October 19, 2020

Review : Love For Sale 2


(ulasan mengandung spoiler, jadi berhati-hatilah di dua paragraf akhir)

“Belum pernah saya lihat mamakmu sebahagia mirip kini ini. Auranya… bersinar!”

Bagi sebagian orang, Arini (Della Dartyan) yaitu salah satu huruf fiktif paling keji dalam sinema dunia yang semestinya dilaknat. Alasannya, sebab dia mendadak pergi tanpa pamit dan meninggalkan seorang laki-laki yang menaruh rasa teramat dalam kepadanya di ketika sang laki-laki sedang sayang-sayangnya. Tindakan Arini ini terperinci tidak sanggup dibenarkan oleh kemanusiaan. Terlebih lagi, laki-laki tersebut juga telah terlampau usang tak memperoleh belaian penuh cinta kasih dari seorang perempuan. Jika kemudian ada yang mengantagonisasi Arini atas tindakannya kepada bujang lapuk kesepian berjulukan Richard (Gading Marten), tentu sanggup dipahami. Walau sejatinya pernyataan “Arini yaitu villain” sanggup dipatahkan seketika apabila penonton bersedia untuk mengilas balik ke awal perjumpaan dua huruf utama dalam Love for Sale (2018) ini. Satu hal yang perlu digarisbawahi, Arini hanyalah pegawai di Love Inc. – perusahaan penyedia pasangan sewaan yang konsepnya ibarat Family Romance di Jepang – yang kebetulan menerima penugasan untuk mendampingi Richard. Dia mempunyai kontrak yang harus dipatuhi, dia juga mempunyai perasaan yang mesti dibatasi. Hubungannya dengan klien bersifat profesional, tidak pernah lebih. Apabila percikan asmara lantas menghinggapi klien, bukankah kesalahan ada di pihak klien karena telah mendobrak batasan? Melalui Love for Sale 2, Andibachtiar Yusuf (Hari Ini Pasti Menang, Romeo Juliet) yang masih menduduki bangku penyutradaraan berupaya untuk “memperbaiki citra” Arini yang kadung tercoreng ini. Dalam narasi yang diekspansi lebih luas lagi demi menuruti hukum tak tertulis untuk sekuel, ada sepenggal narasi yang akan mendorong penonton untuk memahami motivasi sesungguhnya dari “sang villain”.

Kali ini, Arini mengenalkan dirinya sebagai Arini Chaniago. Seorang wanita berdarah adonan Minang-Bugis yang tengah mencari kos di rumah keluarga Tauhid Sikumbang karena akan mengikuti training dari suatu perusahaan di Jakarta. Dalam sesi perkenalan singkatnya, Arini turut mengaku pernah menjalin relasi asmara secara singkat dengan Indra Tauhid Sikumbang alias Ican (Adipati Dolken) semasa menimba ilmu di Bandung. Ican sendiri yaitu pelanggan dari Love Inc yang menggunakan jasa perusahaan tersebut untuk menemukan sesosok wanita yang sanggup diperkenalkannya kepada sang ibu, Rosmaida (Ratna Riantiarno), yang terus menerornya dengan pertanyaan “kapan kau mau menikah?.” Dalam pandangan Bu Ros yang masih menjunjung tinggi sopan santun Minang, Ican yang telah berusia 32 tahun dan mempunyai pekerjaan tetap semestinya sudah membina rumah tangga. Apalagi putra sulung sekaligus bungsunya, Ndoy (Ariyo Wahab) dan Buncun (Bastian Steel), sudah pula dikaruniai momongan sekalipun keduanya masih sering berkonflik dengan Bu Ros karena cara mereka menjalani hidup tidak sesuai dengan keinginan sang ibu. Di ketika Bu Ros berpesan ingin melihat Ican menikah sebelum dirinya menghadap ke Yang Maha Satu, Ican yang teramat sumpek pun memutuskan untuk mengontak aplikasi Love Inc yang lantas mengirimkan Arini. Kehadiran Arini dengan pembawaannya yang santun terperinci seketika menarik perhatian Bu Ros yang memang mendamba menantu berdarah Minang yang cendekia memasak dan rajin beribadah. Menyadari bahwa dia mempunyai peluang besar untuk mendapatkan menantu idaman, hati Bu Ros yang tadinya senantiasa gelisah perlahan tapi niscaya berkembang menjadi bungah. Tak ada lagi kebencian, tak ada lagi omelan berkepanjangan, dan hanya ada kepedulian yang dia tebar kepada keluarganya.


Bagi mereka yang telah menyaksikan jilid pertama, tentu ada satu pertanyaan yang menggelayuti diri tatkala mengetahui Love for Sale berlanjut ke babak kedua: bagaimana kelanjutan kisah pencarian Arini yang ditempuh oleh Richard? Menjumpai titik terang kah, atau justru dihadapkan pada jalan buntu? Ketimbang memberi balasan atas keingintahuan penonton dengan mendedahnya ke dalam bentuk narasi, Andibachtiar Yusuf bersama M Irfan Ramli selaku penulis skenario justru mengkreasi satu jalinan pengisahan gres dengan problem lebih kompleks dimana salah satu misinya yaitu membawa penonton kepada pemahaman bahwa Arini bukanlah huruf bengis yang sepatutnya dilaknat. Dia tidak ibarat huruf Summer dari 500 Days of Summer (yang sesungguhnya juga tidak keji), dia malah lebih mendekati huruf Mary Poppins yang berniat membagikan kebahagiaan kepada orang-orang yang membutuhkan. Orang-orang yang membutuhkan belaian kasih sayang. Sungguh mulia, bukan? Love for Sale 2 memang memberi kita sedikit pandangan terhadap huruf Arini meski pada akibatnya tak ada penggalian lebih mendalam guna menjaga sisi misterius dari sosoknya, dan ketiadaan waktu untuk menjabarkannya secara menyeluruh. Saya langsung tidak mengeluhkan mengenai hal ini sebab “misterius” yaitu kata kunci yang menciptakan film pertama sanggup bekerja dengan baik, disamping problem yang relate ke banyak orang. Kita sama sekali tidak mengenal Arini, kita tidak benar-benar mengetahui tentang Love Inc yang ada kalanya mencurigakan, dan kita justru menaruh ketertarikan sebab itu. Dalam instalmen kedua ini, sisi misterius tersebut agak tereduksi sebab billboard halte yang mengindikasikan bahwa Love Inc yaitu aplikasi komersil yang menyasar khalayak ramai. Bukan hanya sanggup terdeteksi oleh orang-orang tertentu yang membutuhkan jasanya.


Dibandingkan jilid pertama (sulit untuk tak mengomparasi sebab ada komplemen “2” pada judul) yang sanggup menguarkan kesan “misterius nan magis”, Love for Sale 2 cenderung kurang menggigit. Memang betul senyuman Arini yang semakin lebar di sini akan meluluhkan hati banyak penonton dan problem yang berkisar pada “orang bau tanah banyaomong yang gemar merongrong anak-anaknya dengan pernikahan” akan teresonansi ke banyak penonton. Hanya saja, film mengajukan terlalu banyak konflik beserta huruf yang menciptakan narasi kesulitan dalam menempatkan fokusnya. Keberadaan Arini beserta Love Inc cenderung terpinggirkan, Ican hanya mempunyai peranan krusial di menit-menit pertama yang kemudian kian kabur seiring berjalannya durasi, huruf pendukung di sekeliling nyaris tak berkontribusi pada pergerakan kisah (contoh: Iskandar yang diperankan oleh Egi Fedly), dan film sebetulnya berceloteh mengenai Bu Ros yang tidak sanggup mendapatkan keluarganya secara apa adanya. Ada ekspektasi-ekspektasi tinggi yang dibebankan kepada putra-putranya, tanpa pernah sekalipun memberi kesempatan untuk membuka obrolan lintas generasi dengan satu pertanyaan awal, “apa yang sesungguhnya kau inginkan dalam hidup?.” Walau huruf Bu Ros ini sejatinya menggelitik, film tak menyediakan cukup banyak momen personal antara dirinya dengan anak-anaknya dimana pesan mengenai “komunikasi dan pengertian dalam lingkup keluarga” sanggup berbicara sangat lantang. Alhasil, huruf ini menjadi sosok mengesalkan satu dimensi yang sulit diberi empati. Saat film menapaki paruh akhir, perubahan mendadak menghinggapi para huruf tanpa titik balik yang meyakinkan: Bu Ros tiba-tiba bersedia mendapatkan keadaan, sementara Ican yang tadinya tak peduli pada urusan hati tiba-tiba menaruh rasa pada Arini. Dua huruf ini, khususnya Bu Ros yang tampak sangat menyayangi Upiak Arini, juga tak terlihat terpukul begitu masa kontrak Upiak berakhir dan dia menghilang tanpa kabar. Saya lebih mencicipi sakitnya Richard, daripada keluarga ini yang menanggapinya secara lapang dada.

Tapi memang, Love for Sale 2 bisa dibilang minim chemistry. Ikatan kimia dalam keluarga Tauhid Sikumbang hanya muncul samar-samar, begitu pula dengan Arini-Ican yang tak pernah menciptakan saya yakin bahwa ada rasa yang benar-benar timbul diantara mereka. Para pemain ini lebih unggul ketika bangkit sendiri-sendiri daripada bersama-sama, meski penggunaan Bahasa Minang dari Ratna Riantiarno terdengar janggal di telinga. Apakah sebab dia yaitu orang Manado? Bisa jadi. Yang jelas, saya yang menggemari film pertama mengalami kekecewaan kala mendapati ada setumpuk elemen yang urung bekerja secara semestinya di Love for Sale 2. Apalagi film telah memperlihatkan pengharapan tinggi dengan premisnya yang seolah menjanjikan akan memberi kehangatan, film telah memberi pengharapan tinggi dari tampilan visualnya yang elegan, dan film juga memberi pengharapan tinggi lewat adegan sangat keren di Baralek pada opening scene yang dibawakan secara long take. Agaknya, keinginan untuk memperumit narasi dengan menjejalkan banyak konflik (termasuk menyelipkan budaya Minang yang belakangan tak menambah apa-apa pada penceritaan) justru berakhir blunder alih-alih menciptakan film terasa semakin sedap untuk dikudap. Sayang sekali. 
  

Note : Ada adegan tambahan di sela-sela end credit. Jangan buru-buru beranjak ya.

Acceptable (3/5)