July 2, 2020

Review : Laundry Show


“Kenapa kau sanggup kasih diskon ke Mas Yaya?”

“Kan kata Kokoh pelanggan yakni raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?”

Setidaknya ada tiga faktor utama yang menciptakan aku tergelitik buat menjajal nonton Laundry Show di bioskop: 1) keterlibatan Upi (My Stupid Boss, My Generation) di penulisan skenario, 2) materi promosi yang disajikan dalam bentuk trailer tampak menarik hati bagi aku utamanya pada bab Tissa Biani mengucap obrolan “Kan kata Kokoh pelanggan yakni raja. Lha kalau raja minta potongan harga masa kita nggak ngasih?” dengan ekspresi sengak tanpa rasa bersalahnya, dan 3) hey, jarang-jarang ada kan film Indonesia yang menempatkan profesi tertentu sebagai sorotan utama dalam guliran kisah alih-alih sebatas untuk memperkuat latar belakang si tokoh sentral? Dalam Laundry Show yang digarap oleh Rizki Balki (A: Aku, Benci & Cinta, Ananta) ini, penonton disodori narasi soal membangun kerajaan bisnis laundry secara mandiri. Atau dengan kata lain, menekuni dunia wirausaha. Sebuah guliran penceritaan yang sedikit banyak mengingatkan diri ini pada dwilogi Filosofi Kopi yang mengulik soal profesi barista beserta pahit manisnya terjun ke bisnis kafe kopi. Sedikit banyak pula melontarkan ingatan pada Cek Toko Sebelah yang membahas ihwal persaingan dalam dunia bisnis (di sini, konteksnya yakni toko kelontong) dan kebetulan juga sama-sama menempatkan aksara keturunan Cina di poros utama pengisahan.  

Meski ada keserupaan dengan kedua film tersebut, aksara Uki atau Kokoh (diperagakan Boy William dalam salah satu akting terbaiknya) dalam Laundry Show tidak diceritakan telah mapan secara finansial, atau sudah bermimpi untuk menjadi pengusaha sedari awal, maupun telah memiliki bisnis sukses untuk dilanjutkan. Tidak. Dia merintis bisnis laundry “Halilintar” miliknya dari nol. Gagasan untuk menekuni dunia wirausaha ini pun mendadak terlintas di pikirannya usai ia menyadari bahwa karirnya di agensi periklanan cenderung jalan di tempat. Gagasan ini semakin menguat sesudah pengabdian Uki kepada perusahaan selama lima tahun tak pernah sekalipun diapresiasi oleh sang atasan (Ferry Salim) dan upayanya untuk maju malah membuatnya dilabeli sebagai penjilat. Ditengah kekesalannya, Uki tanpa sengaja menyaksikan sebuah program motivasi di televisi yang kemudian mendorongnya untuk melaksanakan tindakan nekat: mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya, kemudian mengumpulkan seluruh tabungannya, dan balasannya mendirikan bisnis laundry. Tentu saja, Uki tak serta merta mencapai kesuksesan menyerupai dalam bayangannya. Dalam perjalanannya merintis usaha, Uki mau tak mau harus bersabar dalam menghadapi karyawan-karyawannya yang tidak kompeten dan memutar otak demi memenangkan persaingan bisnis laundry dengan seorang wanita yang belakang layar ditaksirnya, Agustina (Gisella Anastasia).


Menilik narasinya yang berpusat pada usaha seorang perjaka dalam membangun kerajaan bisnisnya, gampang untuk mengategorikan Laundry Show sebagai “tontonan inspiratif berpesan moral”. Dan memang betul, ini bukan semata-mata hidangan yang mengajak penonton untuk hura-hura dengan lawakan melainkan turut menggelontorkan pesan ihwal memilih pilihan hidup, keberanian dalam mengambil resiko, serta tentunya, entrepreneurship. Seluruh pesan ini diutarakan oleh Boy William memakai teknik voice over yang mengiringi sejumlah adegan dengan tujuan menjelaskan pemikiran-pemikiran aksara Uki. Terdengar menceramahi atau tidak, itu tergantung perspektif. Bagi aku sih, penyampaiannya terasa asyik-asyik saja buat diikuti dan pesannya yang meluruskan cara pandang terhadap konsep “sukses dalam berwirausaha” pun mengena ke hati. Toh Rizki Balki beserta Upi mengaplikasikan gaya bercerita ini secara konsisten di sepanjang durasi dengan menempatkan Boy William sebagai narator yang mengutarakan kembali pengalaman-pengalamannya selama merintis bisnis laundry kepada penonton. Kaprikornus terasa masuk nalar dikala kemudian ia turut melontarkan sejumlah “pesan moral” dari rangkaian pengalaman jelek yang pernah dialaminya ditengah-tengah ceritanya. Bukan secara ujug-ujug disematkan ke dalam obrolan percakapannya dengan karakter-karakter tertentu hanya demi memfasilitasi munculnya kata-kata motivasi yang tentunya lebih terasa kurang wajar.

Secara langsung sih, aku menikmati apa yang disajikan oleh Laundry Show. Gelak tawa yang dimunculkannya memang tidak pernah benar-benar meledak atau bakal membekas usang di ingatan, tetapi hampir sebagian besar diantaranya bekerja dengan efektif. Saya menyukai karakteristik dari setiap pegawai Uki yang ajaib, khususnya Tiur yang judesnya amit-amit (dimainkan dengan sangat mengesankan oleh Tissa Biani) dan Joni si “otak kecil” dengan logat Madura-nya yang kental (diperankan oleh Erick Estrada). Saya juga menyukai kemunculan momen musikal dalam misi pengintaian yang dikemas cukup meriah. Dan aku pun menyukai pengarahan lincah Rizki Balki yang berpadu manis dengan penyuntingan dinamis Ahsan Adrian, pergerakan kamera santai Aga Wahyudi, serta penataan artistik bagus sehingga memungkinkan Laundry Show untuk tampil enerjik sekalipun sebagian besar durasi mengambil latar di satu tempat: “Halilintar” milik Uki. Dalam penanganan yang kurang tepat, Laundry Show berpotensi menjemukan dan aku sungguh merasa beruntung alasannya yakni tidak menemukan rasa jenuh itu di sini. Satu-satunya keluhan yang sanggup aku sematkan bagi film ini yakni perubahan rasa dalam aksara Uki-Agustina yang kelewat cepat di paruh akhir. Mereka saling taksir pada mulanya, kemudian saling benci begitu mengetahui bahwa mereka yakni tentangan bisnis menyerupai Tom Hanks dengan Meg Ryan dalam You’ve Got Mail (1998). Tapi perseteruan diantara mereka diberi penyelesaian gampang sehingga meniadakan satu sensasi di menit-menit simpulan Laundry Show: gemas. Andai durasi sedikit diperpanjang demi berbagi porsi kisah kasih dua aksara ini, sanggup jadi film akan menggoreskan kesan lebih berpengaruh dari ini.

Exceeds Expectations (3,5/5)