October 20, 2020

Review : Maleficent: Mistress Of Evil

“This is no fairy tale.”


Pada tahun 2014 silam, Disney mencoba untuk sedikit bereksperimen terhadap produk layar lebar mereka. Alih-alih memakai kacamata si huruf tituler untuk interpretasi anyar terhadap dongeng klasik Sleeping Beauty, mereka justru menempatkan si huruf villain di poros utama pengisahan. Penonton disodori premis menggiurkan berbunyi, “apa yang bantu-membantu membuat Maleficent begitu kejam hingga tega melukai seorang insan berhati lembut menyerupai Aurora?,” yang tentu saja sulit untuk ditolak. Menempatkan Angelina Jolie sebagai si tokoh jahat yang mempunyai ciri khas fisik berupa tulang pipi tajam, tanduk, serta sayap, khalayak ramai pun menyambutnya secara antusias sekalipun film memperoleh respon bermacam-macam dari kritikus. Satu paling disorot, penggunaan CGI terlampau berlebihan sampai-sampai narasinya terpinggirkan. Padahal, dekonstruksi atas dongeng ini dimana Maleficent dideskripsikan sebagai “makhluk baik yang tersakiti” sejatinya punya kesempatan untuk membuat gelaran mengharu biru. Cukup disayangkan, memang. Mencoba memperbaiki kesalahan tersebut – atau lebih tepatnya, ingin mendulang dollar lebih besar lagi – maka pihak studio pun berinisiatif untuk mengkreasi dongeng kelanjutan bagi Maleficent dengan memakai subjudul Mistress of Evil. Sebuah trik jualan yang lagi-lagi mesti diakui jitu karena subjudul ini akan mengundang ketertarikan bagi sebagian penggemar. Ada satu tanya yang lantas muncul: apakah benar huruf jahat yang telah bertaubat di film sebelumnya, jadinya menentukan untuk kembali bertindak zalim ketimbang bertahan di jalan kebaikan?

Sama sekali bukan spoiler jikalau kemudian saya berujar, “tidak. Si huruf tituler tetaplah baik.” Berbagai materi promosi yang ditebar oleh rumah produksi telah mengindikasikan bahwa Kak Mal lagi-lagi disalahpahami dan bukan betulan jahat. Dalam Mistress of Evil yang latar penceritaannya berselang lima tahun selepas film pertama, pemicu persoalannya ialah agenda janji nikah dari Putri Aurora (Elle Fanning) dan Pangeran Phillip (Harris Dickinson). Dua insan ini memang bisa dibilang sejajar secara kasta. Hanya saja, Phillip berasal dari sebuah wilayah berjulukan Ulstead yang masyarakatnya dikenal sangat membenci ibu angkat dari calon mempelai perempuan, Maleficent. Tak heran jikalau kemudian Maleficent mengajukan keberatannya begitu mendengar sang putri akan menikahi seseorang dari Ulstead. Dalam benaknya berkecamuk, bagaimana mungkin ia bisa memperlihatkan kepercayaan terhadap orang-orang yang menganggapnya sebagai makhluk jahat? Meski sulit baginya untuk memperlihatkan restu, toh huruf utama ini bersedia memenuhi ajakan makan malam dari orang bau tanah Phillip di istana demi membahagiakan Aurora. Bahkan ia mempersiapkan diri sebaik mungkin semoga tak menyinggung perasaan para calon besan. Hasilnya, program makan malam pun berlangsung dengan baik… atau setidaknya begitu pada mulanya. Namun sesudah Ratu Ingrith (Michelle Pfeiffer) melontarkan pertanyaan beserta pernyataan bernada sarkasme kepada Maleficent, ketegangan pun tercipta diantara mereka. Segalanya lantas lepas kendali ketika sang raja mendadak pingsan dan semua orang di ruangan menganggap Maleficent telah meluncurkan sebuah kutukan, termasuk Aurora.


Seperti halnya sang pendahulu, jikalau ada satu hal yang bisa diperlukan dari Mistress of Evil, maka itu adalah tampilan visualnya yang membuai mata. Dari menit pembuka yang memberi kita pemandangan berupa hamparan area Moors yang berwarna-warni dan dihuni oleh bangsa peri, kemudian Ulstead yang menggambarkan suatu kawasan kerajaan di era pertengahan, penonton telah dikondisikan untuk terperangah. Kalau ini belum cukup untukmu, nantikan saja kunjungan Maleficent ke wilayah yang didiami makhluk-makhluk sebangsanya, Dark Fey, dimana kita akan melihat satu bidikan gambar menakjubkan yang melibatkan kandang burung. Angelina Jolie tampak begitu memesona di sini (serius, ia terlihat bagaikan dewi!), begitu pula dengan komposisi gambarnya. Andaikata lokasi ini kasatmata adanya, bersiaplah untuk melihatnya bertebaran di akun-akun Instagram dengan bubuhan tagar AkuAdalahMaleficent. Tapi sayangnya, lokasi tersebut tersembunyi di dalam Studio Pinewood, Inggris, dan sayangnya pula, keindahan visual di jilid kedua ini lagi-lagi dimanfaatkan untuk menutupi narasinya yang kurang cihuy. Ditangani oleh sutradara berbeda sekali ini, Joachim Ronning (Kon-Tiki, Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales), tak terdeteksi adanya perubahan secara signifikan kecuali pada nada pengisahan yang menjadi lebih ceria ketimbang muram dengan nuansa gothic. Selaiknya sang predesesor, Mistress of Evil pun tak cukup piawai dalam menjerat atensi sekaligus memainkan emosi penonton melalui guliran penceritannya di sepanjang durasi. Keluhan terbesar yang bisa diutarakan darinya ialah film mempunyai plot kelewat sesak sehingga menyebabkan setiap konflik yang diajukan tidak pernah bisa berkembang secara maksimal. 
    
Disamping kisah kasih Aurora-Phillip, film juga menyoroti soal planning jahat Ratu Ingrith dan keberadaan Dark Fey yang gres terdeteksi oleh huruf antihero kita. Ketika film memulai pembicaraannya dengan “pertemuan dua besan dengan sudut pandang berbeda jauh”, saya mengira film akan menyoroti dinamika hubungan dua keluarga jelang hari janji nikah yang sejatinya akan menarik apabila digali lebih mendalam. Tapi pihak pembuat film menginginkan narasi dengan cakupan skala yang bombastis sehingga mereka pun membuat cabang-cabang pengisahan demi memberi alasan semoga film bisa diakhiri dengan pertempuran akbar. Sebetulnya, tidak semua cabang pengisahan ini terasa dipaksakan kemunculannya, contohnya tentang Dark Fey yang memberi kesempatan bagi film untuk mengekspansi world building. Hanya saja, karakter-karakter di sektor ini menyerupai Conall (Chiwetel Ejiofor) dan Borra (Ed Skrein) hanyalah huruf satu dimensi dengan satu tujuan, perdamaian atau peperangan, alasannya ialah film tidak mempunyai banyak waktu untuk mengelaborasinya. Sementara ketika film berkutat pada narasi dua sejoli maupun Ratu Ingrith, keadaannya malah lebih buruk. Michelle Pfeiffer memang bermain anggun sebagai Ratu Ingrith, tapi penggambaran karakternya yang kelewat berlebihan – termasuk motivasinya yang mengada-ada – justru membuat sosoknya kehilangan sisi intimidatifnya dan besar lengan berkuasa pula pada kandungan emosi film. Jika Maleficent diperlihatkan mempunyai sisi baik dibalik tampilan kejamnya, mengapa ini tidak diberlakukan juga untuk huruf Ingrith? Emosi yang dihantarkan oleh film bisa jadi akan lebih maksimal apabila Ingrith masih dimunculkan sisi manusiawinya ketimbang sebatas jahat tanpa ampun. Terlebih, ia ialah ibu kandung dari Phillip.


Ya, saya kecewa dengan pilihan si pembuat film untuk mengantagonisasi seorang ibu kandung hanya demi memperkuat sosok Maleficent yang dikisahkan sangat peduli pada Aurora sekalipun ia bukanlah ibu yang melahirkannya. Menjadikannya kejam dengan alasan melindungi keluarga dan kerajaan, masih bisa dipahami. Tapi merencanakan pembantaian habis-habisan suatu kaum hingga mengabaikan kebahagiaan keluarganya sendiri? Mohon maaf, ini sudah kelewat batas. Dan setahu saya, Mistress of Evil masih produk Disney untuk seluruh anggota keluarga yang semestinya tidak perlu bertindak sejauh itu hanya untuk membuat spektakel di babak ketiga. Yang kemudian menjadi korban dari narasi yang kelewat terobsesi pada upaya untuk relevan dengan memperbincangkan soal genosida maupun hasrat berperang ialah huruf Aurora-Phillip. Terasa manis dalam adegan Phillip melamar Aurora, sayangnya kedua huruf ini tidak punya bantuan besar pada pergerakan kisah. Mereka tiba-tiba… tak berdaya. Phillip terlihat kebingungan hendak bertindak apa, sedangkan Aurora ialah definisi dari bucin sejati. Ditengah tren “putri dapat berdiri diatas kaki sendiri dan tangguh” yang sedang dibangun oleh Disney, sungguh mengherankan melihat Aurora yang bikin saya sebal bukan kepalang karena lebih percaya kepada keluarga tunangannya yang gres dikenalnya ketimbang ibu angkatnya yang telah merawatnya bertahun-tahun. Seriously? Saya tahu Maleficent memang mempunyai reputasi buruk, tapi bagaimana mungkin kau bisa percaya begitu saja ketika anggota keluargamu difitnah? Durhaka kamu, Mbak Bucin!

Dengan jalinan pengisahan seruwet dan semengesalkan ini yang lantas diselesaikan secara gampang sekali akhir kuota durasi yang semakin menipis, sulit bagi saya untuk menginvestasikan emosi kepada Mistress of Evil. Maka begitu film menginjak pertengahan durasi, saya pun terjangkit kantuk saking tak sanggupnya lagi untuk peduli kepada nasib para karakternya. Jika ada yang tetap membuat saya bertahan, maka itu ialah tampilan visualnya yang mewah, performa anggun dari Angelina Jolie terutama ketika dipersilahkan untuk memamerkan kemampuannya dalam ngelaba (adegan jelang makan malam ketika Maleficent berlatih ramah itu lucu sekali!), dan fakta bahwa saya telah menyisihkan sejumlah dana untuk menyaksikan film ini di bioskop. Sebuah film berdasar dongeng pengantar tidur yang beneran bisa bikin tidur.

Acceptable (2,5/5)