July 4, 2020

Review : Jomblo (2017)


“Waktu sanggup menghapus luka di hati, tapi kenangan bagus akan selalu membekas di hati.” 

Jomblo garapan Hanung Bramantyo yang didasarkan pada novel laku berjudul sama rekaan Adhitya Mulya dan dirilis pada tahun 2006 silam merupakan salah satu film Indonesia terbaik yang pernah dibuat. Tiga elemen utama penyusun film yang terdiri atas komedi, romansa, dan persahabatan bisa berpadu dengan sangat baik pula mulus. Siapapun yang pernah mengalami fase dibentuk kesengsem oleh lawan jenis, kemudian jatuh berdiri dalam memperjuangkan cinta, ditolak seseorang yang telah usang didambakan, serta menjalin kekerabatan bersahabat bersama kawan-kawan yang setia mendampingi di kala susah dan senang, akan gampang untuk terhubung ke jalinan pengisahan yang digulirkan oleh Jomblo. Ditambah lagi, Jomblo versi 2006 mempunyai empat pelakon inti dengan chemistry ciamik; Ringgo Agus Rahman (dalam film perdananya), Christian Sugiono, Dennis Adhiswara, dan Rizky Hanggono, yang sanggup meyakinkan penonton bahwa mereka memang bersahabat dekat satu sama lain. Bisa dibilang nyaris tepat di banyak sekali lini – film pun bisa mempermainkan emosi penonton sedemikian rupa – maka agak mengherankan tatkala Falcon Pictures tetapkan untuk menginterpretasi kembali goresan pena Adhitya Mulya ke format film layar lebar hanya dalam rentang waktu satu dekade saja. Maksud saya, bukankah seorang bijak pernah berujar, “if it ain’t broke, don’t fix it”

Dalam Jomblo versi 2017, tidak ada perubahan berarti pada konfigurasi abjad utama. Keempat sahabat yang menggulirkan roda penceritaan masihlah Agus (Ge Pamungkas), Bimo (Arie Kriting), Olip (Deva Mahenra), dan Doni (Richard Kyle). Persahabatan empat mahasiswa di Universitas B ini dipertautkan oleh kesamaan nasib yaitu sama-sama menyandang status sebagai jomblo meski dengan alasan berbeda-beda. Agus cenderung pemilih alasannya mencari wanita yang sanggup diajaknya membina rumah tangga ideal, kemudian Bimo kerap mengalami penolakan dari wanita yang ditaksirnya, kemudian Olip tidak mempunyai keberanian dalam menyatakan perasaannya kepada Asri (Aurellie Moeremans) yang telah membuatnya jatuh cinta sedari tahun pertama, sementara Doni yang mempunyai ketampanan paripurna justru enggan untuk berkomitmen dan hanya memanfaatkan para wanita demi memenuhi hasratnya semata. Persahabatan diantara empat jomblo-jomblo senang ini (jojoba) mulanya baik-baik saja hingga kemudian kehadiran sosok Rita (Natasha Rizky), Lani (Indah Permatasari), serta Asri di tengah-tengah kehidupan mereka mulai mengacaukan segalanya. Hubungan pertemanan yang telah dipupuk dengan baik selama bertahun-tahun terancam bubar jalan begitu saja tanggapan problem asmara.

Sulit untuk tidak membanding-bandingkan Jomblo versi anyar yang tetap ditangani oleh Hanung Bramantyo ini dengan versi terdahulu mengingat rilisan 2006 mempunyai kualitas penggarapan diatas rata-rata dan setiap adegannya pun masih menempel erat di ingatan hingga sekarang. Satu pertanyaan kemudian terlontar, “mungkinkah si pembuat film bisa melampaui pencapaian dari rilisan sebelumnya?.” Pertanyaan tersebut coba dijawab oleh Hanung dengan menghadirkan warna berbeda ke versi 2017. Jika versi 2006 cenderung lebih kalem dalam bertutur dan banyak memberi ruang pada kisah persahabatannya, maka sekali ini aspek komedi lebih ditekankan dengan ritme penceritaan yang cenderung upbeat mengikuti barisan lagu beraliran EDM yang mengiringinya. Disamping itu, Agus yang masih bertindak selaku narator turut kebagian jatah tampil lebih banyak dari sebelumnya dengan pertimbangan kisah percintaan njelimetnya bersama Rita dan Lani mempunyai potensi terbesar dalam memicu tawa sekaligus gampang bagi generasi muda kini untuk terhubung kepadanya. Imbas dari keputusan ini, konflik asmara yang dihadapi Bimo-Olip-Doni tidak pernah tergali secara mendalam dan plot mengenai persahabatan empat sekawan jojoba yang sejatinya merupakan kekuatan utama dari Jomblo terpaksa dikesampingkan. Dari sini saja sudah terjawab bahwa Jomblo versi 2017 tidak lebih baik ketimbang versi terdahulu.

Kalau ditanya menghibur atau tidak, Jomblo masihlah cukup menghibur. Beberapa kali diri ini dibentuk tertawa melihat kekerabatan Agus dengan Rita yang tidak sesuai ekspektasi, walau saya sendiri merasa cukup terganggu karena peralihan nada kekerabatan dua sejoli ini terlampau cepat serta ujug-ujug. Adegan Rita marah-marah kepada Agus di kafe alasannya sang kekasih tidak berhasil memberi jawaban memuaskan tentang proporsi tubuhnya itu terasa sangat dipaksakan. Setidaknya dalam versi terdahulu, saya bisa mengetahui darimana munculnya pertanyaan jebakan tersebut dan perilaku Rita yang sangat menyebalkan. Bertahap, tidak sekonyong-konyong terlontar. Jomblo versi anyar ini terasa kurang halus dalam melantunkan penceritaannya, terkadang terburu-buru terkadang berlarut-larut, yang menimbulkan sejumlah konflik tidak mempunyai impak benar-benar berpengaruh dan barisan leluconnya pun mirip kumpulan sketsa. Alhasil, sekalipun Jomblo masih sanggup memancing tawa di beberapa bagiannya, film cukup mengalami kesulitan dalam menggoreskan kesan di hati karena minimnya emosi yang berhasil diinjeksikan ke dalam penceritaan. Disamping pengarahan dan naskah, faktor lain yang menimbulkan Jomblo terasa cuek ialah jajaran pemainnya. 

Ge, Arie, serta Deva bermain baik ketika berlakon secara terpisah, tetapi ketika disatukan, chemistry-nya mengawang-awang di udara. Saya bisa meyakini bahwa mereka ialah sobat sekampus yang mempunyai kekerabatan baik, tetapi saya tidak bisa meyakini bahwa mereka ialah sobat sekampus yang mempunyai ikatan persahabatan sangat erat. Itulah mengapa ketika muncul pertengkaran besar yang berpotensi memecah belah keempatnya, saya tidak bisa mencicipi apapun. Berlalu begitu saja.

Acceptable (2,5/5)