October 24, 2020

Review : Lampor Keranda Terbang


“Anak yang dianggap hilang, risikonya pulang.”

Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, dedemit yang dikenal dengan nama lampor sanggup jadi masih terdengar gila di telinga. Tapi bagi mereka yang tumbuh besar di Jawa – khususnya area Yogyakarta dan sekitarnya – lampor yaitu teror masa cilik yang sulit dienyahkan. Sebagian orang memang mengenalnya sebatas “hantu penculik bocah” yang muncul selepas matahari terbenam. Tapi dalam narasi yang lebih luas, sosoknya dikenal sebagai pasukan Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan yang kehadirannya ditandai dengan adanya bunyi kegaduhan yang bersumber dari iring-iringan kereta kuda dan pasukan demit. Terdengar mengerikan, bukan? Begitulah bila kita memperbincangkan soal mitologi Jawa, aroma mistis dan kleniknya sangat berpengaruh terasa. Setiap tempat mempunyai mitosnya sendiri, setiap tempat mempunyai kepercayaan yang akan menciptakan bulu kudukmu meremang. Saking melimpahnya mitos Jawa yang menyeramkan ini, tak mengherankan bila lalu pihak rumah produksi di tanah air pun kerap meliriknya untuk dijadikan materi utama bagi film horor. Maklum, selain terdengar seram, latar belakangnya juga filmis. Memungkinkan sekali untuk diejawantahkan ke tontonan layar lebar, termasuk mitos lampor yang lantas didayagunakan oleh Starvision guna menghasilkan film menakutkan bertajuk Lampor Keranda Terbang dimana Guntur Soeharjanto (99 Cahaya di Langit Eropa, Ayat-Ayat Cinta 2) selaku sutradara dan Adinia Wirasti yang didapuk sebagai aktor utama menjajal genre horor untuk pertama kalinya.

Dalam Lampor Keranda Terbang, Adinia memerankan huruf berjulukan Netta. Sebuah bencana semasa kecil menciptakan dirinya beserta sang ibu, Ratna (Unique Priscilla), menentukan untuk hengkang dari kampung halaman mereka di Temanggung dan mencoba memulai hidup gres di Medan. Setelah dua dekade lamanya tak pernah sekalipun mengunjungi rumah masa kecil – bahkan Netta tak pernah ngobrol lagi dengan ayahnya (Mathias Muchus) – protagonis kita ini risikonya terpaksa kembali demi merampungkan persoalan. Netta tidak tiba sendiri, melainkan turut ditemani oleh suaminya, Edwin (Dion Wiyoko), dan kedua anak mereka. Pernah berhadapan dengan lampor yang memberinya stress berat berkepanjangan, kunjungan ke Temanggung terperinci tidak menggoreskan kebahagiaan sedikitpun bagi Netta. Terlebih lagi, kedatangannya ini sempurna bersamaan dengan meninggalnya sang ayah. Belum apa-apa, Netta dituding sebagai pembawa sial oleh masyarakat setempat. Ditengah upayanya untuk berdamai dengan masa lampau, Netta juga harus menghadapi problematika dari orang di sekitarnya. Ibu tirinya yang berjulukan Esti (Nova Eliza) belakang layar menjalin relasi gelap dengan laki-laki lain (Dian Sidik), Esti yang sekarang berstatus janda juga mengincar harta warisan peninggalan sang suami, dan lampor yang selama ini memberinya mimpi jelek ternyata masih enggan untuk meninggalkan kampung. Demi menyelamatkan keluarganya sekaligus menghentikan teror bagi warga desa tak bersalah, Netta pun berencana untuk mengorbankan dirinya sendiri ketika “bereuni” dengan lampor.


Di atas kertas, Lampor Keranda Terbang terlihat mempunyai kesempatan untuk dielu-elukan sebagai film horor Indonesia terbaik tahun ini. Komposisi yang dipergunakannya serba tepat; mitos Jawa yang bikin bergidik ngeri, jajaran pemainnya kelas A (perlu dicatat juga bahwa Adinia Wirasti sangat pemilih soal naskah!), dan sutradaranya pun mempunyai jejak rekam yang cukup mumpuni. Jadi, apa yang mungkin sanggup salah dari film ini? Jujur, naskah rekaan Alim Sudio yang sebelumnya mengerjakan skrip Makmum pun sejatinya telah berada di jalan yang benar. Alih-alih sebatas berisi rentetan teror tanpa asal muasal yang pasti, jalinan pengisahan memberi kita kesempatan untuk melongok kondisi Netta beserta keluarganya yang terjerat konflik serba ruwet. Persoalannya memang tergolong umum, kalau tak mau dibilang klise, yang kerap mendera masyarakat pedesaan di Jawa yang berkisar pada perselingkuhan dan rebutan harta. Tapi adanya bobot lebih pada narasi ini memungkinkan bagi penonton untuk mengenal jajaran karakternya yang sengaja ditempatkan di posisi abu-abu sehingga kita pun menaruh curiga. Bisakah omongan serta tindakan mereka dipercaya? Jangan-jangan, mereka semua yaitu pendosa yang sepatutnya digondol lampor? Kala menapakkan dirinya di ranah drama yang menyoroti silang sengkarut keluarga Netta ini, Lampor Keranda Terbang mesti diakui memang cukup nyaman untuk disimak. Pengalaman Guntur Soeharjanto dalam menggarap tontonan drama menawarkan hasilnya di sini. Barisan pelakonnya, terutama Dion Wiyoko yang berapi-api dan Annisa Hertami yang meyakinkan sebagai penduduk setempat, pun bermain baik sekalipun Adinia Wirasti yang senantiasa bermuram durja justru menyulitkan bagi kita untuk menaruh simpati kepada huruf yang diperankannya.

Berjalan dengan cukup mulus di sektor drama, sayangnya Lampor Keranda Terbang terhadang banyak hambatan ketika membenamkan dirinya di ranah horor. Memberi penonton sebuah pemandangan visual menyeramkan dalam adegan pembuka yang memperkenalkan lampor, Guntur nyatanya justru kewalahan dalam menampilkan teror di tingkatan senada maupun lebih pada menit-menit selanjutnya. Tak ada lagi yang menciptakan diri ini merinding, tak ada lagi yang menciptakan diri ini terperanjat, dan tak ada lagi yang menciptakan diri ini ingin memalingkan muka dari layar. Untuk sebuah film yang mengatasnamakan dirinya sebagai horor, Lampor Keranda Terbang hanya mempunyai dua momen yang sanggup dikategorikan menyeramkan: pembuka dan end credit yang menghadirkan footage wawancara dari korban-korban lampor di Temanggung. Selebihnya, si pembuat film terlampau bergantung pada jump scares yang ironisnya tak satupun darinya yang menciptakan saya terkaget-kaget. Pengadeganan sekaligus penempatan musiknya acapkali tak selaras sampai-sampai daya sentaknya pun turut menguap. Ini masih belum ditambah oleh ketiadaan hukum main yang terperinci untuk sang antagonis (apa bahwasanya yang diincar oleh lampor secara spesifik? Apa beliau memang beraksi sepanjang tahun atau ada waktu-waktu tertentu? Darimana asal usulnya dan benarkah hanya meneror satu desa ini?) sehingga posisinya semakin tak relevan dengan jalinan pengisahan sedari pertengahan durasi, dan saya pun mengamini ketika ada sebuah obrolan berbunyi “suka suka lampor lah” dilontarkan oleh salah satu karakter. Duh. 

Mendapati bahwa Lampor Keranda Terbang semakin kehilangan daya pikatnya dari menit ke menit – malah babak klimaksnya terbilang cukup menggelikan dengan adanya satu adegan ukiran lucu – terperinci mengecewakan bagi saya. Terlebih film sejatinya mempunyai segudang potensi untuk berubah menjadi sebagai film horor mengesankan berkaca pada komposisinya yang yahud. Sungguh sangat disayangkan.

Acceptable (2,5/5)