October 19, 2020

Review : Jurassic World


“Monster is a relative term. To a canary, a cat is a monster. We’re just used to being the cat.” 

Apakah kau masih ingat bagaimana perasaan yang muncul dikala menyaksikan Jurassic Park garapan Steven Spielberg untuk pertama kalinya? Apabila sajian ini kau tonton di periode 1990’an – tak peduli melalui medium bioskop atau televisi – hampir bisa dipastikan terperangah dengan ‘rahang terjatuh ke lantai’ yaitu pendeskripsian paling tepat. Sulit untuk menampik, pengaruh khusus yang dipergunakan dalam memvisualisasikan dinosaurus pada Jurassic Park terbilang luar biasa (tentu, berdasarkan ukuran kala itu). Spielberg bisa menciptakan kita berdecak kagum, selain meneteskan keringat cuek karena injeksi serum ketegangan pada film yang tidak main-main, yang menyebabkan film tersebut sebagai salah satu blockbuster movie terbaik yang pernah dibentuk oleh Hollywood. Lalu, mengharapkan kesuksesan serupa dengan suntikan dana lebih tinggi, Universal Pictures luncurkan The Lost World dan Jurassic Park III yang, well, tak sehebat sang pionir. Mengendurnya kualitas jilid ketiga seketika mematikan franchise laku ini (atau setidaknya itu yang kita kira) hingga diputuskan untuk dihidupkan kembali 14 tahun kemudian dengan upgrade sana sini berwujud Jurassic World

Ditinjau dari penceritaan, sejatinya minim pembaharuan yang bisa kau jumpai di Jurassic World. Secara garis besar, apa yang hendak dicelotehkan oleh Colin Trevorrow masih seputar “arogansi berlebih insan membawa petaka.” Ya, meski taman rekreasi Jurassic World di Isla Nublar yang telah dibuka untuk umum telah mendatangkan dollar berlimpah ruah bagi InGen, tapi pihak korporasi dan investor mengharapkan lebih. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke taman bertema prehistorik ini tiap tahunnya, mereka pun mengkreasi spesies dinosaurus baru, Indominus Rex, dengan genetika dicomot dari bermacam-macam binatang yang digadang-gadang lebih beringas dari sekumpulan dinosaurus dalam katalog Jurassic World. Tapi tentu saja, rencana untuk menyebabkan si binatang buas nan cerdas ini sebagai komoditas utama harus dibayar mahal dikala Indominus Rex melepaskan diri dari kandangnya dan secara membabi buta menelan siapapun yang menghalangi langkahnya. Tak ingin korban terus menerus berjatuhan, sekaligus menyelamatkan sang keponakan yang tersesat entah kemana, manajer operasional taman, Claire (Bryce Dallas Howard) pun terjun ke lapangan dengan derma Owen (Chris Pratt), salah satu pekerja di taman yang melatih kawanan Raptor. 

Jika kau termasuk satu dari sekian juta penggemar berat Jurassic Park yang ketar ketir terhadap penanganan Trevorrow film kelanjutan ini, silahkan bernafas lega. Jangankan kita, Spielberg maupun mendiang Michael Crichton – sang pelopor wangsit – bakal menyunggingkan senyum penuh pujian menyidik perlakuan penuh penghormatan dari sutradara pembesut Safety Not Guaranteed ini kepada si franchise. Atmosfir (dan semangat) serupa dari instalmen pertama sanggup kau rasakan di sini, begitu pula dengan setumpuk tumpuan yang pastinya akan menciptakan para pecinta trilogi sebelumnya berjingkat gembira. Trevorrow terperinci telah menghasilkan sebuah homage yang sempurna. Akan tetapi, apakah itu berarti Jurassic World hanya akan ‘mengetuk hati’ mereka yang pernah mencicipi hype dari seri pembuka pada 20 tahun silam? Silahkan (sekali lagi) hembuskan nafas kelegaan karena, well… tidak. Sekalipun penonton belum pernah berkenalan dengan franchise ini, kesenangan masih sanggup dicicipi. Jurassic World tak ubahnya taman rekreasi yang di dalamnya dipenuhi wahana permainan mengasyikkan, menegangkan, sekaligus menghibur. Gairah dari para newbie mungkin tidak akan eksklusif memanas dikala pertama kali menjejakkan kaki di taman – menyerupai halnya dialami salah satu tokoh – tapi begitu mencicipi nikmatnya atraksi yang ditawarkan, bisa jadi kau enggan meninggalkan taman ini. Berkunjung sekali ke Jurassic World juga tidak akan terasa cukup. 

Betapa tidak, kunjungan ke Jurassic World memberi cinematic experience yang sungguh mengesankan. Laju pengisahan memang tak eksklusif menukik malah cenderung slowburn, menit-menit awal film berfungsi sebagai ‘tour guide’ yang memberi penonton citra soal taman kepunyaan Trevorrow. Terima kasih banyak kepada teknologi, mimpi besar John Hammond, sang penggagas taman wisata dinosaurus, sanggup diejawantahkan secara bagus ke dalam bahasa gambar. Bangunan dari Jurassic World lengkap beserta isinya berupa fasilitas, wahana, serta dinosaurus, tentunya, sanggup memunculkan kesan ‘wow!’ yang lantas menciptakan Disneyland tampak terlihat menyerupai pasar malam. Seusai berjalan-jalan santai kesana kemari seraya mengagumi visualisasi dinosaurus anyar yang lebih besar, lebih seram, dan lebih bergigi (maaf, Indominus Rex, tapi Mosasaurus lah yang membuatku terkesima), penonton memasuki atraksi utama yang ditandai oleh ketegangan mengalami eskalasi. Terhitung sedari si dinosaurus antagonis tetapkan jalan-jalan mencari udara segar, aroma teror semerbak terasa. Ketenangan melenakan di babak awal berangsur-angsur menjelma nuansa mencekam. Kamu yang mendambakan ketegangan selayaknya diumbar di film pertama, berbahagialah. Permainan kucing-kucingan dengan Indominus Rex memberi sensasi menghela nafas panjang, deg-degan, hingga gregetan. Mengingat adanya ekspansi skala disana sini, maka jumlah korban yang dicaplok si dinosaurus tidak lagi satu dua… melainkan puluhan (bahkan mungkin ratusan)! 
Dan inilah letak keasyikan dari menyaksikan Jurassic World. Naskah yang tak lagi inovatif atau memberi kedalaman (well, ini problematika utama franchise ini), sanggup diampuni berkat kecakapan si pembuat film dalam menggeber ketegangan ke titik maksimal sampai-sampai dingklik bioskop pun dicengkram erat-erat. Kita berhasil dibawa larut ke dalam petualangan mendebarkan menjelajahi Jurassic World seraya menghindari kejaran Indominus Rex maupun pertempuran final hidup antar dinosaurus ditemani oleh duo huruf utama yang begitu gampang untuk dicintai. Bryce Dallas Howard bertransformasi tepat dari tante workaholic menyebalkan menjadi badass heroine (hey, jangan pernah meremehkan wanita yang sanggup berlarian di medan berat menggunakan high heels!) dan Chris Pratt membawakan kiprahnya sebagai sang jagoan yang sedikit angkuh secara menawan. Jurassic World tidak saja mengingatkan pada jilid pertama dari franchise tetapi juga summer blockbuster di periode 1990’an yang menomorsatukan ketegangan serta kesenangan. Walau memang pada risikonya Trevorrow tidak bisa mengungguli pencapaian Spielberg di Jurassic Park, tetapi ia terperinci telah mengembalikan nama baik franchise ini dengan melampaui pencapaian The Lost World dan Jurassic Park III. Jurassic World, terperinci salah satu summer movie tahun ini yang sebaiknya tidak kau lewatkan begitu saja kehadirannya. Rasakan cinematic experience yang ditawarkannya!

Outstanding