October 30, 2020

Review : Langit Ke-7


“Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu.” – Dania 

Jika pada alhasil Langit Ke-7 tidak memenuhi impian sejumlah pihak, setidaknya film ini masih bisa berbangga lantaran mempunyai trailer yang menarik, sinopsis resmi yang bebas spoiler, serta desain poster yang rupawan. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film Indonesia kebanyakan. Ditunjuk untuk mengomandoi Langit Ke-7 yakni Rudi Soedjarwo yang akhir-akhir tengah menikmati menjadi sutradara film untuk konsumsi keluarga terutama sesudah memperoleh respon positif dari aneka macam kalangan. Dalam film panjangnya yang ke-22 ini, Rudi Soedjarwo kembali ke genre yang melambungkan namanya dalam percaturan perfilman Indonesia. Di sini, sekali lagi, dia menimbulkan lima gadis yang tergabung dalam suatu ‘geng’ sebagai sorotan utama layaknya Ada Apa Dengan Cinta?. Hanya saja, kelima gadis ini telah duduk di kursi kuliah dan problem yang mereka hadapi… jauh lebih pelik. Para gadis yang beruntung ketiban tugas utama ini pun merupakan wajah-wajah segar yang belum pernah seliweran di layar lebar. Mereka yakni hasil dari penjaringan ‘Clear Hair Model’ yang di perhelatan sebelumnya telah bekerja sama dengan Rudi Soedjarwo dan membuahkan sebuah film televisi. Dan kali ini, memanfaatkan bakat-bakat gres – termasuk penulis naskah debutan, Virra Dewi – hadirlah sebuah film drama romantis dengan balutan fantasi berjudul Langit Ke-7 yang dilempar ke bioskop-bioskop nasional semenjak 22 November 2012 silam. 
“Kamu percaya takdir?,” pertanyaan yang diajukan oleh Angel (Maureen Irwinsyah) ini menciptakan sahabatnya, Dania (Taskya Namya), yang tengah mengalami kebimbangan hati terlonjak untuk kemudian merenunginya. Dia tidak mempunyai kuasa untuk mengubah takdir. Satu-satunya jalan yakni berusaha seraya memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Kebimbangan yang melanda Dania disebabkan oleh permasalahan klise khas film bergenre drama romantis, cowok. Sang ayah, Sutoro (Pong Hardjatmo), mengidap penyakit yang cukup parah dan khawatir tidak bisa melihat putri semata wayangnya itu melangkahkan kaki di altar sebelum selesai hayat menjemput. Mengingat Dania tidak pernah menggandeng seorang kekasih ke rumahnya, Sutoro pun menjodohkannya dengan putra dari seorang kerabat. Inilah yang menjadi salah satu pemicu ‘kaburnya’ Dania dan keempat sahabatnya ke Pulau Dewata, selain kandasnya hubungan percintaan Visi (Rechelle Lumawas) sesudah sang kekasih, Pio (Nikki Frazetta), kepergok tengah bermesraan dengan perempuan lain. Berniat untuk ‘have fun’ dan melepas semua kepenatan dalam hidup, sebuah petaka malah justru menghampiri lima sekawan ini. Dania mengalami koma sesudah terlibat dalam sebuah kecelakaan kendaraan beroda empat yang serius. Dan film tentu saja tidak berakhir begitu saja, malahan gres saja dimulai. 

Raga Dania boleh saja terbaring tak berdaya, akan tetapi rohnya berkeliaran kesana kemari. Satu-satunya orang yang beruntung (atau malah justru sial?) bisa melihat roh Dania yakni Denan (Aryadila Yarosairy) yang ternyata oh ternyata yakni laki-laki yang hendak dijodohkan dengan Dania. Nah lho! Sebentar sebentar, apakah Anda merasa familiar dengan plot ini, seorang laki-laki didatangi oleh roh dari seorang perempuan yang tengah terbaring koma? Bukankah ini terdengar sangat Just Like Heaven? Tuduhan akan penjiplakan atau kurangnya kreatifitas akan meluncur apabila Anda belum menyaksikan Langit Ke-7 secara utuh. Akan tetapi, dalam kenyataannya, hanya sama dalam ‘template’ semata. Virra Dewi membawanya ke jalan yang sama sekali berbeda. Kesamaan menyerupai ini bukan lagi sesuatu yang gres dalam dunia sinema. Masih ingatkah Anda dengan film animasi dari Disney yang berjudul The Wild? Bukankah itu mempunyai premis yang serupa dengan Madagascar? Dan ini sangat wajar. Film telah berusia lebih dari 100 tahun, maka kalau ada kesamaan diantara satu film dengan film lainnya bisa dipahami. Tentu saja selama tidak sama persis atau setidaknya tak mencapai lebih dari 80 %. 
Secara mengejutkan, saya sangat menikmati sajian Rudi Soedjarwo yang terbaru ini. Dengan ekspektasi yang ditekan serendah mungkin, kepuasan berhasil saya dapatkan kala menyaksikan Langit Ke-7. Jangan terlalu menganggap serius apa yang ada di sini. Nikmati saja apa yang tersaji di layar seraya mengunyah berondong jagung dan menyeruput minuman bersoda. Jalinan penceritaan yang digulirkan oleh Virra Dewi mungkin saja terkesan klise dan gampang ditebak, namun masih ada rasa anggun di dalamnya. Intensitas emosional dongeng pun turut dihadirkan disamping ‘sweetness’ yang menjadi materi baku utama dari genre ini. Tokoh-tokoh yang dimunculkan pun ‘believable’ dan mengasyikkan, walau tentu saja belum bisa menandingi Cinta dkk. Berkat proteksi iringan musik yang megah dari Andi Rianto beserta lagu ‘Layu Sebelum Berkembang’ yang diaransemen ulang, Rudi Soedjarwo berhasil memunculkan beberapa momen yang menyentuh hati dan menciptakan mata berkaca-kaca. Perpaduannya dengan ‘sweetness’ dan humor pun melebur tepat sekalipun terkadang humor dimunculkan terlalu cepat yang menciptakan ‘touching moment’ sedikit terganggu. 
Selain musik Andi Rianto yang menghanyutkan, bidikan Arief R Pribadi yang memunculkan gambar-gambar indah memanjakan mata turut menjadi salah satu poin yang memperkuat film ini. Para pemain pendatang gres pun sama sekali tak mengecewakan. Saya kagum dengan betapa natural-nya mereka berakting, khususnya Taskya Namya, Maureen Irwinsyah, dan Nikki Frazetta yang menjadi ‘scene stealer’ dari film ini. Dan… Rudi Soedjarwo pertanda kapasitasnya sebagai salah satu sutradara terbaik yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dia bisa menggubah skrip sederhana buatan Virra Dewi menjadi bahasa gambar yang menarik untuk disimak dan memaksimalkan akting dari para pemain anyar yang terkadang masih sering kagok. Selain itu, product placement – dalam hal ini, Clear – pun patuh kepada jalan dongeng dan tidak ditaruh secara serampangan. Di bawah aba-aba sutradara sekelas Rudi Soedjarwo, Langit Ke-7 pun hadir sebagai film yang manis, ringan, menyenangkan, dan menyentuh dengan tampilan gambar yang menyejukkan mata. Setelah bertahun-tahun tak berurusan dengan kisah romansa, Rudi Soedjarwo masih belum kehilangan sentuhannya. Dia tahu benar bagaimana memerlakukan sebuah film bergenre drama romantis dengan balutan fantasi.

Acceptable