October 17, 2020

Review : Kung Fu Panda 3


“Your real strength comes from being your best you.” 

Petualangan pencarian jati diri panda gemuk jago kung fu, Po (disuarakan oleh Jack Black), menjumpai penghujungnya di Kung Fu Panda 3. Setelah sang guru, Master Shifu (Dustin Hoffman), memberi Po kepercayaan untuk menggantikan posisinya dan sang ayah kandung, Li Shan (Bryan Cranston), balasannya bereuni dengan Po sesudah bertahun-tahun lamanya terpisahkan, maka DreamWorks Animation merasa inilah waktu yang tepat untuk mengakhiri salah satu franchise terlaris kepunyaan mereka – atau setidaknya begitu untuk dikala ini. Tapi tentu saja, sebelum sang huruf utama dipersilahkan menikmati ‘kebahagiaan selama-lamanya’, ada kiprah besar menanti yang sekali ini taruhannya yaitu alam semesta. Beban besar ada di bahu Po, demikian pula duo sineas yang menggarap Kung Fu Panda 3. Mereka berkewajiban memberi salam perpisahan yang mengesankan bagi franchise ini sesudah kebersamaan selama delapan tahun. Mengingat dua instalmen sebelumnya telah berada dalam level di atas rata-rata tentu bukan masalah gampang melampaui pencapaian-pencapaiannya. Kung Fu Panda 3 pun dibayang-bayangi ketangguhan seri pembukanya, meski sejatinya sebagai film tunggal dia tetaplah besar lengan berkuasa dan penuh energi. 

Yes, it offers lots of fun. Sedari pertama kali dicetuskan, franchise ini memang telah bersinonim bersahabat dengan kata ‘mengasyikkan’. Tak terkecuali Kung Fu Panda 3. Sekalipun masalah yang coba dikedepankan oleh duo Jennifer Yuh Nelson-Alessandro Carloni terasa lebih kompleks alasannya yaitu tidak saja fokus pada pertarungan Po melawan Jenderal Kai (J.K. Simmons) yang menyimpan penuh dendam dan ambisi tetapi juga pada permasalahan personal Po yang mulai menyadari dirinya tidak benar-benar mengetahui siapa dirinya, kegembiraan tidak terusik sedikit pun. Materi ngelaba Kung Fu Panda 3 yang intinya ada di kategori sederhana mampu memunculkan gelak tawa penonton sedemikian rupa berkat ketepatan timing dalam melemparkan bom humor dari jajaran pengisi suaranya yang hebat – khususnya Jack Black yang sangat terasa begitu menyatu dengan huruf Po. Paruh awal yaitu kesempatan emas bagi penonton untuk gila-gilaan bersama Po, kawan-kawan The Furious Five-nya, serta kedua ayahnya, Li dan Mr. Ping (James Hong) dengan metode bersenang-senang cenderung urakan disetel dalam volume tinggi sehingga memungkinkan penonton terus menerus terpingkal-pingkal melihat tingkah polah mereka. 

Disamping kandungan hiburan berlimpah (bisa dibilang, jilid ketiga ini paling ‘edan’), keunggulan Kung Fu Panda 3 terletak pada animasinya yang memukau. “Wow!,” yaitu ekspresi pertama yang terlontar dari lisan begitu keluarga kecil Po menapakkan kaki di Desa Panda. Well, bahu-membahu dari permulaan film telah banyak bermunculan gambar-gambar yang akan membuatmu geleng-geleng kepala menyerupai Dunia Roh daerah Master Oogway (Randall Duk Kim) bermukim, kemudian desain Jombies yang merupakan anak buah Jenderal Kai, namun penggambaran daerah tinggal para panda beserta para pandanya itu sendiri yang diciptakan dengan personality beraneka ragam merupakan bab terbaik dari film. Satu panda dalam wujud Po saja sudah cukup bikin gemas, maka coba bayangkan bagaimana jadinya kalau ada puluhan (atau bahkan ratusan) panda dengan banyak sekali karakteristik dan usia di satu tempat? Jika meminjam istilah anak gaul zaman sekarang, “minta banget diunyel-unyel.” Begitulah, kemahiran dalam memvisualisasikan para panda ini yaitu keberhasilan utama dari Kung Fu Panda 3. Itu masih ditunjang oleh sederet guliran aksinya yang terhampar seru plus mempunyai nilai excitement tinggi sampai-sampai perjalanan menemani Po dalam menemukan jati dirinya ini tak pernah terasa melelahkan sedikit pun. 

Tentu tidak semuanya sempurna. Keputusan tim pembuat film memberi fokus lebih terhadap masalah eksklusif Po berdampak pada tergerusnya jatah tampil The Furious Five. Mereka tidak lagi mempunyai donasi besar dalam menghibur menonton menyerupai halnya di dua jilid pendahulu. Selain porsi huruf pendukung, kecuali Li Shan, agak tersingkirkan kali ini, guliran pengisahan Kung Fu Panda 3 pun tak istimewa-istimewa amat karena intinya hanyalah pengulangan dengan peningkatan kompleksitas. Klimaksnya di 20 menit terakhir juga tidak segegap gempita yang dibayangkan mengingat lawan Po, Jenderal Kai, tidaklah sembarangan dilihat dari koleksi chi para jago kung fu maupun amarah ratusan tahunnya. Kemerosotan intensitas di konfrontasi final ini memang sangat disayangkan sesudah banyak sekali canda tawa maupun baku hantam asyik di menit-menit sebelumnya. Andai saja pertarungan Po-Jenderal Kai memperoleh lebih banyak injeksi ketegangan, boleh jadi salam epilog pada franchise Kung Fu Panda akan menunjukkan kesan mendalam alasannya yaitu bahkan tanpa adanya sensasi gregetan pada adegan pertempuran puncak menyerupai ini sekalipun, Kung Fu Panda 3 tetap memberi kesenangan maksimal kepada para penontonnya berkat paduan anggun humor, aksi, beserta animasinya.

Exceeds Expectations (3,5/5)