October 21, 2020

Review : Little Big Master


Setiap orang pastinya mempunyai pemaknaan berbeda wacana film bagus. Bagi saya, tatkala emosi berhasil dilibatkan – entah itu tertawa, menangis, bersemangat, tegang, atau ketakutan – maka film tersebut telah layak menyandang label ‘bagus’. Sesederhana itu. Dengan semata-mata berpatokan pada definisi ini, maka film laku asal Hong Kong isyarat Adrian Kwan, Little Big Master, telah sangat memenuhi kriteria untuk disebut sebagai film bagus. Melantunkan kisah sepanjang 112 menit yang dasaran kisahnya terinspirasi pada sebuah kisah nyata, Little Big Master tidak segan-segan dalam mengobrak abrik emosi penonton semenjak menit-menit pembuka. Seperti melihat kombinasi antara drama pembangkit semangat asal Indonesia, Laskar Pelangi, dengan melodrama penuh air mata dari Taiwan, Mama Hao (My Beloved), Little Big Master hadirkan sebuah tontonan yang tidak saja akan menciptakan pelupuk mata penonton basah, tetapi juga menghangatkan hati dan menginspirasi. Definitely a must-see! 

Selepas mencopot jabatannya sebagai kepala sekolah di sebuah taman kanak-kanak kelas internasional karena tak lagi setuju dengan sistem pendidikan yang diaplikasikan, Lui Wai-hung (Miriam Yeung) yang menderita tumor tetapkan untuk pensiun dan berkelana ke banyak sekali penjuru dunia bersama sang suami, Tse Wing-tung (Louis Koo). Rencana melancong, begitu pula seluruh kehidupan pasangan ini, mendadak berubah ketika Lui Wai-hung tetapkan untuk kembali mengajar sehabis mendengar gosip mengenai sebuah taman kanak-kanak yang terancam melarat karena kekurangan murid. Awalnya mendapatkan pekerjaan berupah sangat rendah ini supaya para siswanya mempunyai kualifikasi mencukupi untuk sanggup dipindah ke sekolah lebih layak, Lui Wai-hung yang memang mempunyai passion tinggi dalam mengajar malah perlahan tapi niscaya justru jatuh hati pada kelima muridnya dan bertekad menyelamatkan sekolah berusia setengah kurun tersebut terlebih usai mendapati kenyataan pahit dalam kehidupan langsung setiap muridnya. 
Dalam Little Big Master, Adrian Kwan sejatinya ingin mengkritisi sistem pendidikan modern yang dikomersialisasi sedemikian rupa sehingga menyulitkan kalangan bawah untuk memperoleh pendidikan. Alih-alih menyuarakan keberatannya melalui tontonan sarat kritik tajam pedas menyentil, si pembuat film menentukan jalur drama tearjerker yang meliuk-liukkan emosi sedemikian rupa. Dengan topangan dari performa cemerlang setiap pelakonnya – kebanggaan khusus patut disematkan pada Miriam Yeung sebagai sosok hangat yang gampang sekali untuk dicintai, Louis Koo memerankan suami yang penuh perhatian, dan para puteri-puteri kecil yang menjadi anak didik Lui Wai-hung – begitu pula isian musik yang sempurna guna membangunkan nuansa sendu, penceritaan dan penggarapan cermat dari Adrian Kwan, Little Big Master tidak bermetamorfosis sebagai tontonan penguras air mata yang manipulatif maupun murahan. Kentara terasa film ini memang dibentuk dari hati. Dan bagusnya lagi, penonton pun dikondisikan mengenal dekat para huruf inti semenjak awal film sehingga kepedulian terhadap nasib mereka senantiasa mengiringi sampai tutup durasi. 

Sekalipun Little Big Master masih mendayagunakan metode konvensional lewat adegan-adegan klise untuk memancing tangis, ini masih sanggup dibilang manjur. Menariknya, hati berdesir kemudian kemudian tanpa disadari kedua sisi pipi lembap justru bukan semata-mata dipicu karena menyimak serangkaian ketidakberuntungan yang dihadapi oleh keluarga para murid, melainkan seringkali muncul disebabkan oleh semangat juang tinggi dari Lui Wai-hung, murid taman kanak-kanak dan para wali yang masih mempercayai bahwa impian itu akan selalu ada bagi mereka dalam kondisi apapun. Ya, Adrian Kwan tidak hanya mengkreasi Little Big Master sebagai melodrama mengharu biru belaka yang meminta penonton iba pada kondisi para tokohnya, melainkan juga memfungsikannya sebagai tontonan inspiratif sarat motivasi yang akan menggugah semangatmu untuk tidak gampang mengalah pada keadaan. Akan menjadi semakin menarik untuk disimak terutama jikalau kau memang mempunyai jiwa mengajar dan sosial sama tinggi, serta begitu menyayangi dunia pendidikan, menyerupai halnya Lui Wai-hung. Pesan saya sebelum menonton film ini: persiapkan banyak tissue, percayalah, kau akan membutuhkannya. Sungguh sebuah film drama humanis yang menarik!

Outstanding