June 28, 2020

Review : Mahasiswi Baru


“Kehilangan bukan alasan buat berhenti berjuang. Tapi alasan untuk terus bergerak.”

Apa yang pertama kali terlintas di benakmu dikala mendengar kata “maba” atau mahasiswa/i baru? Remaja polos dari kampung yang membawa mimpi besar-besar ke kota? Atau arif balig cukup akal dengan penampilan bergaya yang mencoba untuk memperlihatkan impresi elok kepada senior di kampus? Apapun definisimu untuk “maba”, satu hal yang sanggup dipastikan yaitu usianya berada di kisaran 18 hingga 20 tahun. Karena bagi sebagian besar orang, status “maba” erat kaitannya dengan arif balig cukup akal yang gres saja final menimba ilmu di SMA. Sebuah pandangan yang tak sepenuhnya salah mengingat jarang ditemukan pria/wanita berusia di atas 30 tahun yang tetapkan untuk mengambil studi S1, sekalipun bukan berarti sama sekali tidak ada. Dalam produksi terbaru MNC Pictures yang bertajuk Mahasiswi Baru, sutradara Monty Tiwa (Matt & Mou, Pocong the Origin) mencoba menghadirkan sedikit pelintiran dengan mengusung premis: bagaimana akhirnya jika seorang nenek berusia 70 tahun menentukan menjadi seorang mahasiswi untuk pertama kalinya? Sebuah premis yang sedikit banyak mengingatkan pada Life of the Party (2018) dan Helicopter Eela (2018), meski kedua judul ini tak seekstrim Mahasiswi Baru yang benar-benar menampilkan seorang nenek (bukan lagi ibu rumah tangga berusia 40-an!) sekaligus menyuarakan pesan “usia bukanlah penghalang bagi seseorang untuk belajar”. Terdengar menggugah selera, bukan?

Dalam Mahasiswi Baru, kita diperkenalkan dengan seorang perempuan berusia 70 tahun berjulukan Lastri (Widyawati) yang tinggal bersama dengan putri, Anna (Karina Suwandi), dan menantunya, Amri (Iszur Muchtar). Suatu hari, didorong oleh keinginannya untuk memenuhi keinginan sang cucu, Lastri mengambil sebuah keputusan besar yang menciptakan putri beserta menantunya terhenyak. Lastri akan kuliah di Universitas Cyber Indonesia, Yogyakarta. Mengingat usianya yang tidak lagi muda, keputusan Lastri terang mengundang rasa heran dari orang-orang di sekelilingnya. Tapi pembawaannya yang ramah, ceria, serta berani membuatnya gampang untuk bersosialisasi di kampus. Dalam waktu singkat, Lastri telah berkawan erat dengan Sarah (Mikha Tambayong) yang modis, Danny (Morgan Oey) yang terobsesi dengan media sosial, Reva (Sonia Alyssa) yang cerdas, serta Erfan (Umay Shahab) yang kritis. Kedekatan Lastri bersama teman-teman barunya ini membawanya terlibat ke dalam banyak sekali duduk kasus yang seketika menciptakan Anna pusing karena sang ibu mendadak berkembang menjadi seorang pemberontak. Keterlibatan Lastri dalam serentetan kasus di kampus ini juga mengancam statusnya sebagai mahasiswi sesudah dekan fakultas, Chaerul (Slamet Rahardjo), menjatuhkan ultimatum: Lastri hanya diperkenakan untuk lanjut kuliah asalkan IPK memenuhi standar. Apabila IPK terbukti berada dibawah rata-rata, maka dia dipersilahkan untuk mengundurkan diri.


Sebagai tontonan yang menapakkan diri di genre komedi, Mahasiswi Baru sejatinya menghibur. Guna memantik tawa penonton, Monty Tiwa pun memberi kita rentetan adegan yang menyoroti upaya Lastri untuk berbaur bersama teman-teman mudanya dengan gaya yang acapkali nyentrik nan janggal. Entah itu mengucap istilah-istilah kekinian, terlibat tawuran, menginterupsi ceramah dekan, hingga membangkang. Melihat seorang nenek yang menikmati masa muda di masa 70-an bertingkah polah selayaknya arif balig cukup akal masa sekarang terang mengundang gelak tawa dan itulah jualan utama Mahasiswi Baru. Ndilalah, Widyawati menyanggupi dalam memerankan Lastri yang jiwa remajanya kembali mengembang. Aktris senior ini terlihat bersenang-senang dengan kiprah yang dimainkannya secara santai. Kita terbahak akhir polahnya, kita pun gemas dengan kegenitannya. Kegenitan yang timbul tatkala ia bersanding dengan Slamet Rahardjo yang diposisikan sebagai sang love interest. Keduanya membentuk chemistry padu yang memungkinkan adegan “ajakan untuk berdansa” maupun “orang spesial” terasa manis sampai-sampai penonton ikut tersipu-sipu aib dibuatnya. Mereka betul-betul tampak menyerupai dua orang kesepian yang sedang kasmaran! Disamping para pemain senior yang turut meliputi Karina Suwandi sebagai putri yang kelabakan, Mahasiswi Baru juga disokong pemain-pemain muda kompeten menyerupai Morgan Oey yang sekali ini terasa mengesalkan, Umay Shahab yang memperlihatkan kapabilitasnya dalam menangani adegan dramatik, serta Sonia Alyssa yang mengundang simpati.

Performa jempolan dari jajaran pemain Mahasiswi Baru ini membantu film untuk tetap menjalankan tugasnya dalam menghibur penonton yang nyaris terbengkalai akhir naskah beserta penggarapan yang kurang konsisten. Memilih untuk bersenang-senang dengan memotret gegar budaya yang dialami oleh Lastri terang tidak keliru, hanya saja, film urung menjlentrehkan soal motivasi si tokoh utama dalam mengikuti perkuliahan. Ketimbang menggalinya yang berarti memperlihatkan pula kegigihan perjuangannya untuk bertahan di kampus, si pembuat film justru berfokus pada gila-gilaan semata seraya menjabarkan motif Lastri sekenanya saja di klimaks. Alhasil, sulit untuk menambatkan simpati pada huruf ini. Saya tak merasa diajak untuk memberi Lastri pinjaman dalam merampungkan studi, saya juga tak merasa ada sesuatu yang dipertaruhkan ketika dirinya menerima peringatan dari dekan. Jika dia drop out, apa yang menjadi masalah? Pertanyaan ini sulit terjawab alasannya yaitu film tidak memperlihatkan kesempatan untuk mengenal Lastri secara mendalam. Malah, film turut menyelipkan subplot kelewat dramatis mengenai nasib salah satu huruf yang bergotong-royong tidak berdampak signifikan ke narasi utama kecuali biar duduk kasus besar sanggup diselesaikan dengan amat mudah. Menilik betapa besar potensi Mahasiswi Baru untuk mengundang haru biru melalui guliran pengisahan, saya terang menyayangkan keputusan-keputusan ini. Beruntunglah film masih memiliki barisan pemain dengan performa ciamik dan momen komedi yang tereksekusi dengan baik, sehingga paling tidak saya masih sanggup tergelak sekalipun hati terasa kosong.

Acceptable (3/5)