October 22, 2020

Review : Love For Sale


“Mencintai ialah sebuah pekerjaan yang berat dan penuh resiko. Tapi gue kira, mengambil resiko tidak ada salahnya.” 

Berpatokan pada pemain drama yang dipilih untuk menempati garda terdepan, sutradara yang dipercaya untuk mengarahkan film, serta jejak rekam rumah produksi di kancah perfilman nasional, kita bekerjsama sudah sanggup mengira bahwa Love for Sale bukanlah film percintaan konvensional ibarat yang kerap dicetuskan oleh sineas-sineas tanah air. Betapa tidak, Gading Marten (di usia 35 tahun) bukanlah laki-laki dengan penampilan mentereng yang digila-gilai para wanita ibarat Chicco Jerikho atau Adipati Dolken misalnya, Andibachtiar Yusuf selaku sutradara lebih sering berkecimpung dalam teritori film olahraga ibarat Hari Ini Pasti Menang (2013) dan Garuda 19 (2014), dan Visinema Pictures sebagai rumah produksi masih konsisten menghasilkan film-film dengan mutu sanggup dipertanggungjawabkan hingga detik ini. Dengan modal cukup meyakinkan ibarat ini, tentu tidak mengherankan kalau kemudian muncul ketertarikan untuk merasakan Love for Sale yang premis dasarnya mungkin akan sedikit banyak mengingatkan kita kepada Her (2013) aba-aba Spike Jonze yang berceloteh mengenai seorang laki-laki kesepian yang jatuh cinta kepada perangkat lunak. Tapi tenang saja, kesamaan antara kedua film tersebut tak pernah lebih jauh lagi. Si pembuat film menentukan untuk tak semata-mata melantunkan Love for Sale sebagai film cinta-cintaan tetapi juga menjajaki tema cukup kompleks terkait kesepian, berdamai dengan duka, serta mengikhlaskan masa lalu. 

Dalam Love for Sale, penonton diperkenalkan kepada bujang lapuk berjulukan Richard Achmad (Gading Marten). Di usia yang telah memasuki kepala empat, Richard masih betah hidup sendiri – hanya ditemani seekor kura-kura – dan lebih menentukan untuk menenggelamkan diri pada pekerjaannya yang berkecimpung di bidang percetakan. Richard yang dikenal sebagai pakar cinta ini mulanya beranggapan tidak ada yang salah dengan kesendiriannya hingga kemudian Richard mendapat tantangan dari teman-temannya untuk memperkenalkan kekasihnya kepada mereka di pesta ijab kabul Rudy (Rizky Mocil). Hanya mempunyai waktu selama dua minggu, Richard terang kelabakan terlebih beliau tidak mempunyai banyak kenalan wanita yang masih lajang atau bersedia diajak berpura-pura menjadi kekasihnya. Ditengah keputusasaan, Richard tiba-tiba mendapat solusi dari sebuah aplikasi kencan online, Love.Inc., yang mempertemukannya dengan Arini Kusuma (Della Dartyan). Entah sial entah beruntung, kesalahan manajemen mengakibatkan Richard mau tak mau ‘terjebak’ bersama Arini selama 45 hari alih-alih 5 hari saja. Kehadiran Arini yang anggun dan penuh perhatian di sampingnya, perlahan tapi niscaya merubah kepribadian sekaligus kehidupan Richard yang tadinya monoton menjadi lebih berwarna. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir, Richard karenanya merasakan lagi apa yang disebut dengan cinta.

Selama durasi mengalun yang mencapai 104 menit, penonton dihadapkan pada banyak sekali macam rasa yang tiba secara silih berganti di dalam Love for Sale. Ada kejenakaan, ada rasa manis, dan ada pula rasa getir. Kejenakaan sanggup ditengok melalui interaksi Richard dengan sahabat-sahabatnya, interaksi Richard dengan karyawan-karyawannya di percetakan, maupun interaksi Richard bersama sahabat baiknya, Panji (Verdi Solaiman), yang selalu mempunyai bahan untuk berdakwah. Kehadiran mereka – termasuk Richard sendiri – yang mempunyai perangai absurd kerap kali memunculkan gelak tawa dalam dosis cukup. Fungsinya, menawarkan keseimbangan kepada Love for Sale sehingga tidak terjerembab menjadi tontonan depresif mengingat bahan pembahasannya sendiri sukar dibilang ringan. Kejenakaan ini kemudian dikawinkan dengan rasa manis yang sanggup dicecap, tentu saja, lewat kebersamaan protagonis kita dengan Arini. Si pembuat film tidak menggeber dialog-dialog sarat gombalan yang bikin diabetes untuk memperlihatkan romantisme, melainkan menekankan pada hubungan yang makin bertumbuh diantara dua sejoli. Sosok Arini digambarkan menaruh perhatian sangat besar terhadap pasangan kontraknya – meski ada keraguan bahwa kepedulian ini sejatinya tidak pernah dilandasi dengan ketulusan – sementara Richard ibarat menemukan impian hidup gres sejak Arini berada di dekatnya. Dia merangkul orang-orang yang selama ini diberinya batasan dalam berinteraksi dengannya dan sosoknya yang cenderung keras perlahan tapi niscaya melunak. 

Sebelum Arini memasuki hidup Richard dan kemudian beliau tiba-tiba menghilang, Love for Sale berada pada titik getirnya. Jomlo menahun akhir keengganan untuk mengikhlaskan masa kemudian telah mengakibatkan Richard terperangkap dalam kesepian. Duka yang merundung hatinya dilampiaskan dalam kemarahan-kemarahan kepada anak buahnya sekaligus membentengi diri dari interaksi sosial. Alih-alih menciptakan dirinya menemukan kedamaian, langkah ini justru menciptakan dirinya kian nelangsa sekalipun tidak pernah benar-benar disadarinya. Malam-malam sunyi ditemani bunyi pertandingan sepakbola dari televisi yang berisik menjadi mitra akrabnya selama bertahun-tahun, disamping seekor kura-kura renta berjulukan Kelun. Gading Marten dalam performa sangat mengesankan (yang mungkin tidak pernah diantisipasi oleh kebanyakan penonton) sanggup memperlihatkan sisi ringkih dan menyedihkan dari seorang Richard dibalik topeng tangguh yang dikenakannya. Ditunjang skrip anggun rekaan Andibachtiar Yusuf bersama M. Irfan Ramli, gampang untuk terhubung kemudian menawarkan sumbangan kepadanya alasannya ialah huruf Richard sendiri dekat dengan realita: beliau sanggup saja kamu, beliau sanggup saja orang yang kau kenal. Lebih-lebih, Gading membentuk ikatan kimia meyakinkan bersama pendatang gres Della Dartyan yang auranya memancar besar lengan berkuasa sehingga kita mafhum mengapa sosok Arini sanggup menciptakan Richard bertekuk lutut. Saking meyakinkannya chemistry diantara mereka berdua, bukan mustahil pendukung tim Gisel dan Gempi akan merasa cemas setiap kali melihat Richard dan Arini bermesraan.

Outstanding (4/5)