October 31, 2020
Film / REVIEW / US

Review : London Has Fallen


“London is just the first stop. Just imagine every major city, descending into chaos. Your president dies tonight.” 

Sudahkah kau menonton Olympus Has Fallen yang mempertontonkan keruntuhan Gedung Putih akhir serangan beruntun dari para teroris? Menyukainya? Apabila balasan untuk kedua pertanyaan tersebut yaitu ‘ya’, tentu tidak sulit bagimu dalam menikmati film kelanjutannya yang kali ini memporakporandakan The Old Smoke, London Has Fallen. Sekalipun dikomandoi kepala koki baru, Babak Najafi, yang menggantikan Antoine Fuqua, London Has Fallen masih mengusung semangat serupa dalam penghormatannya ke film-film tubruk Hollywood di abad 1990-an dengan bahan-bahan dasar yang tidak juga berbeda. Perubahan satu-satunya dari Najafi yaitu melipatgandakan dosis – berpatokan pada instruksi tidak tertulis untuk sebuah sekuel yang menuntut peningkatan cakupan skala – sehingga penonton dibutuhkan sanggup bersuka cita karena memperoleh kesenangan maksimum kala menyantap kehancuran kota London di layar lebar. Dan memang, itulah yang akan didapatkan oleh penonton begitu menetapkan membayar tiket bioskop untuk pertunjukkan berjulukan London Has Fallen

Setelah kegagalan Korea Utara melumpuhkan Amerika Serikat melalui serangan di Gedung Putih, sekarang giliran para teroris dari Pakistan yang unjuk gigi dengan merancang kota London – terutama pada sejumlah landmark-nya – sebagai arena berburu Presiden Negeri Paman Sam maupun pemimpin negara lainnya. Dihelatnya upacara pemakaman bagi Perdana Menteri Inggris yang meninggal secara misterius memberi kesempatan emas bagi kelompok teroris pimpinan Aamir Barkawi (Alon Aboutboul) untuk melancarkan teror karena seremoni tersebut turut dihadiri para pemimpin negara-negara berkuasa. Mengingat serangan ini telah dirancang menahun, gampang bagi Aamir beserta kroni-kroninya untuk mengecoh kepolisian Inggris sehingga status London seketika dinyatakan sebagai darurat perang. Seiring tumbangnya para pemimpin dunia satu demi satu, Mike Banning (Gerard Butler) sekali lagi harus menjalankan tugasnya untuk menyelamatkan Presiden Benjamin Asher (Aaron Eckhart) terlebih Aamir berencana menyiarkan proses sanksi Benjamin ke seluruh dunia melalui internet. Tanpa benar-benar mengetahui siapa saja yang sanggup mendapatkan amanah di medan pertempuran ini, maka keselamatan dunia sekali ini pun bergantung sepenuhnya pada Mike dan Benjamin. 

Seperti halnya sang kakak, London Has Fallen memperoleh skor tinggi untuk parade agresi yang gegap gempita tak berkesudahan. Ya, Najafi terbukti tak mengalami kesulitan berarti dalam mendapatkan tongkat estafet dari Fuqua yang ditunjukkannya melalui keterampilan dalam mengolah barisan tubruk pemacu adrenalin. Kesemuanya klise, nyaris tidak bersinggungan dengan kata ‘inovatif’, tapi hey, siapa bersedia melontarkan keluhan kalau si pembuat film berhasil meramunya untuk tetap menciptakan penonton duduk seraya mencengkram akrab dingklik bioskop? Itulah yang dilakukan oleh Najafi pada London Has Fallen. Kamu terang salah daerah apabila mencari guliran pengisahan cerdas, permainan lakon kelas kampiun, atau pengadeganan realistis di sini alasannya sudah terang tergurat (bahkan semenjak sang predesesor) bahwa tujuan utama penciptaan London Has Fallen yakni murni sebagai tontonan eskapisme. Selama semangat penonton sanggup dihidupkan, jantung penonton sanggup dibentuk berdegup kencang, kemudian pada kesudahannya menghela nafas lega di ujung film seraya mengucap ‘phew’ atau sesederhana ‘seru’ maka artinya misi telah ditunaikan dengan sangat baik. 

London Has Fallen, yang elemen-elemennya banyak meminjam film tubruk 90-an khususnya rangkaian film Die Hard (lihatlah, ada sedikit banyak kemiripan karakteristik antara John McClane dengan Mike Banning!), bergabung bersama grup ‘mission accomplished’ tersebut. Sedari menit-menit pertama, Najafi telah mengondisikan kita untuk sigap. Menu pembukanya begitu menggoyang pengecap sampai-sampai membentuk rasa penasaran, “kekacauan menyerupai apa yang akan ditimbulkan oleh para teroris ini?,” disamping keingintahuan terhadap kompetensi Najafi menyembulkan ketegangan. Kala Benjamin dan para bawahannya kesudahannya menjejakkan kaki di London, sajian utama lantas dihidangkan tanpa banyak berbasa-basi. Ledakan-ledakan, desingan peluru, dan kejar-kejaran (dari paling dasar memakai kaki hingga paling sophisticated memanfaatkan helikopter yang menghadirkan satu adegan pengejaran mendebarkan) konstan terdengar. Hanya sesekali mempersilahkan penonton menghembuskan nafas melalui pembubuhan humor yang agak disayangkan terasa garing, pemandangan brutal berupa Mike membabi buta menghabisi para teroris terus berlanjut hingga puncaknya pada sajian epilog yang tervisualisasikan cukup apik seakan-akan kita tengah memainkan video game

Apakah lebih baik ketimbang Olympus Has Fallen? Well, jawabannya sangat mungkin terpecah antara ‘ya’ atau ‘tidak’. Walau secara eksklusif menganggap jilid pendahulu tetaplah lebih superior – terutama disebabkan faktor tidak bergunanya Morgan Freeman, Mellisa Leo, dan Jackie Earle Harley di seri kedua ini serta keleluasaan ruang gerak sedikit meminimalisir intensitas – namun tak sanggup disangkal London Has Fallen yaitu sebuah hidangan memuaskan. Memenuhi semua pengharapan yang sanggup kau menetapkan pada sekuel dari film instruksi Fuqua tersebut. Apabila kau berencana untuk menyegarkan pikiran dari rutinitas sehari-hari yang padat atau semata-mata rindu pada kegilaan film tubruk abad 90-an yang menghadirkan pahlawan sulit tertaklukkan melawan  teroris kelas internasional, maka London Has Fallen yang sanggup diwakili dalam tiga kata; seru, menegangkan, dan mengasyikkan, ini yaitu pilihan sempurna untuk kau konsumsi di layar lebar.

Acceptable (3/5)