August 8, 2020

Review : La Tahzan


“Jangan pernah tertipu kulit luar yang terlihat bagus sebab belum tentu dalamnya ibarat yang di luar.” – Yamada

Bukan, bukan, film teranyar keluaran Falcon Pictures bertajuk La Tahzan ini tidak mempunyai keterkaitan dengan buku fenomenal berjudul sama hasil buah karya Dr. ‘Aidh Al-Qarni. Yang justru menjadi sumber utama, sebuah kisah karangan Ellnovianty Nine yang terkumpul dalam antologi ‘La Tahzan for Students’ – buku yang memuat kumpulan kisah usaha para pelajar Indonesia di Jepang. Sekalipun didasari pada buku inspiratif, pada kenyataannya, film yang pada awalnya mempunyai titel Orenji ini tak benar-benar menyoroti pada sepak terjang pelajar Indonesia dalam menggapai mimpi di negeri matahari terbit. Danial Rifki (dalam debutnya sebagai sutradara) menentukan untuk menggiring La Tahzan ke ranah drama percintaan penuh lika-liku yang dibubuhi bumbu religi. Hasilnya? Memang, film tidak diberkahi dengan naskah yang gemilang, namun dengan jajaran pemain dan tim produksi yang solid, apa yang kemudian terhidang kepada penonton ialah sebuah hidangan yang menyenangkan, jenaka, serta sangat manis. 

Jalinan percintaan segi rumit dalam film, membelit tiga hati berbeda yang masing-masing dimiliki oleh Viona (Atiqah Hasiholan), Yamada (Joe Taslim), dan Hasan (Ario Bayu). Viona dan Hasan merajut tali asmara yang tampak berjalan mulus tanpa rintangan sampai Hasan mendadak pergi ke Jepang untuk mengadu nasib tanpa memberi kabar pada sang kekasih. Hanya beberapa dikala sehabis kepergian Hasan, Viona pun turut menyusul ke Jepang demi menjalani jadwal Arubaito (belajar sambil bekerja). Di sela-sela waktu senggangnya, Viona berusaha melacak keberadaan Hasan yang seolah lenyap ditelan bumi. Di tengah-tengah pencarian, Viona berjumpa dengan Yamada, fotografer lepas berdarah Jepang-Indonesia. Sikap Yamada yang ramah, bersahabat, dan penuh perhatian, menciptakan keduanya dengan cepat menjadi akrab. Benih-benih cinta pun menghinggapi mereka. Tanpa berbasa-basi, Yamada mengutarakan niatnya untuk menikahi Viona. Dia bahkan rela berpindah agama demi menjadi halal bagi sang pujaan hati. 
Yang menjadi kekuatan utama dari film, tentu saja, ialah Jepang. Tidak sekadar menjadi tempelan demi kebutuhan jualan semata atau hanya demi mempercantik tampilan layar, namun ini berperan penting sebagai latar belakang kisah. Kecermatan Yoyok Budi Santoso selaku sinematografer dalam menangkap gambar, sanggup menghidupkan atmosfer romansa yang memang dibutuhkan. Gambar bisa berbicara. Apa yang dibicarakan ialah mengenai perasaan dari ketiga tokoh utama (Viona, Hasan, dan Yamada) yang kerap kali dilingkupi keragu-raguan dalam menentukan pilihan hati dan hidup. Iringan musik dari Ricky Lionardi yang syahdu, kian mempertegas. Menjadi istimewa tatkala jajaran pemain pun berlakon dengan cemerlang, terlebih untuk Joe Taslim, Atiqah Hasiholan, dan Nobuyuki Suzuki. Rasa skeptis terhadap kemampuan olah tugas Joe Taslim yang selama ini menghinggapi, seketika sirna dikala menyaksikan betapa memukaunya beliau dalam memerankan seorang laki-laki Jepang melalui gestur yang meyakinkan. Dibuat percaya bahwa beliau memang mempunyai darah Jepang sekaligus bersimpati karena karakternya yang gampang untuk disukai. 
Hanya saja, sayangnya rajutan jalinan penceritaan dari Jujur Prananto (Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta?) boleh jadi tak menawarkan sesuatu yang istimewa serta cenderung kurang menantang, tak tergali dengan dalam, dan datar. Nyaris melukai film secara keseluruhan, terlebih dengan adanya plot yang menciptakan penonton mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya tanpa ada klarifikasi dari si pembuat naskah (ucapkan halo pada latar belakang Viona yang nyaris tak tersentuh dan benar-benar terlibas oleh milik Yamada). Dengan kurangnya informasi yang ditebar mengenai Viona, menciptakan pergerakan kisah menjadi sedikit banyak mengganggu dan kurang wajar. Yang paling mengganjal di hati ialah dikala film mendadak berbelok ke ranah reliji yang ditandai dengan upaya dari Viona untuk mempertahankan akidahnya. Jadi, selama ini beliau ialah sosok yang relijius? atau, jatuh hati telah membuatnya memeroleh hidayah? Wallahu a’lam bishawab

Dengan naskah yang tak dirajut rapi dimana lubang-lubang kerap menampakkan diri, La Tahzan berpotensi terpuruk dengan menjadi ‘film romansa dipaksa reliji lainnya’. Beruntung, Danial Rifki memeroleh sokongan dari tim yang solid dimana sinematografi yang indah, tata musik yang apik, serta jajaran pemain yang berlakon secara cemerlang bisa dikawinkan secara manis sehingga hasil karenanya pun sama sekali tidak mengecewakan. Memang tidak lantas menjadi sebuah suguhan yang menakjubkan (atau mendekati kualitas Hello Goodbye yang ciamik itu), namun La Tahzan tetaplah merupakan hidangan yang manis, menarik dan menyenangkan untuk disimak. Patut dicoba.

Acceptable