October 16, 2020
Film / REVIEW / US

Review : Looper

I’m gonna fix this! I’m gonna find him, and I’m gonna kill him!”

Sekali lagi, salah satu sineas Hollywood menyuguhkan ramalannya mengenai masa depan dalam film terbaru garapannya. Tidak terlalu berbeda dengan para pendahulunya, ramalan ini pun bersifat pesimistis. Perekonomian di negeri adikuasa Amerika Serikat runtuh yang berimbas pada munculnya organisasi-organisasi yang bergerak di bidang kriminalitas. Kekacauan terjadi dimana-mana, meski dalam imajinasi Rian Johnson, belum hingga pada tahapan menyerupai yang diperlihatkan oleh Children of Men. 30 tahun dari sekarang, selain kehancuran di sektor ekonomi, tidak banyak perubahan fisiologi. Untuk menggambarkan setting futuristik, Rian Johnson menambahkan sepeda motor terbang, penyemprot flora masa depan, ponsel tablet transparan nan pipih, serta masyarakat yang dianugerahi kemampuan telekinesis. Sebagai akhir dari tingginya ‘angka kelahiran’ pelaku tindak kriminal, maka muncul semacam institusi yang memekerjakan sejumlah orang yang disebut ‘looper’ yang mempunyai fungsi untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Sayangnya, institusi ini pun merupakan milik dari bos kriminal kelas kakap sehingga kehadiran ‘looper’ tidaklah melegakan bagi masyarakat. 
Sang ‘looper’ yang beruntung kebagian sorotan lebih dalam film ketiga bikinan Rian Johnson bertajuk Looper ini yaitu Joe Simmons (Joseph Gordon-Levitt). Joe bekerja sebagai ‘looper’ untuk sebuah gembong Mafia di Kansas. Dalam pekerjaan, Joe termasuk seseorang yang berdedikasi. Dia menumpuk ribuan bilah perak, yang diberikan kepadanya sebagai upah, sebagai bekalnya untuk menghabiskan masa renta di Prancis. Tapi namanya juga bekerja di ranah kriminal, tentu saja ancaman akan senantiasa mengintai dan rencana futuristis pun perlu diberi cadangan sebagai langkah untuk mengantisipasi kegagalan yang mempunyai peluang besar menanti. Awal dari tragedi yang siap memporakporandakan kehidupan Joe dimulai ketika rekannya, Seth (Paul Dano), mendadak muncul di apartemennya meminta pertolongan. Joe dihadapkan pada dilema antara menentukan untuk menyelamatkan teman atau menyelamatkan harta. Sang bos mengancam, perak milik Joe akan disita kalau tidak menyerahkan Seth. Satu warta yang terekam di ingatan Joe kala menyembunyikan Seth, nasib ‘looper’ tengah terancam. Di masa depan, tahun 2074, muncul seseorang (atau sesuatu) berjulukan The Rainmaker yang memegang kontrol penuh atas semua organisasi kriminal serta berambisi untuk melenyapkan para ‘looper’. 
Hal ini seakan bukan duduk perkara besar bagi Joe alasannya tidak berdampak pada kehidupan pribadinya. Setidaknya itu yang bersemayam di pikirannya sebelum segalanya dijungkirbalikkan keesokan harinya. Jam kemunculan sasaran dari masa depan telah berada di tangan. Joe pun sudah siap sedia di lokasi ‘eksekusi’ dengan pelatuk di tangan. Dalam benaknya, hari itu yaitu hari biasa menyerupai sebelum-sebelumnya. Hingga kemudian sasaran yang dinanti ‘mendarat’ di atas karpet plastik. Selama beberapa detik, Joe tercekat. Ternyata, sasaran teranyarnya adalah… dirinya sendiri (Bruce Willis)! Looper memulai dongeng dengan tensi yang meninggi. Semakin jauh Anda diajak ke dalam, maka pergerakan grafik tensinya pun turut meningkat. Ini yaitu tipe film yang sebaiknya Anda jangan tahu terlalu banyak mengenai seluk beluknya. Dengan warta serba sedikit yang dibawa ke dalam gedung bioskop, maka misteri yang digulirkan Rian Johnson bertahap akan menciptakan Anda betah memandangi layar bioskop seraya mencoba untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi kemudian atau apa yang bekerjsama terjadi. Durasi yang memanjang hingga 118 menit pun tidak lagi menjadi soal. 
Menonton Looper pun menjadi salah satu pengalaman menonton paling mengasyikkan yang saya dapatkan, setidaknya untuk tahun ini. Johnson bisa memadukan thriller, romansa, dan sedikit bumbu komedi menjadi satu kesatuan yang apik. Sekalipun mengusung genre fiksi ilmiah, Johnson pun berusaha sebisa mungkin untuk mengindari istilah-istilah rumit nan njelimet yang biasanya menjadi duduk perkara utama bagi penonton awam untuk bisa menikmati film dari genre sejenis. Pun begitu, Anda tetap diminta untuk berkonsentrasi semoga sanggup memahami apa yang ingin disampaikan oleh sang sutradara secara utuh. Johnson sengaja menebar dan membiarkan puzzle berceceran dimana-mana guna Anda susun sendiri. Inilah yang menciptakan Looper sedap untuk disantap. Bagi yang mengharapkan tontonan serba agresi full tembakan dan ledakan, bersiap kecewa. Peningkatan tensi yang saya maksud dalam paragraf sebelumnya tidaklah merujuk pada aksi, melainkan misteri yang melingkupi film. Sesekali memang terasa memusingkan, namun seringkali Johnson sanggup membawa saya melewati fase deg-degan yang menyenangkan. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mengasihi film ini. Looper telah membawa saya ke dalam sebuah perjalanan seru yang penuh dengan hal-hal mengejutkan yang di dalamnya mengandung naskah cerdas berisi, akting menawan para pemain, serta kandungan hiburan dengan dosis yang pas.

Outstanding