October 22, 2020

Review : Magic Hour


“Kenapa Tuhan membuat hati kalau cuma buat dipatahin?” 

Beberapa pekan lalu, (mungkin) tidak ada yang peduli dengan keberadaan film panjang perdana kreasi Screenplay Films, Magic Hour. Dengan dasaran kisah, jajaran pemain maupun rumah produksi tergolong kerap dijumpai wara-wiri di film khusus televisi sebuah stasiun televisi nasional, gampang untuk menganggap remeh film aba-aba Asep Kusdinar (Dawai 2 Asmara) ini. “Palingan juga nggak ada bedanya dibandingkan FTV,” begitu cibir beberapa rekan dekat. Bisa dibilang Magic Hour tidak memiliki cukup amunisi untuk membuat penonton berduyun-duyun ke bioskop yang belakangan terbukti salah kaprah. Betapa tidak, film yang semula dipandang sebelah mata malah justru menggila di tangga box office dengan merengkuh 173 ribu penonton dalam tempo 5 hari saja! Sebuah pencapaian yang sanggup dikata fantastis apalagi kompetitor di pekan sama terdiri atas remake film laku yang mengandalkan Chelsea Islan dan superhero movie. Seorang mitra menyebutnya sebagai sleeper hit (kuda hitam di industri film dan musik). Diri ini pun dibentuk bertanya-tanya, “apa kekuatan utama film ini sampai-sampai ratusan ribu penonton tersihir untuk menyimaknya di layar lebar?”. 

Semula, gadis belia pengantar bunga yang tergila-gila pada hujan, Raina (Michelle Ziudith), hanya ditugasi oleh saudari angkatnya, Gweny (Nadia Arina), untuk mengumpulkan isu terkait calon tunangannya, Dimas (Dimas Anggara). Mengingat film ini mengambil jalur romansa dan intensitas pertemuan Raina-Dimas juga sanggup dikata sering, maka ya, kau sanggup menebak dengan gampang benih-benih cinta pun tumbuh diantara mereka. Baik Raina maupun Dimas seketika menemukan kembali semangat hidup, menepis segala galau gulana yang selama ini membayangi. Tapi tentu saja perjalanan cinta mereka tidak berlangsung mulus tanpa adanya percikkan konflik. Sahabat Raina, Toby (Rizky Nazar) rahasia menaruh hati ke Raina, Gweny yang kesudahannya berjumpa dengan Dimas tiba-tiba jatuh cinta pada pandangan pertama, dan Dimas rupanya menyimpan rapat-rapat sejumlah rahasia besar dari Raina. Tatkala semua duduk kasus memusingkan ini saling bertubrukan, Raina tertimpa musibah. Sebuah kecelakaan sepeda merenggut penglihatannya! 

Ya, Magic Hour bekerjsama masih mengemukakan problematikanya di seputaran balada asmara remaja. Dengan tontonan khusus cukup umur dikala ini sebagian besar dikuasai oleh genre komedi dari Raditya Dika dan kroni-kroninya sesama komika, maka keputusan Asep Kusdinar membawa film ini menjejakkan diri ke area melodrama terasa tepat. Memberikan alternatif tontonan bagi mereka yang telah jenuh dengan film ngebanyol. Apabila kau ingat film yang mengorbitkan karir Acha Septriasa, Heart, formula diterapkan Magic Hour dalam melenakan penontonnya kurang lebih senada. Ada persahabatan mengarah ‘friendzone’, asmara segirumit, penyakit mematikan, pengorbanan, dan tentunya, dialog-dialog puitis. Nyaris tidak ada penyegaran yang berarti, kalau tak mau dibilang sangat klise. Akan tetapi bagi pangsa pasarnya, Magic Hour akan bekerja sangat efektif. Penonton belia akan mendapati serangkaian adegan yang memberi mereka sensasi gemas menyimak naik turunnya korelasi Raina-Dimas, tertawa lepas mendengar celetukan-celetukan dari para abjad sampingan khususnya Mama Flora (Meriam Bellina), untuk kemudian menangis begitu mengetahui apa yang menimpa Raina-Dimas. 

Magic Hour sanggup dikata berhasil dalam kaitannya menghibur audiens yang menjadi targetnya dengan Raina-Dimas-Toby tak ubahnya generasi sosial media dari Rachel-Farel-Luna. Skrip dari film ini memang sungguh mencederai logika karena si penulis ingin memunculkan momen-momen romantis maupun mencarikan jalan keluar yang gampang bagi sederet konflik tokoh-tokohnya – tidak sedikit diantaranya yang membuatmu ingin menepuk jidat, ibarat halnya dikala menyaksikan keklisean adegan di suatu judul FTV – yang beruntungnya masih sanggup agak tertutupi kepincangannya berkat pertolongan sejumlah twist  khususnya menjelang tutup durasi yang sulit dipungkiri cukup menyentuh, tembang pengiring dari Rendy Matari yang memperlihatkan nyawa lebih pada adegan-adegan krusial, dan performa memikat dari Michelle Ziudith yang sekali lagi bersinar di tengah ramainya cast (dalam pengarahan dan skrip yang gemilang, beliau sanggup menjadi the next Acha Septriasa!). Ya, tuturan yang dikedepankan Magic Hour mungkin akan sulit diterima bagi kau yang alergi dengan melodrama cukup umur picisan, tetapi kalau kau tidak keberatan untuk melahapnya maka sanggup jadi akan tertawa dan termehek-mehek selama menyaksikannya di layar lebar. Pertanyaan wacana “mengapa film ini sanggup sangat laris?” pun terjawab.

Acceptable