October 23, 2020

Review : Mad Max: Fury Road

“Oh what a day, what a lovely day!” 

Apabila kau telah memproklamirkan Furious 7 atau Avengers: Age of Ultron sebagai film agresi terbaik tahun ini berkat penataan adegan laganya yang terhitung spektakuler, tunggu hingga kau menyaksikan Mad Max: Fury Road. Jilid keempat dari rangkaian seri Mad Max yang berjasa dalam mengorbitkan karir Mel Gibson ke blantika perfilman dunia sebagai action star ini membuat dua film laku tersebut layaknya film buat kanak-kanak. Tidak tanggung tanggung, Fury Road menggenjot adrenalinmu hingga titik maksimal dari menit pembuka hingga credit title mengular secara liar di layar. Walaupun sang punggawa, George Miller, yang juga ‘ayah kandung’ dari franchise ini telah menginjak usia kepala 7, tapi dia masih paham betul bagaimana caranya membuat gelaran agresi tanpa jeda yang sangat impresif sehingga membuat gedung bioskop yang tengah menayangkan Fury Road sebagai daerah paling kotor di muka bumi alasannya penonton yang dibentuk takjub tak henti-hentinya melontarkan umpatan atau malah justru daerah paling kudus karena penonton mengucap “oh my God!” berulang kali berkat pesona visualnya yang mencengangkan. 

Berlatar di masa depan yang gersang dikala air merupakan barang paling berharga di muka bumi, Fury Road berfokus pada petualangan gres dari Max Rockatansky (Tom Hardy) yang sekali ini ditawan oleh kelompok mutan, War Boys, untuk dimanfaatkan sebagai penyuplai darah khususnya bagi Nux (Nicholas Hoult). Setelah beberapa percobaan dalam meloloskan diri berakhir kegagalan, kesempatan itu tiba dikala Nux memboyong Max untuk menangkap Furiosa (Charlize Theron), panglima dari King Immortan Joe (Hugh Keays-Byrne), yang melaksanakan pemberontakan dengan melarikan lima istri Joe menuju ‘tempat penuh harapan’ memakai War Rig. Dalam kejar mengejar penuh kekacauan antara pasukan Joe yang beringas dengan Furiosa ini, Max risikonya berhasil meloloskan diri dari cengkraman Nux. Tidak mempunyai kendaraan sebagai alat pelindung, maka tidak ada cara lain bagi Max untuk menyelamatkan diri dari serbuan pasukan Joe selain membantu Furiosa merampungkan misinya. 

Ya, Fury Road ialah sebuah film yang benar-benar edan, melebihi dari apa yang sanggup kau pikirkan. Diibaratkan tengah menaiki moda transportasi, Fury Road bagaikan bis malam dengan Miller berada di balik kemudi sementara kita ialah penumpang. Kamu tentu tahu bagaimana kelakuan bis malam, bukan? Melaju kencang seperti tidak dilengkapi rem, ugal-ugalan selap selip kanan kiri, memberi sensasi jantung berdegup kencang bagi para penumpang. Kurang lebih, mirip itulah cara mendeskripsikan paling tepat kesintingan mirip apa yang bakal kau dapatkan di Fury Road. Tontonan beroktan tinggi dengan laju penceritaan melesat cepat yang tidak memperlihatkan kesempatan bagi para penontonnya untuk menghembuskan nafas kelegaan… walau hanya sedetik. Gelaran adegan laganya berkelanjutan – satu kasus terselesaikan, tiba kasus lain – tanpa pernah terasa melelahkan, malah justru memberi candu yang membuat kita diliputi ketidaksabaran untuk menanti-nanti “apa sih yang bakal terjadi berikutnya?” karena Miller melenakan kita melalui ekspo agresi minim efek khusus yang dirangkai secara berani, kreatif, serta segar. Bahkan banyak diantaranya yang belum pernah kita saksikan di layar lebar! 

Rasa-rasanya, setiap orang akan mempunyai highlight versi masing-masing – karena, well… ada banyak adegan menonjol yang sanggup kau pilih – dengan saya menentukan tornado pasir sebagai bab paling disuka. Sulit untuk tidak berdebar-debar, menatap lekat layar, sekaligus menelan ludah dikala pengejaran terhadap Furiosa memasuki ‘debu pekat raksasa’ yang didalamnya terdapat putaran angin buas yang siap kapanpun meremukkanmu. Apa yang akan terjadi disini? Kamu tidak pernah tahu, tapi satu hal terperinci akan ada ledakan maupun benda-benda porak poranda. Dan bila kau menerka bahwa ini menjadi puncak dari segala keseruan, maka terperinci keliru alasannya sesudah itu kita masih mendapati kejar-kejaran mengasyikkan di padang pasir tandus yang melibatkan gitaris cadas penggelora semangat (seriously, he’s epic!), galah (errr, tidak pernah terbayangkan), hingga nenek-nenek mengamuk yang tidak sanggup kau remehkan begitu saja kapabilitasnya dalam bertarung. Boom boom boom! Phew! Para pecandu film agresi bertegangan tinggi terperinci akan tersenyum penuh kebahagiaan melihat cara Miller memanjakan mereka lewat Fury Road ini. 

Soal gila-gilaan maupun kebrutalan dalam menggeber gelaran aksi, Fury Road memang salah satu yang terbaik dalam beberapa tahun terakhir (atau malah dekade!). Tapi ini tidak lantas membuat Miller bermalas-malasan untuk mengolah cerita. Dibalik kemasannya yang meriah, liar, serta berisik dengan jalinan pengisahan yang sepertinya sederhana, Miller bersama duo Brendan McCarthy dan Nico Lathouris rahasia menggeber celotehan yang terbilang cukup kompleks (tapi tetap lezat buat diikuti sekalipun minim dialog) menyoal permasalahan khas film-film post-apocalyptic wacana kemanusiaan maupun sentilan sentilun terhadap kondisi sosial politik masa sekarang yang semakin usang semakin bobrok. Dirajut secara rapi, sektor naskah ini ditopang pula oleh performa sangat mengesankan dari jajaran pemain. Sebagai pemimpin di garda terdepan, Tom Hardy memang memperlihatkan interpretasi mengagumkan untuk tugas ikonik Max tanpa harus menduplikat Mel Gibson, tapi kudos untuk Charlize Theron dan Nicholas Hoult yang menjadi bintang bahwasanya dari Fury Road dengan pesona mereka sedikit banyak melibas Hardy. 

Charlize Theron dengan segala ke-badass-annya sebagai Furiosa yang tangguh, cerdas, tapi rapuh, menjadi sosok ‘ibu’ tepat bagi aktor pendukung wanita lain khususnya Rosie Huntington-Whiteley yang memberi peningkatan memuaskan usai tampil memble di Transformers: Dark of the Moon. Sedangkan Nicholas Hoult, membawakan kiprahnya segila parade koreografi agresi di Fury Road dengan lontaran dialog, “what a day, what a lovely day,” sangat mewakili perasaan penonton yang seketika hati mereka bungah, hari mereka menjadi cerah ceria usai menerima suguhan yang sangat mengagumkan dari George Miller ini. Sulit untuk tidak menjlentrehkan kata-kata bernada hiperbolis dikala memperbincangkan Fury Road alasannya memang mirip itulah filmnya: over-the-top – serba berlebihan dalam memvisualisasikan kegilaan laganya – namun begitu menyenangkan mirip menyaksikan film-film agresi keluaran 70-80’an. Pada akhirnya, gila, liar, gahar, mengasyikkan dan menegangkan ialah sederetan kata paling cocok untuk mendeskripsikan Mad Max: Fury Road. Sebuah instant classic yang tidak keberatan untuk kita tonton ulang lagi dan lagi. Miller memperlihatkan kepada para juniornya di ranah agresi wacana bagaimana seharusnya sebuah film agresi dibuat.

Outstanding