October 20, 2020

Review : La La Land


“I’m letting life hit me until it gets tired. Then I’ll hit back. It’s a classic rope-a-dope.” 

Berkat Whiplash (2014), sebuah film musik wacana mimpi dari seorang penggebuk drum ajaran Jazz yang intensitasnya amat kencang kolam film laga, sutradara muda Damien Chazelle mendapat sorotan banyak pihak. Mumpung tengah menjadi materi obrolan hangat, beliau pun tidak menunggu waktu usang untuk melepas karya berikutnya – meski realitanya, butuh enam tahun buat meyakinkan para pendana dan rumah produksi! – yang masih bekerjasama dengan musik Jazz dan tidak jauh-jauh dari pengalaman langsung sang sutradara. Jika Whiplash terinspirasi dari gurunya yang luar biasa galak semasa menimba ilmu musik, maka karya terbarunya yang bertajuk La La Land diilhami oleh jatuh bangunnya selama merintis karir di Hollywood. Dalam La La Land, Chazelle mencoba lebih ‘besar’ dengan memakai pendekatan musikal yang secara khusus mengatakan penghormatan terhadap film-film musikal kala 50’an semacam Singin’ in the Rain (1952) atau The Band Wagon (1953) sekaligus merekrut bintang-bintang Hollywood kelas A ibarat Ryan Gosling dan Emma Stone guna ditempatkan di lini utama. Hmmm… belum apa-apa sudah terdengar sangat menggiurkan, bukan? Dan kenyataannya, memang semenggiurkan apa yang tertuang di atas kertas. La La Land mempunyai jiwa di setiap hentak kaki, setiap alunan melodi, dan setiap untaian lirik yang membuat tawa, kekaguman, serta air mata. Sungguh magis!   

La La Land memulai hentakannya dengan meriah melalui nomor musikal “Another Day of Sun” yang menampilkan tarian dan nyanyian di tengah-tengah macetnya jalan bebas kendala Los Angeles. Ujung dari adegan ini mempertemukan dua abjad utama film, Sebastian Wilder (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone), untuk pertama kalinya meski bukan dalam situasi menyenangkan. Selama kurang lebih 30 menit berikutnya, keduanya tidak lagi saling berjumpa, tidak ada interaksi dalam bentuk apapun. Sebastian diceritakan sebagai musisi Jazz yang kelimpungan mencari sumber penghasilan tetap berdasar keahliannya karena idealismenya untuk memainkan musik Jazz tradisional seringkali berseberangan dengan visi pemilik klub, sedangkan Mia yang sehari-harinya memperoleh pemasukan sebagai barista terus berjibaku guna mendapat panggilan audisi demi mewujudkan mimpinya menjadi aktris. Mereka jadinya betul-betul berjumpa kala keduanya menghadiri sebuah pesta. Berjalan bersama untuk beberapa waktu, baik Sebastian maupun Mia menyadari ada ketertarikan satu sama lain terlebih keduanya dipersatukan oleh satu hal: passion. Asmara pun merekah diantara mereka, kekerabatan penuh kemesraan terbentuk, kemudian tiba-tiba ujian menghadang kala mimpi mereka saling berbenturan. 

Berkaca pada sinopsis tersebut, tampak terang La La Land tak menunjukkan guliran pengisahan yang membelalakkan mata. Sebatas menghidupkan premis sederhana mengenai kisah kasih dua sejoli yang diperjumpakan oleh kesamaan nasib. Namun jangan biarkan kesederhanaan ini mengecohmu sebab La La Land tidaklah sesederhana itu utamanya jikalau kita membicarakan soal bagaimana Damien Chazelle mengatur konsep dari setiap jengkal film ini. Mengkreasi elemen musikalnya. Tengok saja nomor pembukanya yang enerjik nan ambisius dimana kurang lebih terdapat 100 penari berlenggak lenggok kesana kemari di tengah padatnya jalan tol. So much fun! Keputusan jitu menempatkan nomor ini di permulaan film sebab terbilang sangat efektif untuk membangkitkan mood penonton dalam mengetahui keriaan serta keintiman ibarat apa yang ditawarkan si pembuat film selama sisa durasi. Selepasnya, tidak ada lagi tembang heboh ibarat ini – paling mendekati ialah “Someone in the Crowd” – karena mengikuti laju pengisahan yang kian intim, syahdu, pula merobek hati. Keberadaan lagu dan musik hasil gubahan Justin Hurwitz sendiri bukan sekadar pemeriah suasana melainkan dimanfaatkan betul oleh Chazelle sebagai medium bercerita. 
Ketika rentetan obrolan dianggapnya tidak cukup untuk mengungkapkan suatu maksud, musik ialah solusi terbaiknya. Itulah mengapa ada emosi menggelegak yang sanggup dirasakan di dalam tiap tembang dan tiap melodi yang mengiringi La La Land, ibarat “A Lovely Night”, “City of Stars”, dan “Audition (The Fools Who Dream)”, yang rasa-rasanya akan mengendap usang di benakmu. Musik yang berbicara bukanlah satu-satunya modal Chazelle untuk mengatakan kehidupan pada La La Land. Dia beruntung mempunyai tim solid di setiap departemen. Dari pengambilan berikut penyuntingan gambar yang menguarkan nuansa jadul ala film musikal kala 50-an, koreografi tari oleh Mandy Moore yang menunjukkan beberapa ragam (ada tap, ballroom, hingga waltz) dengan setiap hentakannya berbalut rasa sehingga tanpa perlu adanya pendeskripsian panjang lebar kita telah sanggup memahami perasaan dua insan yang tengah dimabuk cinta ini, hingga tak kalah penting pula, pemain-pemain yang handal menerjemahkan emosi melalui gestur maupun air muka. Pemain dalam konteks ini tentu saja ialah Ryan Gosling bersama Emma Stone. Mereka tampil simpatik ketika terpisahkan, sementara ketika berduaan, mesranya tiada ampun sampai-sampai burung-burung cinta pun dibentuk iri olehnya. Lihat ketika mereka saling lempar dialog, ketika mereka menari bersama, ketika mereka saling pandang, ughhh… greget!

Karisma berpengaruh Gosling dan kecantikan paripurna Stone merupakan kombinasi tepat guna menjerat atensi sehingga penonton pun tahu-tahu telah terhanyut pada jalinan kisah percintaan mereka. Just like magic. Ada semacam kebahagiaan tersendiri menyaksikan Sebastian menemukan Mia (begitu juga sebaliknya) sebab kita mengetahui bahwa mereka akan saling menguatkan, akan saling melengkapi satu sama lain, karena mempunyai kesamaan pada tujuan, harapan, dan mimpi. Dari titik ini, penonton pun lantas disadarkan sejatinya La La Land bukan sekadar menjual dongeng manis semata mengenai kisah percintaan dua insan insan yang dipertautkan oleh passion sebab lebih dari itu, ini merupakan selebrasi bagi mereka yang berani bermimpi dan berani mewujudkannya sekalipun memahami betul ada harga yang harus dibayar mahal. Dihantarkan secara gegap gempita pula manis-manis nyelekit, La La Land akan membuatmu terpukau oleh bagaimana Chazelle mengkreasi setiap momen dalam film yang mempunyai cita rasa megah, kemudian mencicipi kebahagiaan, dan pada jadinya tertusuk begitu menyadari bahwa realita tidaklah seindah mimpi. Tidaklah semembahagiakan film-film musikal Hollywood. Aach, seandainya saja….

Outstanding (5/5)