October 21, 2020

Review : Kartini


“Tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.” 

Kartini garapan Hanung Bramantyo bukanlah kali pertama bagi kisah hero nasional asal Jepara, Raden Adjeng Kartini, dalam memperjuangkan kesetaraan hak untuk para wanita pribumi diboyong ke layar perak. Sebelumnya, sutradara legendaris tanah air, Sjumandjaja sudah menguliknya terlebih dahulu melalui R.A. Kartini (1982), dan Azhar Kinoi Lubis dibawah bendera MNC Pictures sempat pula memadupadankannya dengan tuturan fiktif lewat Surat Cinta Untuk Kartini (2016). Telah mendapatkan dua citra berbeda, sedikit banyak menciptakan kita bertanya-tanya, apa yang lantas hendak dikedepankan oleh Hanung Bramantyo di versi terbaru Kartini? Ketertarikan untuk mengetahui interpretasi Hanung Bramantyo terhadap sang pejuang emansipasi wanita inilah salah satu yang melandasi harapan untuk menyimak Kartini. Alasan lainnya, barisan pemain ansambel yang direkrutnya. Bukankah amat menarik hati kala pelakon-pelakon papan atas tanah air menyerupai Dian Sastrowardoyo, Acha Septriasa, Christine Hakim, Ayushita Nugraha, Deddy Sutomo, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, serta Reza Rahadian berkolaborasi dalam satu film? Terlebih rekam jejak sang sutradara yang dikenal piawai mengarahkan pemain-pemainnya, Kartini terang tampak menjanjikan. Dan memang, di tangan seorang Hanung Bramantyo, Kartini berubah menjadi sebagai sebuah film biopik yang menghibur, emosional, sekaligus memiliki cita rasa megah. 

Dalam memberikan tuturannya, Kartini mengunduh rujukan utama dari “Panggil Aku Kartini Saja” buah karya Pramoedya Ananta Toer, buku kumpulan surat “Habis Gelap Terbitlah Terang” milik Armijn Pane, serta catatan Tempo bertajuk “Gelap Terang Hidup Kartini”. Periode yang dicuplik berada di satu dasawarsa terakhir sebelum Kartini (Dian Sastrowardoyo) tutup usia pada tahun 1904, atau dengan kata lain, sehabis pemilik nama kecil Srintil ini cukup usia untuk dipingit. Menurut tradisi Jawa kuno, wanita yang berada dalam fase dipingit, harus berdiam diri di dalam rumah hingga seorang laki-laki tiba untuk mengajaknya melangkah ke pelaminan. Guna menghabiskan waktunya, Kartini kerap menenggelamkan diri ke buku-buku serta majalah-majalah keluaran Belanda atau bermain-main bersama kedua adiknya, Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita Nugraha). Tidak menyerupai wanita sebaya lainnya, ketiga bersaudari ini memiliki fatwa berbeda mengenai ijab kabul dan longgarnya batasan yang diberlakukan oleh sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Sutomo), memungkinkan mereka berkawan erat dengan keluarga Belanda yang mengagumi goresan pena Kartini, kemudian mendirikan sekolah untuk masyarakat kurang mampu, sekaligus membantu meningkatkan taraf hidup para pengrajin goresan di Jepara. 

Menerjemahkan kisah usaha Raden Adjeng Kartini ke bahasa gambar bahwasanya bukan kasus mudah. Malah cenderung beresiko tinggi. Betapa tidak, Kartini tiada pernah bersinggungan dengan peristiwa-peristiwa akbar yang memiliki tingkat kegentingan tinggi dan cenderung lebih dikenang atas pertolongan pemikiran-pemikirannya mengenai kedudukan wanita yang melampaui zaman. Dengan latar penceritaan yang juga terbatas, Kartini lebih berpeluang untuk terjerembab sebagai film biopik sejarah menjemukan ketimbang menyenangkan. Dua film terdahulu mengenai sang hero yaitu bukti konkritnya. Sempat was-was versi anyar ini akan bernasib serupa mengingat perpaduan Hanung dengan film biopik acapkali kurang menyatu (mohon maaf, Sang Pencerah dan Soekarno kesulitan mengetuk sanubari ini), alangkah terkejutnya diri ini tatkala mendapati bahwa Hanung Bramantyo sanggup mempresentasikan Kartini sebagai tontonan yang menghibur. Tunggu, tunggu dulu… menghibur? Betul. Hanung dan Bagus Bramanti yang merancang skrip agaknya memahami, garis dramatik dalam kehidupan Kartini seringkali berada di posisi horizontal. Apabila melulu dilantunkan serius, penonton sanggup tergeletak kebosanan di dalam bioskop. Maka dari itu, setidaknya di paruh awal, si pembuat film secara pintar menyelipkan cukup banyak kelakar sehingga menciptakan film terasa ringan untuk diikuti.

Berbeda dengan film dari genre seragam yang kerap memanfaatkan aksara sampingan sebagai comic relief, Kartini berani melibatkan sang aksara tituler untuk berpartisipasi dalam mengundang derai tawa penonton. Ini dimungkinkan karena Kartini tidak diglorifikasi sebagai wanita Jawa cerdas yang anggun pula santun. Dalam interpretasi Hanung, sosoknya dimanusiawikan yang tampak dari lakunya yang tomboi, keisengannya, serta keengganannya untuk melulu sendiko dawuh (baca: tunduk patuh) utamanya kala bertentangan dengan apa yang diyakininya. Akibat tindakan sesuka hatinya, seorang pelayan di rumahnya bahkan beberapa kali kena semprot dan adegan ini ditampilkan memakai sentuhan komedi. Tawa canda lain di film mencuat pula dari interaksi lekat antara Kartini dengan kedua adiknya yang turut membantu sang abang memperjuangkan kesetaraan bagi wanita pribumi dan rakyat kecil. Tidak semata-mata bergantung pada elemen komedik, imajinasi sang sutradara beserta visualisasi manis hasil bidikan gambar dari Faozan Rizal yang berpadu mulus bersama kostum indah, iringan musik melodius, dan tata artistik ciamik turut membantu hadirkan ‘gelombang rasa’ di separuh awal. Ciptakan pula sensasi megah. Dalam kaitannya dengan imajinasi, terlihat melalui adegan kala Kartini tengah membaca buku maupun surat. Ketimbang sekadar menarasikan isi bacaan, Kartini ditampakkan tukar obrolan bersama sang penulis. Terkadang berlatar sekitar pendapa, belakangan mulai melemparkan Kartini jauh ke negeri Belanda – sesuai asal surat korespondensi yang diterimanya. 

Seiring menanjaknya konflik yang ditandai oleh kepasrahan Kardinah mendapatkan dirinya ditaklukkan susila yang kokoh membelenggu budayanya, nada penceritaan Kartini yang semula mengalun ringan perlahan bertransisi ke ranah dramatik berintensitas cukup tinggi yang sanggup menghadirkan momen-momen emosional. Kecermatan tim kasting menunjuk pelakon dan kepiawaian Hanung arahkan pemain kian memberikan kesudahannya pada titik ini. Dian Sastrowardoyo bermain apik sebagai Kartini dengan karismanya yang menguar kuat. Kita bisa pula mencicipi kontradiksi batinnya antara menentukan mendapatkan realita atau mempertahankan idealisme. Karakter-karakter pendukukung di sekelilingnya yang berkontribusi mengenalkan penonton pada sosok Kartini lewat beberapa sudut pandang, dimainkan secara solid oleh barisan pemain ansambel. Acha Septriasa dan Ayushita Nugraha yaitu pasangan yang klop bagi Dian, Deddy Sutomo pancarkan budi seorang ayah sekaligus Bupati, Djenar Maesa Ayu tunjukkan kegetiran mendalam dari seorang istri muda yang luka dari masa kemudian belum kunjung pulih, Denny Sumargo yang memerankan abang tertua Kartini berikan performa terbaik sepanjang karir keaktorannya, Reza Rahadian tunjukkan kelasnya dengan memberi effort lebih sekalipun kiprahnya terhitung amat kecil, dan Christine Hakim yaitu bintang sesungguhnya dari film ini. Air mukanya siratkan bermacam-macam rasa. Akumulasi emosinya di puncak durasi amat mengena di relung hati yang turut membantu Kartini dapatkan sebuah epilog sempurna. Wuapik!

Outstanding (4/5)