Phoenix yang rela menurunkan bobot tubuhnya hingga 24 kg, tidak mungkin bagi penonton untuk tak menaruh rasa iba kepadanya. Lebih-lebih, Arthur juga masih harus berjuang dalam menghadapi penyakit kejiwaannya yang kerap berulah tanpa pernah pandang waktu maupun tempat. Penyakit kejiwaan yang semakin mengganas ketika stress berat dan rasa sakit akhir penolakan, penghinaan, serta pengabaian bercampur menjadi satu.


Disokong musik menghantui gubahan Hildur Gudnadottir dan tangkapan kamera dari Lawrence Sher yang mengandalkan dampak bokeh untuk menonjolkan kesendirian Arthur, Joker mengondisikan penontonnya untuk senantiasa berada dalam perasaan tak nyaman. Entah itu alasannya ialah menyaksikan Arthur yang terus menderita alasannya ialah masyarakat memperlihatkan penolakan secara terang-terangan kepadanya, atau alasannya ialah melihat kondisi Gotham City yang carut marut (seperti negara ini). Ya, selain menyuarakan komentar sosial menyentil terkait perlakuan publik yang nihil tenggang rasa kepada penyandang mental illness, film berlatar tahun 1981 ini juga menggelontorkan potret relevan mengenai situasi dunia yang semakin tidak kondusif. Ada kontradiksi kelas antara kaum elit dengan rakyat kecil, lunturnya rasa aman dalam ruang publik dimana pemerkosaan jamak terjadi, media yang gencar melaksanakan framing, kepemilikan senjata yang kelewat leluasa, hingga pemujaan berlebih terhadap suatu tokoh yang dinilai mewakili gerakan anarki. Itulah mengapa, kalau kau mengidap anxiety, depresi, atau mood sedang kacau, ada baiknya menghindari Joker. Apabila benar-benar ingin menyaksikannya, sangat disarankan untuk mencari pendamping dari keluarga atau mitra baik alasannya ialah sungguh, ada dampak psikologis yang sanggup ditimbulkannya. Beberapa orang mengalami pusing, serangan kecemasan, dan saya pribadi, uring-uringan. Rentetan adegan yang disodorkan oleh Phillips didominasi oleh aura pesimistis mengikuti pandangan Arthur kepada sekeliling yang acapkali negatif, kemudian adegan kekerasan yang dimunculkannya pun tanpa tedeng aling-aling. Begitu sadis dengan daya sentak di level maksimal sampai-sampai saya menentukan untuk mengalihkan pandangan sejenak dari layar guna mengatur nafas sekaligus emosi. Phew.

Mengedepankan nada pengisahan yang depresif, Joker yang sedikit banyak mengingatkan pada Taxi Driver (1976) ini memang tidak gampang untuk dikunyah. Selama durasi mengalun, kita menyaksikan pergulatan seorang anak insan dalam menemukan kebahagiaannya. Arthur jatuh, kemudian mencoba untuk bangun hanya untuk tersungkur lebih dalam. Penokohan beserta akting Phoenix yang membumi – well, kita sanggup menemui sosok mirip ia di sekitar kita – memungkinkan bagi penonton untuk bersimpati yang lambat laun berganti menjadi rasa ngeri tatkala Arthur menemukan jalan keluar bagi kesengsaraannya: balas dendam. Sedari sang tokoh utama menentukan untuk membela dirinya sendiri dengan cara ekstrim, perasaan duka yang menguasai diri sedari awal pun berganti menjadi kegelisahan. Gelisah dalam menanti apa yang mungkin dilakukan oleh Arthur dalam persona barunya karena ia telah berada pada posisi nothing to lose. Pada titik ini, Phillips seolah ingin berujar, “Joker ialah produk dari kekerasan, ketidakadilan, serta pengabaian sosial.” Alih-alih meminta penonton untuk memafhumi tindakan dan pilihan hidupnya, si pembuat film justru ingin menawarkan citra riil mengenai faktor yang melatarbelakangi terbentuknya seorang kriminal. Ada kompleksitas disana, tak seketika terbentuk tanpa alasan jelas. Ini sanggup kita anggap sebagai sebuah informasi, tetapi juga sebagai sebuah pengingat. Agar kita lebih peka kepada sesama, biar kita memerlakukan insan selayaknya manusia, dan biar kita menyadari bahwa mental illness ialah suatu kondisi yang sepatutnya ditangani secara serius. Bagus!  

Outstanding (4/5)