October 24, 2020

Review : Knives Out


“The family is truly desperate. And when people get desperate, the knives come out.”

Saat menyaksikan Knives Out garapan Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) di layar lebar beberapa hari yang lalu, ada satu komentar yang seketika terlontar dari lisan saya selepas lampu bioskop dinyalakan: “wow!” Ya, saya dibentuk jatuh hati oleh karya terbaru Johnson ini sampai-sampai saya tidak kesulitan untuk memberinya label sebagai “salah satu pengalaman sinematik paling mengasyikkan di tahun 2019.” Sebuah label yang tak pernah saya perkirakan akan disandang oleh Knives Out, meski saya pribadi telah menawarkan ketertarikan ahli untuk menyantap film ini sedari bahan promosinya ditebar. Pemicunya adalah, adaptasi ekspektasi selepas menyimak versi terbaru dari Murder of the Orient Express (2017) yang tidak terlampau menggairahkan. Ada tiga persamaan yang menyatukan dua judul tersebut: 1) keduanya bangun di jalur misteri dengan narasi ‘whodunit’ yang mengajak penonton untuk menerka-nerka si dalang pembunuhan, 2) keduanya mengedepankan pelakon-pelakon ternama untuk mengisi departemen akting, dan 3) keduanya mempunyai keterkaitan dengan novel rekaan Agatha Christie – well, dalam kasus Knives Out, lebih ke terinspirasi pada teladan pengisahannya. Memiliki sederet persamaan semacam ini, mau tidak mau antisipasi yang bergotong-royong telah menjulang tinggi tadi lantas dibarengi dengan ekspektasi yang berada di level sedang. Saya tentu tidak mau dibentuk kecewa untuk kedua kalinya, saudara-saudara! Untuk itulah diri ini lantas menekan pengharapan kala bertandang ke bioskop yang ternyata oh ternyata, malah berbuah bagus tatkala mendapati bahwa Knives Out sanggup bangun jauh di atas pencapaian “saudara tirinya” dan memberi saya sebuah hidangan hiburan yang sangat memuaskan.

Dalam Knives Out, penonton diperkenalkan kepada keluarga Thrombey yang tajir melintir berkat karir sang kepala keluarga, Harlan (Christopher Plummer), yang sukses sebagai penulis novel misteri. Dalam ulang tahunnya yang ke-85, Harlan mengundang seluruh keluarganya untuk hadir yang terdiri dari: 
    
1) Linda si putri sulung (Jamie Lee Curtis) beserta suami, Richard (Don Johnson), dan putranya yang gemar foya-foya, Ransom (Chris Evans).
2) Walt si bungsu (Michael Shannon) yang sekarang menjalankan perusahaan penerbitan milik sang ayah beserta istri, Donna (Riki Lindhome), dan putranya yang mempunyai pandangan politik mengkawatirkan, Jacob (Jaeden Martell).
3) Janda dari putra Harlan yang telah meninggal, Joni (Toni Collette), beserta putrinya yang gres saja kuliah di perguruan tinggi tinggi ternama, Meg (Katherine Langford).

Disamping keluarga inti, pesta ini turut dimeriahkan oleh Marta (Ana de Armas) yang bertugas sebagai perawat pribadi Harlan. Akan tetapi, segala gegap gempita dan keriuhan yang mewarnai pesta seketika berubah secara drastis keesokan harinya tatkala Fran si ajun rumah tangga (Edi Patterson) menemukan majikannya telah membujur kaku di ruang kerjanya. Untuk sesaat, pihak kepolisian menarik kesimpulan bahwa ajal Harlan disebabkan oleh bunuh diri. Tapi benarkah demikian? Seorang detektif swasta kenamaan, Benoit Blanc (Daniel Craig), yang disewa oleh seorang misterius untuk menyidik ajal Harlan pun mewaspadai kesimpulan tersebut karena si penulis novel ditemukan dalam keadaan leher tergorok. Terlebih lagi, setiap anggota keluarga yang dimintai keterangan wacana “apa yang terjadi di pesta ulang tahun?” belakangan diketahui berbohong mengenai fakta-fakta tertentu. Seolah ada yang berbahaya disana, seolah ada yang ingin ditutupi disana. Bahkan Marta yang tidak sanggup berdusta karena tubuhnya akan seketika bereaksi apabila beliau berbohong, ternyata turut menyimpan satu diam-diam besar mengenai ajal Harlan. 

Usai menengok bahan promosinya, kemudian membaca sinopsis dari Knives Out, kesan “tontonan misteri yang seru” memang menguar kuat. Untungnya, apa yang tampak menggiurkan di permukaan ini sanggup ditranslasikan ke dalam bahasa gambar dengan baik oleh Johnson. Mengalun cukup panjang hingga mencapai 130 menit, kenyataannya Knives Out tak pernah sekalipun menghadirkan momen-momen membosankan dan justru, semangat terus dibentuk membara sedari menit pembuka hingga adegan penutup. Si pembuat film enggan untuk berbasa-basi barang sejenak dan eksklusif membawa kita kepada inti dilema melalui prolog: ajal Harlan. Dari sini, kita lantas disuguhi adegan wawancara menggelitik yang mempunyai dua fungsi krusial, yaitu 1) untuk memberi citra kepada penonton mengenai apa yang terjadi di detik-detik jelang ajal Opa Harlan dari aneka macam sudut pandang, serta 2) untuk menjabarkan karakteristik berikut latar belakang dari karakter-karakter inti. Yang kemudian kian meningkatkan ketertarikan saya kepada film yakni adanya fakta-fakta yang ditutupi. Baik anggota keluarga Harlan maupun Marta tidak sepenuhnya berkata jujur yang tentu saja membuat diri ini bertanya, “mengapa?.” Mengikuti teladan dari dongeng misteri berbasis whodunit, Johnson yang juga bertindak selaku penulis skenario tentu saja memosisikan setiap huruf tersebut sebagai tersangka. Tidak ada yang benar-benar sanggup dipercaya, tidak ada yang benar-benar sanggup dibebaskan dari tuduhan. Mereka semuanya mempunyai motif sama besar lengan berkuasa untuk membunuh Harlan dan ini dikonfirmasi melalui satu adegan penting (tenang, tidak akan saya sebutkan kok!) yang sekaligus membuat saya ingin mengajukan pertanyaan kepada mereka wacana definisi “keluarga”.


Penyalahgunaan kata “keluarga” ini sendiri menjadi salah satu komentar sosial yang diajukan oleh Johnson selain perihal masyarakat berkantong tebal, insting bertahan hidup insan yang berbahaya, dan imigran gelap di Amerika Serikat. Berat? Tenang saja, sisipan komentar dan narasinya yang mengedepankan soal pemeriksaan kasus pembunuhan tidak lantas membuat Knives Out terasa njelimet. Johnson melantunkannya secara ringan yang terbukti dari pekatnya kandungan humor dalam film ini. Entah dari tindak tanduk Benoit Blanc yang nyentrik, pertikaian tak berkesudahan antar anggota keluarga Thrombey, hingga pertukaran obrolan para huruf yang acapkali lucu. Bagusnya, adanya elemen komedik yang seabrek ini tak lantas mendistraksi penonton dari elemen misteri dan pilihan kreatif tersebut malah memudahkan kita untuk mencerna penyampaian dari si pembuat film yang sejatinya kompleks. Penonton diajak bersenang-senang oleh Johnson sehingga tanpa tersadar kita pun mengikuti permainan sang sutradara dengan turut membuat hipotesis atas kasus yang diselidiki oleh Blanc. Bagi penonton yang jeli, petunjuk besar bergotong-royong sudah ditebar sedari awal yang sanggup mengungkap siapa dalang dibalik terbunuhnya Harlan. Jika kau yakni kepingan dari penonton yang jeli, jangan kira Knives Out adalah suguhan misteri yang “mudah” dan tidak menyimpan tantangan lain. Film masih menghadirkan dua pertanyaan besar yang tak kalah penting: 1) mengapa, dan 2) bagaimana. Bagi saya pribadi, Knives Out lebih condong ke tipe whydunit and howdunit ketimbang whodunit karena letak keasyikkannya justru terletak pada pertanyaan “mengapa dan bagaimana si pelaku melaksanakan pembunuhan?” yang menawarkan kemahiran Johnson dalam menyusun kepingan-kepingan dongeng ketimbang “siapa yang melakukannya?.” 
Disamping cara bercerita Johnson yang asyik nan lancar sampai-sampai durasi panjangnya terasa menyerupai satu kedipan mata saja – tentunya editor juga punya peranan signifikan disini (!), keunggulan Knives Out bersumber pula dari pemain ansambelnya yang gi-la. Setiap dari mereka mempunyai bantuan pada penceritaan termasuk K Callan sebagai si nenek buyut berusia 100 tahun lebih, dan setiap dari mereka diberi kesempatan untuk mempunyai momen penting. Tak ada yang tersia-siakan begitu saja. Tapi dari riuhnya pelakon ini, ada empat nama yang layak memperoleh kredit lebih yakni Daniel Craig yang sanggup lepas dari bayang-bayang James Bond dengan tampil lucu sekaligus nyentrik sebagai si detektif, Ana de Armas yang sanggup membuat kita bersimpati (tapi juga curiga) kepada Marta, Chris Evans yang sanggup meyakinkan kita bahwa karakternya memang layak disebut “benalu keluarga”, dan Toni Collette yang tindak tanduknya senantiasa dipertanyakan karena Joni yakni definisi dari istilah bermuka dua. Berkat performa pelakon yang benar-benar hidup ini, Johnson pun tak mengalami kesulitan untuk menghadirkan Knives Out sebagi suatu hidangan misteri menghibur yang didalamnya penuh dengan kelokan-kelokan dongeng yang mengejutkan. Kamu akan dibentuk tegang olehnya, kau akan dibentuk ingin tau olehnya, dan kau juga akan dibentuk tertawa tergelak-gelak olehnya. Keren!

Outstanding (4,5/5)