October 21, 2020

Review : Krampus


“Saint Nicholas is not coming this year. Instead, a much darker, ancient spirit. His name is Krampus. He and his helpers did not come to give, but to take.” 

Setelah memberi kejutan manis untuk para penikmat film menyeramkan melalui Trick ‘r Treat yang secara cepat menjadi tontonan wajib menjelang Halloween, Michael Dougherty seolah menghilang dari permukaan bumi. Selama bertahun-tahun tidak ada proyek baru, Trick ‘r Treat sempat dianggap sebagai keberuntungan pemula semata hingga alhasil Dougherty kembali membuat gebrakan simpulan tahun ini lewat Krampus. Tidak jauh berbeda dengan karya debutnya, Krampus pun masih bermain-main di area horor hanya saja kali ini balutan komedinya cukup pekat. Yang menjadikannya semakin terasa istimewa yaitu si pembuat film mencoba membangunkan kembali gelaran menyeramkan berlatar Natal yang tertidur selama hampir satu dekade sesudah terakhir kali Black Christmas. Perkawinan ‘Natal-horor’ memang sepintas terkesan bukan inspirasi anggun sebab semangat keduanya saling bertolak berlakang, tapi sekadar mengingatkan, kita sebelumnya telah memperoleh sajian serupa di Gremlins (1984) instruksi Joe Dante yang masih tetap mengasyikkan untuk ditonton ulang saban Natal. Krampus, walau belum mencapai tahapan sehebat Gremlins, tetap dapat dikatakan sebagai kado Natal tepat bagi para pecinta film horor. It’s entertaining as hell. 

Apakah kau tahu bahwa Sinterklas mempunyai ‘saudara kembar’ kejam berjulukan Krampus? Berbeda jauh dari Sinterklas yang divisualisasikan mirip kakek gemuk ramah, Krampus digambarkan mempunyai fisik dan perangai mengerikan. Wujud makhluk legendaris yang hidup dari dongeng kuno masyarakat pegunungan Alpen ini mempunyai tampilan mirip perpaduan kambing dengan iblis lengkap disertai tanduk menjulang tinggi, bulu hitam lebat, serta membawa rantai besar. Krampus merupakan ‘Anti-Santa’ yang menjatuhkan hukuman-hukuman mengerikan pada bawah umur berkelakuan jelek begitu hari Natal mendekat. Dalam film instruksi Dougherty, Krampus menghadiahkan teror ke sebuah keluarga disfungsional yang terpaksa merayakan Natal bersama hanya sebab mereka mempunyai pertalian darah tanpa benar-benar memahami esensi sebetulnya dari perayaan ini. Krampus menjawab ‘panggilan’ dari si bungsu Max (Emjay Anthony) yang menyatakan kebenciannya terhadap setiap anggota keluarga selepas dipermalukan oleh kedua sepupunya dalam program makan malam. Tanpa menunggu terlalu lama, Krampus pun mengirimkan pasukan-pasukan iblisnya untuk memeriahkan Natal di rumah keluarga Max yang dipenuhi kekerabatan dingin. 

Sepertinya, Michael Dougherty memang ditakdirkan untuk menelurkan karya-karya menyeramkan berbasis perayaan tertentu sebagai latar penceritaan. Krampus mengambarkan bahwa ia bukanlah ‘one hit wonder’ atau ‘pemula yang beruntung’ atau apapun sebutannya sebab sederet kesenangan di Trick ‘r Treat dapat juga kau peroleh disini. Bahkan, Krampus dapat dikatakan sedikit lebih ambisius sebab mirip mencoba menggabungkan elemen dari Gremlins, National Lampoon’s Christmas Vacation, dan Home Alone menjadi satu kesatuan. Ya, agak kompleks dibanding film perdana, Krampus tidak hanya mengedepankan kengerian demi kengerian sebagai jualan utamanya tetapi juga memasukkan banyak humor-humor menggelitik sekaligus drama keluarga khas film-film Natal yang keberadaannya seringkali difungsikan untuk memberikan keresahan si pembuat film terhadap masyarakat modern yang mulai melupakan makna perayaan hari-hari besar keagamaan, dalam hal ini Natal. Lewat adegan pembuka Dougherty malah telah memberi sindiran keras yang menampakkan betapa kapitalisme telah mengubah ‘kedamaian Natal’ menjadi ‘kebuasan Natal’. Duh. 

Tetapi tentu saja Krampus tidak akan melulu ngedumel soal pergeseran makna ini sebab mirip tujuan awal, Krampus yaitu soal menghadirkan keceriaan Natal dengan cara nyeleneh. Ya, setidaknya sepanjang satu setengah jam kau – khususnya para pemuja film horor – akan diajak bergembira oleh Dougherty menyaksikan dua keluarga yang terperangkap di dalam rumah tanpa ajaran listrik sebab terjangan tornado salju bersatu padu mempertahankan diri melawan serangan Krampus dan antek-anteknya yang mencakup benda-benda tak terbayangkan sebelumnya. Siapa sih yang menyangka insan masakan ringan manis jahe, boneka beruang, hingga mainan jack-in-the-box dapat menjadi mesin pembunuh yang begitu mengerikan? Menjelang Natal pula! Keliaran imajinasi Dougherty ini berhasil tervisualisasikan dengan menarik walau tingkat keekstrimannya agak ditekan demi menghindari tontonan kelewat mencekam mengingat keinginannya merengkuh pangsa pasar lebih luas (baca: keluarga). Untuk menyiasati kurangnya kandungan teror, maka humor pun digenjot dalam takaran cukup tinggi sehingga penonton memperoleh kegilaan maksimal selama menyaksikan Krampus. Kita tidak saja mencicipi sensasi jantung berdebar-debar tetapi juga tertawa tergelak-gelak. Seru!

Exceeds Expectations