October 18, 2020

Review : Life Of Pi


“In the end we will lose something. But the worse is not taking a chance to say goodbye.” – Pi 

Saya masih duduk terdiam di kursi bioskop ketika satu demi satu penonton mulai berdesak-desakan meninggalkan daerah duduk mereka menuju ke pintu keluar. Kacamata 3D yang hitam dan tebal berhasil menutupi air mata yang mengalir membasahi pipi sehingga penonton di sebelah saya tidak terheran-heran seraya menaikkan alis, “kenapa ini anak?”. Selama beberapa menit ke depan, eh bukan, errr… beberapa jam ke depan, saya masih kesulitan untuk melupakan apa yang telah saya saksikan selama 2 jam lebih itu. Bahkan, saya kehilangan kata-kata untuk sanggup mendeskripsikan betapa mengagumkannya Life of Pi karya Ang Lee. Sungguh, ini yaitu sebuah film yang luar biasa indah. Jika saja ‘gerimis lokal’ tidak turun usai menyaksikan film ini, mungkin saya akan seketika bangun dan bertepuk tangan sekencang mungkin menyerupai yang saya lakukan ketika menyimak The Artist awal tahun ini. Anda mungkin akan merasa bahwa goresan pena saya ini nantinya akan terkesan hiperbola, namun itulah kenyataan yang ada. Inilah yang saya rasakan. Anda boleh sepakat atau tidak, Anda pun boleh percaya atau tidak. Akan tetapi bagi saya, Life of Pi yaitu sebuah pencapaian sinematis yang sangat luar biasa. 
Life of Pi beranjak dari novel laku karangan Yann Martel yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 2001. Tokoh utama dari kisah ini yaitu bocah India berjulukan Piscine Molitor Patel. Keanehan namanya menciptakan beliau kerap menjadi bulan-bulanan rekan sebayanya dengan menerima nama panggilan, “Pissing Patel”. Lelah diperolok, beliau pun memproklamirkan Pi sebagai namanya kala duduk di kursi SMP. Di paruh awal film, penonton disuguhi latar belakang Pi dengan melongok bagaimana kehidupan keluarganya yang mempunyai sebuah kebun binatang lokal. Dikisahkan pula Pi memulai pencarian spiritual dengan mengaplikasikan pedoman dari ketiga agama sekaligus; Hindu, Kristen, dan Islam. Keputusan yang tidak sanggup dimengerti oleh orang di sekelilingnya. Ketika kebun binatang mengalami pailit, Santosh Patel (Adil Hussain) pun tetapkan untuk memboyong keluarganya ke Kanada. Menurut rencana, hewan-hewan yang sekiranya berharga akan dipindahtangankan di Amerika Utara. Keluarga Patel pun menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi samudra yang luas memakai kapal barang milik Jepang. 
Malangnya, di tengah perjalanan, angin ribut menghadang dengan lautan yang mengamuk. Dalam waktu singkat, terjangan ombak menenggelamkan kapal beserta penumpangnya. Tidak ada yang selamat, kecuali Pi (Suraj Sharma), seekor zebra yang terluka, seekor hyena, seekor orangutan, serta seekor harimau berjulukan Richard Parker. Mereka berlima terombang-ambing di atas sekoci memerjuangkan hidup masing-masing. Dengan bergabungnya seekor harimau Bengali dewasa, maka angka impian hidup bagi setiap ‘survivor’ pun tipis terlebih ketika rasa lapar mulai menguasai. Hanya dalam waktu singkat, ketika para binatang mulai bertarung sama lain, Richard Parker dan Pi menjadi dua terakhir yang bertahan. Dan demi mencapai daratan dengan selamat sentosa, maka Pi pun harus sanggup berdamai dengan Richard Parker. Itu yaitu satu-satunya jalan keluar untuk ketika ini. Dengan Pi mulai mendapatkan keberadaan Richard Parker di sisinya, maka mulai ketika itulah sebuah perjalanan yang menggetarkan hati dimulai. Pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan secara perlahan didapatkan. Keraguan yang sempat memenuhi hatinya mulai sirna. Inilah titik balik dari kehidupan Pi! 
Saya tidak akan menceritakan kepada Anda apa yang akan terjadi berikutnya. Jika Anda belum pernah membaca versi novelnya, maka bersiaplah untuk dibentuk terkejut, takjub, dan kagum. Berulang kali saya mengucap ‘Subhanallah’ melihat apa yang dihidangkan di layar. Sungguh mempesona. Apakah saya sedang bermimpi ketika ini? Apakah saya sedang berada di surga? Ini terlihat terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud untuk spoiler, saya terpesona dengan cara Ang Lee menghadirkan pulau meerkat yang mengagumkan, ikan-ikan terbang, atau segerombolan ikan yang membentuk cahaya kala malam hari. Cantik. Bahkan di kala tak ada apapun di sekitar, hanya air di samudra, sekoci, serta langit, keindahan pun tetap berhasil ditonjolkan. Membahas perihal visualisasi maupun sinematografi dari Claudio Miranda, rasanya nyaris semua penonton yang telah menyaksikan Life of Pi sepakat bahwa ini menjadi salah satu kekuatan dari film yang disutradarai oleh penggondol ‘Best Director’ di ajang Oscar melalui Brokeback Mountain ini. Air liur menetes-netes ketika melihatnya. Ucapan tasbih tak lagi meluncur dari verbal mungil saya karena saya telah mencapai… orgasme. Tuhan. 
Anda mungkin akan bertanya-tanya, bukankah sebelum Life of Pi telah hadir The Tree of Life dan Avatar yang juga sangat menakjubkan ditilik dari segi visual? Oh percayalah, dua film tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah diwujudkan oleh Ang Lee di sini. Segala keindahan yang tergurat di layar ditunjang oleh pemanfaatan 3D yang tepat guna. Inilah 3D terbaik yang pernah saya simak selama hidup saya. Rasanya James Cameron yang menerima puja puji atas pemakaian 3D-nya di Avatar yang luar biasa pun harus mengakui keunggulan sutradara kelahiran Taiwan ini. Ang Lee mempergunakan 3D tidak sebagai gimmick semata atau sekadar mengikuti tren, namun lebih kepada kebutuhan cerita. Untuk menonjolkan kedalaman gambar. Penonton pun seperti terlibat dengan petualangan Pi bersama Richard Parker. Seolah kita berada di dalam sekoci tersebut. Dengan begini, penonton tidak hanya duduk manis, pasif, dan pada alhasil berkata ‘3D-nya sepakat juga ya.’ Selesai cerita. Akan tetapi, yang diharapkan, penonton serasa dilibatkan ke dalam film, seakan mempunyai kontribusi meski bergotong-royong hanya sanggup melihat tanpa sanggup berbuat apapun. 
Kekhawatiran para penggemar novelnya yang mendeskripsikan Life of Pi sebagai ‘novel yang sulit dituangkan dalam bahasa gambar’ pun pada alhasil tidak terbukti. Ang Lee menjalankan tugasnya dengan sempurna. Hands down. Dari segi visual dan pemakaian 3D, sudah tidak perlu dijabarkan lagi. Saya telah berpanjang lebar menjelaskan betapa ajaibnya tampilan gambar film ini di paragraf sebelumnya. Yang terlewatkan dari goresan pena memusingkan saya di atas yaitu Life of Pi pun menerima kontribusi yang memuaskan dari departemen akting dan naskah. Sebagai pendatang gres yang untuk pertama kalinya berlakon di film bioskop, Suraj Sharma menyuguhkan akting yang nyaris tiada cela. Ini mengingatkan pada Tom Hanks di Cast Away dimana hampir sepanjang film beliau menggerakkan film sendiri bersama Wilson yang ya… hanyalah berupa benda mati berbentuk bola voli. Itulah yang dialami oleh Suraj Sharma. Kala terapung di lautan Pasifik, beliau yaitu satu-satunya pemain drama di sana secara harfiah. Richard Parker dimainkan beberapa ekor harimau, dan malah seringkali dihidupkan oleh CGI. Emosi yang naik turun dihantarkan dengan ekspresi yang meyakinkan dan menggugah hati tanpa terkesan berlebihan. Empati penonton pun dengan gampang tersemat kepada tokoh Pi. 
Dari departemen naskah, tidak ada keraguan sama sekali bahwa ini yaitu salah satu naskah pembiasaan terbaik untuk tahun ini. Tulisan David Magee yang bersumber pada karya Yann Martel sangat kuat, menghipnotis, jujur, dan meluluhkan hati. Jujur, saya belum pernah sekalipun menyentuh versi novel meski niatan untuk melahapnya hingga habis pernah terbersit di pikiran. Ketika puluhan ribu kata tersebut bertransformasi menjadi gambar bergerak, saya hanya sanggup tertegun. Ya, inilah salah satu alasan kenapa saya tak bica mengucap satu kata pun usai menyaksikan Life of Pi. Sebuah kisah religi yang menyinggung perihal keyakinan, harapan, dan keberanian disampaikan secara halus tanpa ada kesan menceramahi. Setelah menit demi menit berlalu, dan kemudian credit title merayap, saya pun merasa tertampar. Seandainya saya berada dalam posisi Pi, akankah saya masih memercayai bahwa Tuhan mempunyai sifat Maha Penyayang? Atau dalam tingkatan ekstrem, benarkah Tuhan itu memang faktual adanya? Ini pun saya jadikan materi untuk berkontemplasi dan introspeksi diri. Merasa berdosa, egois, dan manja mengingat betapa mudahnya saya menyalahkan Tuhan hanya sebab sebuah bencana yang bahkan tidak lebih besar dari semut bila disandingkan dengan apa yang telah dialami oleh Pi. Perspektif saya terhadap kehidupan pun sedikit banyak mengalami perubahan. 

Pada akhirnya, keputusan untuk menyaksikan atau melewatkan Life of Pi berpulang kepada eksklusif Anda masing-masing. Yang pasti, saya telah menyaksikan sebuah tontonan yang begitu magis dan belum pernah saya rasakan sebelumnya kala bertandang ke bioskop. Everything about this movie was simply beautiful. Selama lebih dari dua jam, Life of Pi menciptakan saya bersemangat, terlibat, tersentuh, tertawa, terkejut, hingga tertampar keras-keras. Tak sekalipun merasa bosan. Tak sekalipun! Ang Lee membawa saya ke dalam sebuah perjalanan melintasi samudra yang luas dengan memakai kapal pesiar yang glamor lengkap bersama teman-teman yang menyenangkan dan hiburan yang tak terlupakan. Kepuasan tiada tara berhasil didapat. Ang Lee at his best! Penampilan apik dari para pemain, penceritaan yang menakjubkan, sinematografi yang memesona, visual efek yang mencengangkan, musik skor yang indah, hingga petualangan berbalut fantasi yang penuh kejutan yaitu apa yang akan Anda dapatkan dari Life of Pi. Dan masih ditambah dengan 3D-nya yang merasuk sempurna. Anda tidak perlu menunggu hingga Januari untuk mengetahui apakah Life of Pi akan masuk ke dalam daftar ’20 Film Terbaik 2012 Versi Cinetariz’ atau tidak sebab ketika ini juga saya akan menyampaikan kepada Anda… niscaya masuk.

Outstanding