October 20, 2020

Review : London Love Story 3

“Cinta sejati tidak punya sebuah akhir. Aku mohon sama kamu, jangan menyerah.” 

Mungkin tidak sedikit dari kalian yang bertanya-tanya, kok bisa sih intrik dalam kisah cinta Caramel (Michelle Ziudith) dengan Dave (Dimas Anggara) yang tidak rumit-rumit amat ini membutuhkan hingga tiga jilid London Love Story untuk diselesaikan? Jawabannya bergotong-royong sederhana saja – dan saya cukup yakin, kalian niscaya telah mengetahuinya – yakni produk diterima dengan baik oleh publik. Instalmen pertama London Love Story menandai untuk pertama kalinya film produksi Screenplay Films bisa mencapai 1 juta penonton, sementara seri keduanya sekalipun mengalami penurunan tetap sanggup dikategorikan laku manis. Menilik pencapaian ini, tentu tidak mengherankan kalau kemudian drama percintaan yang mendayu-dayu ini diekspansi ke dalam tiga seri sampai-sampai judulnya tidak lagi relevan dengan latar penceritaan. Ya, London hanya muncul sekitar 15 menit di seri kedua yang sebagian besar memanfaatkan panorama Swiss sebagai jualan utama dan hanya sekejap saja di seri ketiga yang memboyong latar kisah ke Bali sehingga lebih sempurna rasanya kalau London Love Story 3 beralih judul menjadi Bali Love Story

London Love Story 3 membuka kisahnya dengan adegan wisuda Caramel (saya gres nyadar ternyata selama ini beliau kuliah lho, Guys!) yang dilanjut program lamaran. Jangan bayangin lamaran yang dihadiri sanak saudara ya alasannya di sini lamarannya berlangsung di atas kapal pesiar yang mengarungi Sungai Thames. Usai dilamar oleh Dave, Cara pun memutuskan untuk mudik ke Indonesia – bersama dengan calon suaminya yang tajir melintir itu, tentu saja. Mereka berencana untuk melangsungkan ijab kabul di Pulau Dewata, daerah dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Tidak usang sehabis mengutarakan niat ini kepada orang bau tanah Cara, dua sejoli ini pun bertolak ke Bali dengan maksud mengenang momen-momen perjumpaan mereka seraya (mungkin) mencari lokasi ijab kabul yang cocok di hati. Berselancar, jalan-jalan di pantai, dan berkeliling dengan kendaraan beroda empat mevvah yaitu hal pertama yang keduanya lakukan sesampainya di Bali. Sayangnya belum juga puas bernostalgia, mereka diusik oleh kehadiran Rio (Derby Romero) yang membawa pesan dari masa lalu. Tidak hanya sosok Rio yang menciptakan liburan Cara dan Dave kurang khidmat, tetapi juga sebuah kecelakaan kendaraan beroda empat yang menjadikan kaki Cara terancam lumpuh untuk selamanya.
Sejujurnya, saya cukup menikmati London Love Story 2. Dibandingkan film pembukanya yang cenderung “suka-suka gue” dalam bertutur, jilid ini lebih bisa ditolerir dengan konflik dan barisan huruf yang (sedikit) lebih bisa diterima oleh nalar. Bahkan, muncul rasa pedih tatkala sosok Gilang (Rizky Nazar) – yang sejatinya lebih menarik disimak ketimbang Dave dan Cara – ‘dibunuh’ oleh si pembuat film demi memberi keleluasaan bagi dua sejoli utama untuk melanjutkan relasi mereka. Mengetahui ada perbaikan pada seri kedua, maka terang bohong kalau saya menyampaikan tidak optimis terhadap babak pamungkas London Love Story. Saya optimis sekali. Siapa tahu kisah percintaan Cara-Dave bisa berakhir segreget Cinta-Rangga, yekannnn? Ya siapa tahu. Untungnya saya tidak pernah mengutarakan angan-angan (berlebihan) ini kepada siapapun alasannya kalau melihat hasil simpulan London Love Story 3, saya yakin beberapa mitra akan mengatakan, “loe halu banget, sumpah!.” Berharap lebih terhadap film percintaan arif balig cukup akal buatan Screenplay Films terang bukanlah pilihan. Malah diri ini juga sangat menyesal telah berbaik sangka kepada London Love Story 3 alasannya alih-alih menghadirkan epilog layak yang menciptakan kita terkenang pada kisah asmara Cara-Dave, seri ini justru lebih mirip lelucon yang bertujuan untuk menertawakan kisah cinta mereka berdua. 

Paham sekali alasan dibalik keputusan produser untuk merentangkan London Love Story hingga ke seri ketiga. Hanya saja, sulit disangkal bahwa kisah kasih Cara-Dave yang secethek sungai di animo kemarau ini terang tidak memungkinkan untuk dikembangkan lebih jauh lagi. Alhasil, konfliknya pun berputar-putar disitu-situ saja dengan banyak sekali kekonyolan yang mengikutinya. Selama tiga seri, karakter-karakter inti yang terlibat dalam cinta segitiga Cara-Dave-Gilang mengalami kecelakaan. Ada yang koma, ada yang lumpuh, ada pula yang meninggal. Apakah mereka terkena kutukan? Bisa jadi. Yang jelas, si pembuat film menganggap satu-satunya cara menciptakan penonton termehek-mehek yaitu memberi petaka kepada huruf kesayangan mereka ini. London Love Story 3 terasa semakin menjadi-jadi kekonyolannya berkat rengekan Cara mengenai kaki lumpuhnya yang tak berkesudahan (sampai-sampai muncul harapan buat berteriak, “Mbak, Istighfar, Mbak!” kemudian melakban mulutnya) dan penyelesaian yang menciptakan saya menyadari bahwa ‘keajaiban’ beserta ‘kebetulan’ yaitu kata kunci yang dijunjung tinggi oleh franchise ini. Andai saja konklusi pada Ayat-Ayat Cinta 2 tempo hari tidak memelintir logika sedemikian rupa, mungkin saya sudah memperlihatkan standing ovation heboh untuk penyelesaian problem yang ditawarkan oleh London Love Story 3. Film ini pertanda bahwa keajaiban cinta sejati itu memang kasatmata adanya.

Poor (2/5)