October 28, 2020

Review : Koala Kumal


“Jodoh jangan ditunggu, tapi dicari. Kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hati kamu.” 

Suka atau tidak, sulit untuk menyangkal bahwa Raditya Dika telah memiliki basis penggemar yang terhitung masif dan loyal. Apapun buah karyanya dilahap habis. Satu kunci keberhasilan Dika merangkul banyak pengikut dari bermacam-macam lapisan usia dan jenjang sosial ialah bahan kupasannya yang akrab dengan keseharian. Siapa sih belum pernah jatuh cinta? Siapa sih belum pernah dibentuk gundah karena naksir seseorang yang bahkan tidak menyadari keberadaan kita? Siapa sih belum pernah mencicipi sakitnya patah hati? Rasa-rasanya, serentetan problematika ini pernah dirasakan hampir seluruh umat manusia. Dalam Koala Kumal – karya terbaru Dika yang menandai kembalinya ia ke Starvision – Dika berbincang secara spesifik soal patah hati yang berangkat dari satu pertanyaan, “apa sih patah hati terhebat kamu?.” Jawaban atas pertanyaan tersebut memang berisi masalah tipikal sang komika: kekerabatan percintaan berakhir tragis. Namun satu hal menarik, ada proteksi solusi yang lebih dewasa, manis, sekaligus hangat dari dilema tersebut ketimbang sekadar ujug-ujug turun bidadari dari kayangan merampungkan segalanya. 

Patah hati terhebat Dika (Raditya Dika) ialah sang kekasih yang segera menjadi istrinya, Andrea (Acha Septriasa). Dua bulan menjelang hari pernikahan, Andrea tiba-tiba meminta biar kekerabatan mereka diakhiri karena ia telah jatuh hati dengan laki-laki lain, James (Nino Fernandez). Diputuskan begitu saja ketika Dika sedang sayang-sayangnya ke Andrea – bahkan tetek bengek ijab kabul termasuk video rangkuman perjalanan cinta, desain undangan, hingga resepsi telah rapi jali – menimbulkan Dika kesulitan membuka lembaran hidup baru. Selama setahun lamanya, produktivitas maupun kreativitas Dika sebagai penulis terkungkung oleh kekecewaan besar sampai-sampai sang ibu (Cut Mini) merasa perlu ikut turun gunung mencarikan pengganti Andrea biar putranya kembali bersemangat menjalani hidup walau pada risikonya tak ada satupun usahanya yang membuahkan hasil. Titik terang mulai terlihat ketika seorang gadis eksentrik pendiri klub buku berjulukan Trisna (Sheryl Sheinafia) mendadak nongol di hadapan Dika dan menunjukkan diri untuk ‘menyembuhkan’ Dika meski bergotong-royong Trisna sendiri menyimpan ukiran luka besar yang belum tersembuhkan. 

Berkaca pada sinopsis tersebut, mungkin kita sanggup gampang menerka akan kemana hati Dika berlabuh… atau tidak. Andrea berpaling darinya, kemudian tiba sosok pengganti dalam diri Trisna. Tapi rupanya Raditya Dika enggan merampungkan konflik sesederhana itu. Ada sekelumit kompleksitas dibalik guliran penceritaan yang sepertinya begitu-begitu saja. Baik Dika maupun Trisna sama-sama memiliki kenangan jelek dengan kekerabatan percintaan terdahulu, dan mereka juga belum berusaha melupakannya, sehingga pintu hati masing-masing masih tertutup. Dan disinilah letak menariknya. Koala Kumal tidak lantas menyandingkan dua korban patah hati ini sebagai pasangan – seraya menertawakan pengalaman pahit keduanya – melainkan kita menyaksikan bagaimana mereka tumbuh lebih sampaumur sehingga sanggup memaknai patah hati. Dalam satu adegan, ibu Dika berpesan, “jodoh jangan ditunggu, tapi dicari. Kamu boleh patah hati, tapi jangan tutup hati kamu.” Kenyataannya, walau pesan tersirat ibu Dika terdengar sepele, melupakan seseorang yang begitu dicintai dari masa kemudian kemudian membuka hati demi terwujudnya kekerabatan gres tidaklah semudah memasak mi instan. 

Ada proses cukup panjang menuju penerimaan sehabis dibentuk terjatuh yang harus ditempuh dan didalam perjalanannya membutuhkan kombinasi antara kesabaran, keberanian, serta keikhlasan biar sanggup mencapai what-so-called move on. Ya, move on tidak sanggup dicapai hanya dengan memutus jaringan pertemanan di sosial media, berhenti bersilaturahmi, atau dalam tingkatan ekstrim, balas dendam. Singkatnya, it’s not as simple as it seems. Koala Kumal memberi sentilan kepada mereka-mereka yang pernah (atau sedang) patah hati dan belum sanggup move on. Tentu penyampaiannya tidak terlampau serius sebab bagaimanapun, ini tetaplah film seorang Raditya Dika yang berarti kau tetap mendapati setumpuk humor bercitarasa absurd sepanjang durasi mengalun. Tidak semuanya bekerja secara semestinya – banyak diantaranya berakhir garing – namun ketika berhasil, benar-benar berhasil. Adegan “efek dari obat pelemas otot”, “kencan kilat”, “pertengkaran flashdisk” dan interaksi awal-awal Dika dengan Trisna ialah momen terbaik dari Koala Kumal. Riuh rendah tawa renyah penonton sanggup terdengar begitu jelas. 

Disamping pembentukan dongeng dan pemaparan ke bahasa gambar yang baik oleh Raditya Dika, Koala Kumal disangga ansambel pemain yang kokoh. Tidak ada keputusan yang lebih sempurna dari menempatkan Acha Septriasa dan Sheryl Sheinafia di lini utama mengingat keduanya memiliki ‘daya ledak’ sama kuatnya. Acha, menyerupai biasa, tangguh ketika diminta menangani momen-momen dramatik dan ketika diminta melucu, ia terlihat effortless. Sosok Andrea di tangannya tidak dijelmakan sebagai abjad antagonis menyebalkan sebab kita dibentuk paham atas pilihannya meninggalkan Dika. Sementara Sheryl dalam debut aktingnya – kita segera melihatnya di versi terbaru Galih & Ratna – merupakan kejutan terbesar dari Koala Kumal. Tokoh Trisna yang eksentrik dan sedikit misterius dibawakannya penuh energi. Kehadirannya mengatakan keceriaan pula kesejukan tersendiri bagi film, terhitung sejak kemunculan pertama kalinya, sampai-sampai muncul ketidaksabaran untuk menantikan keberadaannya begitu ia bolos sejenak dari layar. She’s so damn good. Barisan pemain pendukung yang juga mengatakan sumbangsih elok ke Koala Kumal antara lain Nino Fernandez, Cut Mini, Ernest Prakasa, Dwi Sasono, Yudha Keling, serta duo Anggika Bolsterli – Adipati Dolken dalam penampilan sangat singkat namun memberi kesan mendalam.

Exceeds Expectations (3,5/5)