October 21, 2020

Review : Kuntilanak (2018)


“Sing kuat, sing melihara.” 

(Entah dengan kalian, tapi sebagai seorang Jawa tulen, saya sebenarnya merasa janggal dan terganggu dengan mantra ini. Kenapa sih tidak sepenuhnya dalam Bahasa Jawa? Sing kuwat sing ngingoni? Malah lebih terasa nuansa mistisnya to?)

Sineas di perfilman Indonesia pasca mati suri memang tergolong rajin menelurkan film horor. Akan tetapi, diantara ratusan judul yang telah dipertontonkan secara resmi ke hadapan publik, hanya segelintir saja yang bisa dikategorikan ‘oke’ hingga ‘bagus’. Kuntilanak (2006) garapan Rizal Mantovani ialah satu dari segelintir judul tersebut. Meski bagi saya secara pribadi film ini lebih condong ke seru ketimbang seram, tidak bisa disangkal bahwa Kuntilanak mempunyai penggarapan yang niat dengan mitologi yang cukup menarik buat dikulik. Menilik pencapaian judul tersebut di masa lampau secara kualitas maupun kuantitas (dibuktikan oleh kehadiran dua film kelanjutan yang sayangnya tak seberapa sepakat namun tetap larisss), bukan sesuatu yang mengherankan tatkala MVP Pictures mencoba untuk membangkitkannya kembali pada satu dekade kemudian. Yaaa… hitung-hitung mengikuti tren ‘reborn’ yang sekarang tengah marak lah. Mengusung semangat baru, Kuntilanak versi 2018 yang juga digarap oleh Rizal Mantovani tak lagi mengandalkan kekuatan Mbak Samantha (Julie Estelle) untuk mengusir bagus Jeung Kunti dari dunia insan melainkan bergantung pada kenekatan segerombolan bocah. Jalinan pengisahannya pun tidak sambung-menyambung menjadi satu dengan trilogi lawas sekalipun tembang Lingsir Wengi yang bikin bulu kuduk meremang itu masih diperdendangkan dan cermin antik pembawa musibah masih menampakkan diri. 

Guliran penceritaan dalam Kuntilanak versi termutakhir ini menempatkan fokusnya kepada lima bocah yatim piatu, yakni Dinda (Sandrinna Michelle Skornicki), Kresna (Andryan Bima), Ambar (Ciara Nadine Brosnan), Panji (Adlu Fahrezy), dan Miko (Ali Fikry), yang diadopsi oleh seorang kaya berjulukan Tante Donna (Nena Rosier). Mulanya sih, kelima bocah ini tinggal di rumah gedongan milik Tante Donna dengan kondusif sentosa hingga kemudian si pemilik rumah pamit sejenak untuk mengunjungi keluarganya di luar negeri. Dinda dan kawan-kawan dititipkan pada keponakan si tante, Lydia (Aurelie Moeremans), yang kebetulan sedang menjalin korelasi dengan presenter program mistis, Glenn (Fero Walandouw). Bermaksud ingin memberi kejutan kepada Tante Donna, Glenn dan Lidya mengganti cermin di kamar si tante dengan sebuah cermin gres yang diangkut Glenn dari sebuah rumah angker yang disinggahinya. Tanpa diketahui oleh dua insan ini, cermin tersebut merupakan portal menuju alam mistik yang didiami memedi berjulukan Kuntilanak. Tanpa diketahui oleh dua insan ini pula, portal tersebut telah terbuka dan telah menelan korban. Alhasil, kecacatan demi kecacatan yang sulit dijabarkan dengan nalar sehat pun mulai dirasakan oleh lima sekawan beserta Lydia di rumah Tante Donna. Saat Jeung Kunti meningkatkan ‘permainan’ menjadi musibah pengancam nyawa, maka tidak ada yang bisa menghentikannya kecuali si pemilik wangsit. Seseorang yang dianugerahi kelebihan untuk menuntaskan kasus dengan makhluk-makhluk dari dimensi seberang.

Apabila kau membawa ekspektasi “seram nih! Seru nih!” ketika tetapkan untuk membeli tiket Kuntilanak di loket bioskop, maka redam segera. Level ‘seram’ maupun ‘seru’ yang dimiliki oleh Kuntilanak versi anyar ini bisa dikatakan tidak ada apa-apanya kala disandingkan dengan instalmen terdahulu. Sebetulnya, Rizal Mantovani membuka gelaran ini dengan menjanjikan ketika memperlihatkan tinjauan dalam prolog mengenai kemampuan ibarat apa yang dimiliki oleh cermin pembawa petaka. Atmosfer mencekamnya sanggup terdeteksi, penceritaannya pun mempunyai sanggup pikat mencukupi sehingga kita mempunyai ketertarikan untuk mengetahui apa yang akan terjadi di menit-menit berikutnya. Langkah yang telah mantap ini, sayangnya tidak berlangsung lama. Sedikit demi sedikit, daya cekam beserta daya pikat film mulai menguap seiring berjalannya durasi. Hingga pada satu titik saya pun bertanya-tanya, “apakah saya sedang menyaksikan film horor dengan bintang belum dewasa atau justru film petualangan belum dewasa dengan bumbu horor?.” Yang saya rasakan, ini tak ubahnya film petualangan belum dewasa semacam Petualangan Sherina (2000) atau Naura dan Genk Juara (2017) yang kebetulan mengambil pendekatan horor tanpa ada sekuens musikal. Elemen lawak yang dimaksudkan untuk mencairkan ketegangan tergolong melimpah ruah sampai-sampai mendistraksi elemen horornya. Bahkan, ada pula suplemen backsound yang terasa salah daerah (dan tentu saja tidak diperlukan) setiap kali salah satu aksara mencoba untuk melucu. Alih-alih terkekeh, saya justru ingin mengeluarkan penyumbat indera pendengaran saking mengganggunya. 
Bisa dipahami bahwa pihak pembuat film ingin menghadirkan tontonan angker yang ramah bagi penonton arif baligh. Hanya saja, keputusan untuk menentukan bermain kondusif dengan tetap berada di area ‘remaja’ ketimbang mengikuti jejak sumber ilham Kuntilanak yakni It (2017) yang berani menjajaki teritori ‘dewasa’ ini nyatanya bukanlah keputusan yang bijak. Kuntilanak seringkali berada di posisi serba tanggung. Memedinya terlalu menyeramkan bagi penonton arif baligh dan usia di bawahnya, tetapi guliran penceritaan rekaan Alim Sudio (Chrisye, Ayat-Ayat Cinta 2) berikut teror si memedi terlalu menjemukan bagi penonton yang telah mencicipi seramnya kehidupan yang sesungguhnya. Disamping itu, Kuntilanak pun terlalu ceria sebagai sebuah film yang memproklamirkan dirinya sebagai film horor. Satu-satunya teror yang menggoreskan sekelumit rasa takut yakni ketika Dinda melihat sesosok wanita menembangkan Lingsir Wengi di depan televisi pada tengah malam. Selebihnya? Sebatas parade trik menakut-nakuti klasik yang dimunculkan secara sesuka hati tanpa set up memadai dan repetitif. Aturan main jump scare terbaca dengan jelas; setiap aksara mendapat setidaknya satu kali momen berhadapan pribadi dengan Jeung Kunti, sementara hukum main bersama Jeung Kunti (dalam artian, mitologinya) hanya dibahas di permukaan saja tanpa pernah dieksplorasi lebih mendalam. Itulah mengapa begitu film mencapai setengah jalan, saya sudah terkantuk-kantuk tidak karuan. Salah satu alasan yang lantas menciptakan saya bisa bertahan menyaksikan Kuntilanak dengan penceritaan berlarut-larut ini ialah performa para pemain cilik yang asyik. Setidaknya, mereka tampak menikmati bermain di film ini.

Acceptable (2,5/5)