October 29, 2020

Review : Kim Ji-Young Born 1982


“Mengapa kau berusaha sangat keras untuk melukai hati orang lain?”

Kim Ji-young Born 1982 yakni film yang sederhana. Jalinan pengisahannya tak berbelit-belit, dan cakupan skalanya pun kecil saja. Sebatas berkisar pada keseharian dari seorang ibu rumah tangga di Korea Selatan. Akan tetapi, film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Kim Do-young yang lebih dulu dikenal sebagai aktris ini merupakan sajian penting yang tidak sanggup dipandang sebelah mata. Satu alasan utamanya, topik berani yang dikedepankannya. Lebih dari sekadar slice of life, Kim Ji-young Born 1982 yang didasarkan pada novel berjudul sama rekaan Cho Nam-ju mengusung pembicaraan perihal racun patriarki yang terhitung jarang disinggung secara terang-terangan oleh film dari Negeri Ginseng. Apa pasal? Well, dibalik gemerlap industri hiburan yang dipancarkan melalui Korean Wave, ada setumpuk dongeng kelam yang merambat di setiap sudut Korea Selatan. Budaya patriarki masih berdiri tegak dan sebagian besar publik menentukan untuk menutup mata atas efek merusak yang dimunculkannya. Pertanda bahwa ada pihak-pihak yang masih belum siap (atau justru enggan?) untuk mendiskusikan warta mengenai kesetaraan gender secara terbuka telah nampak sedari versi novelnya belum diejawantahkan ke dalam bahasa gambar. Personil band wanita Red Velvet, Irene, mendapatkan kecaman sangat keras usai dirinya menyatakan telah membaca novel ini. Tidak tanggung-tanggung, ada agresi pembakaran foto Irene oleh mereka yang tidak menyetujui pilihan Irene, khususnya dari kalangan penggemar laki-laki. Sungguh ekstrim, bukan?

Saking dahsyatnya kontroversi yang melingkungi Kim Ji-young Born 1982, satu tanya pun tercetus. Bagaimana sejatinya narasi yang disodorkan olehnya? Pada dasarnya, film ini hanya merekam keseharian dari Kim Ji-young (Jung Yu-mi) sesudah beliau memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan menentukan mendedikasikan waktunya untuk mengurus rumah tangga. Sepintas lalu, kehidupan yang dijalani oleh Kim Ji-young tampak baik-baik saja, toh beliau mempunyai seorang suami, Jung Dae-hyun (Gong Yoo), yang senantiasa mendukungnya. Tapi pandangan penonton akan seketika berubah ketika menyaksikan bagaimana orang-orang di sekitarnya memperlakukannya, dan bagaimana masa lalunya dihiasi oleh syok sekaligus tekanan. Kim Ji-young tidak pernah sanggup menjalani hidupnya tanpa disertai komentar-komentar menyakitkan yang menciptakan posisinya terasa serba salah. Di mata sang mertua, beliau tidak cukup cakap menjalankan tugasnya dalam menangani ibu rumah tangga yang secara otomatis merendahkan posisinya sebagai seorang perempuan. Sementara di mata orang-orang yang tak mengenalnya, pekerjaannya dipandang tanpa arti karena beliau tidak menghasilkan apapun dan justru dianggap hanya menghambur-hamburkan honor suami. Memperoleh tekanan sosial semacam ini – terlebih lagi Kim Ji-young pun tak mempunyai kesempatan untuk memanjakan diri – secara perlahan tapi niscaya menciptakan protagonis kita tersebut mengalami depresi. Tak jarang, beliau ‘berubah’ menjadi orang lain ketika berbicara dengan keluarganya tanpa pernah sekalipun menyadari apa yang telah dilakukannya.


Terdengar sederhana, bukan? Memang begitulah Kim Ji-young Born 1982 mengedepankan narasinya. Jauh dari kata njelimet dan pribadi tepat sasaran. Sebuah pendekatan yang terperinci diharapkan untuk masyarakat yang menentukan menutup mata serta indera pendengaran mengenai keadaan sosial di sekitarnya. Sindiran halus bukan lagi pilihan untuk menyadarkan mereka yang telah kehilangan empati, melainkan tamparan keras-keras di muka. Tidak mengherankan bila kemudian ada beberapa pihak yang merasa tersinggung dengan keberadaan film ini (maupun versi novelnya) karena Kim Ji-young Born 1982 mengupas soal realita budaya patriarki di Korea Selatan tanpa tedeng aling-aling. Kita mendengar bagaimana wanita dituntut untuk senantiasa bersikap lemah lembut, kita melihat bagaimana wanita dituntut untuk menjadi ibu rumah tangga yang tepat sekaligus patuh pada suami, dan kita juga menyaksikan bagaimana wanita diperlakukan semena-mena di dunia kerja maupun lingkungan sosial. Para pelakunya tentu saja kaum pria, meski tidak sedikit diantaranya yakni wanita yang sudah kedarung menganggap budaya ini sebagai sesuatu yang lazim. Kim Ji-young menerima perlakuan tersebut sedari dirinya masih belia, temasuk perlakuan traumatis dimana beliau mengalami pemerkosaan di bis sepulangnya dari sekolah. Yang kemudian menciptakan dada ini terasa sesak, protagonis kita ini tidak pernah mendapatkan keadilan dan justru dipersalahkan oleh sang ayah. Bentuk perlakuan yang sejatinya lumrah pula dijumpai di Indonesia (dan belahan dunia lain) sehingga sedikit banyak memudahkan kita untuk terkoneksi dengan apa yang dialami sang protagonis.

Terlebih lagi, penulisan karakternya pun membumi. Kim Ji-young yakni representasi dari para wanita kebanyakan yang tak berdaya dirongrong patriarki. Ketimbang memberi perlawanan menyerupai mantan atasan yang dikaguminya atau sang adik yang memutuskan untuk tetap melajang, beliau justru menentukan untuk membisu dan “nerimo”. Menganggap semuanya akan baik-baik saja apabila bersedia mengikuti hukum sosial. Tapi benarkah demikian? Kenyataannya, si aksara tituler justru terjangkit depresi akhir kebiasaan menekan emosi-emosinya. Perlahan tapi pasti, beliau kerap meracau memakai sudut pandang orang lain yang seketika membingungkan keluarganya. Menggunakan nada penceritaan yang damai namun depresif, Kim Do-young mengondisikan penonton untuk menyelami pikiran-pikiran beserta pandangan-pandangan Kim Ji-young. Disokong oleh performa mengagumkan Jung Yu-mi yang sanggup memperlihatkan kerapuhan si aksara utama, sulit rasanya untuk tidak bersimpati kepadanya. Saya tersentak mengetahui masa lalunya, saya terhenyak mengetahui cibiran dari orang-orang di sekelilingnya, dan saya pun tak kuasa untuk menahan air mata tatkala keluarga kandung Kim Ji-young menyadari kondisi mentalnya. Satu momen yang menciptakan saya “hancur” yakni adegan kunjungan seorang ibu ke rumah putri sulungnya. Coba bayangkan, hati orang bau tanah mana yang tidak tercabik-cabik melihat anaknya yang selama ini dipenuhi optimisme mengenai kehidupan, mendadak menderita dan tak pernah sekalipun menyebut penderitaannya ini demi menjaga perasaan orang lain?

Kim Ji-young Born 1982 sanggup membangun kesadaran terhadap mental illness seraya mengkritisi budaya patriarki dengan amat baik dan powerful. Melalui film ini, penonton akan sedikit banyak memperoleh pemahaman mengenai depresi berikut faktor-faktor yang melatarinya, menerima citra perihal budaya patriarki yang semestinya tidak dilanggengkan, dan pada karenanya terdorong untuk memanusiakan manusia. Ya, Kim Ji-young Born 1982 yang juga hidup berkat bantuan akting dari para pemain lain (khususnya Gong Yoo yang tampil simpatik sebagai suami penuh empati) akan membuatmu tersadar betapa besarnya jasa beserta pengorbanan dari para ibu, para istri, dan para perempuan. Inilah satu film yang semestinya tidak kau lewatkan begitu saja. 
Outstanding (4/5)