October 18, 2020

Review : Lights Out


“Sometimes the strongest thing to do is to face your fear.” 

Tahun lalu, seorang mitra mengenalkanku pada sebuah film horor pendek berjudul Lights Out yang diunggah oleh akun berjulukan ponysmasher di YouTube. Durasinya singkat saja, sekitaran tiga menit, tapi daya teror yang dibawanya mampu menciptakan penonton-penonton berhati lemah enggan lagi untuk mematikan lampu hingga kurun waktu cukup lama. Efektifitas penempatan metode menakut-nakutinya di tengah terbatasnya durasi dan (pastinya) bujet layak memperoleh acungan dua jempol. Ponysmasher atau David F. Sandberg tidak hanya memberi rasa takjub lewat Lights Out semata alasannya penelusuran didasari kepenasaran tingkat tinggi akan karya-karyanya mempertemukanku dengan film-film menakutkan lain darinya yang tidak kalah menggedor jantung, menyerupai Pictured, Cam Closer, serta Coffer. Dengan popularitas kian menjulang jawaban masifnya penyebaran Lights Out lewat media sosial, tinggal menunggu waktu bagi sang sutradara untuk mendapat undangan berkolaborasi dari para petinggi Hollywood. Benar saja, hanya terhitung tiga tahun semenjak versi pendeknya mulai menjumpai penggemarnya, Lights Out mendapat kesempatan menghiasi layar-layar bioskop dunia dalam wujud film panjang. 

Karakter penjaga baris lini utama di Lights Out yaitu Rebecca (Teressa Palmer). Bukan tipikal gadis baik-baik menyerupai kebanyakan heroine di film horor, Rebecca digambarkan enggan merajut janji bersama sang kekasih, Bret (Alexander DiParsia), dan memiliki hubungan bermasalah dengan sang ibu, Sophie (Maria Bello), sehingga membawanya pergi dari rumah. Relasi antar ketiga huruf ini perlahan mulai berubah semenjak Rebecca mendapat panggilan dari sang adik, Martin (Gabriel Bateman). Kesulitan memejamkan mata kala malam hari karena menjumpai kejanggalan pada sikap Sophie, Martin meminta pinjaman pada Rebecca untuk menampungnya sementara di apartemennya. Kedatangan Martin ternyata mengembalikan kenangan jelek dari masa kecil Rebecca terhadap sesosok misterius berjulukan Diana. Mendapati keberadaan makhluk mistik yang mengerikan nan mengancam setiap kali penerangan dipadamkan, Rebecca mulai mengorek masa kemudian Diana yang disinyalir merupakan dalang dari setiap teror di sekitarnya. Dalam investigasinya, Rebecca tidak saja menjumpai fakta memilukan mengenai Diana tetapi juga mengungkap diam-diam kelam keluarganya termasuk masa kemudian Sophie dan keberadaan ayah kandungnya. 
Lights Out bukanlah film horor bencong penampakan – kalau itu yang kau khawatirkan. Guna mencekam penonton, David F. Sandberg banyak mempergunakan trik membangun atmosfir setidaknyaman mungkin yang berarti kau akan sering melihat lorong-lorong panjang nan gelap, situasi sunyi yang serba janggal seperti ada sesuatu disana tapi kau tidak bisa meyakininya secara niscaya (kebanyakan menyebutnya metode “there or not there”), hingga sekelebatan-sekelebatan yang cepat menghilang sebelum kau sadari, ketimbang mempersilahkan si hantu menampakkan wujud utuhnya. Dampaknya, riuh rendah jerit tawa penonton di dalam bioskop mungkin akan jarang terdengar kecuali pada menit-menit tertentu dikala Sandberg memutuskan untuk rehat sejenak dari “gangguan rasa” ke penonton dan melepas jump scares berpenempatan efektif yang akan menciptakan kita terlonjak di dingklik bioskop. Hanya saja, mengingat ruang gerak si hantu sangat terbatas yakni di luar jamahan cahaya, trik menerornya cepat sekali kehabisan materi bakar. Mula-mula membangunkan rasa takut, namun usang kelamaan mulai terbiasa karena cenderung repetitif meski bohong sekali kalau menyampaikan sama sekali tidak terperanjat. 

Kekhawatiran adanya pengulangan berkelanjutan sebenarnya telah mengemuka sedari proyek film ini diumumkan. Sebagai film pendek, teror “jangan coba-coba matiin lampu alasannya ada sesuatu berbahaya dibalik kegelapan” bekerja sangat baik. Tapi dikala direntangkan menjadi film panjang berdurasi satu setengah jam, errr… tidak terlalu. Upaya mengisi kekosongan supaya penonton tidak terhantam kejenuhan pada kesannya memunculkan gagasan-gagasan penuh tanda tanya menyerupai bagaimana Diana bisa berada di apartemen Rebecca (tidak akan dijabarkan lebih lanjut demi menghindari spoiler) atau menggelikan utamanya ketika salah satu huruf mengeluarkan kunci mobilnya (tebak sendiri untuk apa!). Dua faktor yang lantas menghindarkan Lights Out dari julukan ‘film horor medioker’ yaitu sumbangsih akting anggun jajaran pemainnya menyerupai Teressa Palmer, Maria Bello, serta Gabriel Bateman yang cukup bisa menghidupkan elemen drama keluarga emosionalnya, dan masih adanya teror-teror cermat kreasi David F. Sandberg yang akan membuatmu setidaknya menempatkan tas di depan wajah untuk menghalau pandangan ke layar. Buat seru-seruan di kala senggang sih, Lights Out bolehlah.

Acceptable (3/5)