October 30, 2020

Review : Mama Cake

“Everything happens for a reason.”

Mama Cake mencoba memperlihatkan suguhan yang berbeda di tengah-tengah iklim perfilman Indonesia yang telah mencapai titik jenuh. Sutradara debutan, Anggy Umbara, tidak terjebak dalam kisah percintaan yang melankolis atau horor dengan bumbu komedi yang sama sekali tidak lucu yang kerap dibidik oleh para sineas dikala ini yang enggan untuk mengambil resiko. Sebagai sutradara anyar, Anggy Umbara malah justru nekat keluar dari ‘comfort zone’ dengan melahirkan sebuah film yang (maunya) eksentrik dan segar. Mama Cake mengambil jalur road movie yang tergolong jarang dilalui oleh para sineas lokal karena dianggap tak bisa menambah pundi-pundi Rupiah secara cepat. Untuk visualisasinya, film ini sedikit banyak terinspirasi dari style Scott Pilgrim vs the World yang ala komik dengan panel, grafis penuh warna, serta obrolan atau dentuman bunyi yang diperlihatkan dalam bentuk kata-kata yang memenuhi layar dalam banyak sekali bentuk font. Jika saya berhenti menulis hingga disini, maka Mama Cake nampak sebagai sebuah film yang menjanjikan. Sayangnya, goresan pena ini masih belum berakhir, kawan-kawan. 
Tiga sahabat, Raka (Ananda Omesh), Willy (Boy William), dan Rio (Arie Dagienkz), kudu menempuh perjalanan Jakarta-Bandung yang digambarkan Willy dengan Pamer Paha – Padat Merayap Tanpa Harapan – di Sabtu pagi demi memenuhi seruan terakhir Nenek Raka (Nani Widjaja) yang menginginkan brownies kukus Mama Cake yang dibeli eksklusif dari pusatnya di Bandung. Mereka hanya diberi waktu sekitar lima jam, dan pukul satu siang harus sudah berada di Jakarta. Sesuatu yang mustahil, tentu saja. Kecuali, kendaraan beroda empat yang mereka tumpangi mendadak bisa terbang dan melenggang di udara dengan mulus (Tenang, ini tidak benar-benar terjadi dalam film, hanya imajinasi saya belaka). Layaknya sebuah road movie, perjalanan yang dilalui oleh para tokoh utama ini tidaklah semulus yang dibayangkan. Mereka menabrak seorang penyebrang jalan (Fajar Umbara) yang anehnya tidak terluka sedikitpun meski tertabrak dengan cukup keras. Dan, itulah awal mula dari serangkaian petaka asing yang tiba silih berganti seakan tiada selesai yang menimpa ketiga sobat ini. 
Baiklah, sesudah saya memperlihatkan kesempatan kepada Anda untuk mengetahui jalan dongeng dari film ini secara ringkas tanpa membocorkan beberapa adegan penting menyerupai yang dilakukan oleh sinopsis resminya, maka saya akan melanjutkan kalimat yang menggantung di selesai paragraf pertama. Harus diakui, Mama Cake mempunyai jalinan penceritaan yang menarik yang bisa menciptakan penonton untuk tetap menyimak film ini hingga credit title bergulir. Perjuangan Raka untuk mendapat sekotak Mama Cake ditampilkan dengan sangat mengasyikkan. Barisan pemainnya pun bermain dengan sangat baik. Trio penulis naskah, Anggy Umbara, Hilman Mutasi, dan Sofyan Jambul, tidak hanya berhasil menyuguhkan tontonan yang seru, tetapi juga menghibur dan sarat akan pesan moral. Akan tetapi, akan tetapi…. yang sungguh sangat disayangkan, mereka mengambil jalur yang salah untuk mengemas pesan susila yang hendak disampaikan. Alih-alih diterjemahkan ke dalam bahasa gambar yang menuntut penonton untuk memaknai sendiri setiap gambar yang disorotkan ke layar, Anggy Umbara dan kawan-kawan malah justru merangkainya dalam bentuk kata-kata. Dijelaskan. Alhasil, film pun menjadi luar biasa banyaomong dan menggurui. 
Saya pun bertanya-tanya, apakah benar saya sedang berada di bioskop menonton film? Ini lebih menyerupai sedang menghadiri sebuah pengajian, mendengarkan ceramah agama. Bukannya tercerahkan, hati malah jengkel. Kuping pun panas. Dahsyatnya, film super ceriwis ini membentang panjang. Durasinya mencapai 143 menit! Ya, Anda tidak salah baca, 143 menit. Banyak adegan dan obrolan yang terasa mubazir. Dipangkas menjadi 100 menit pun tidak akan besar lengan berkuasa banyak. Anggy Umbara terlalu asyik ceramah dalam film perdananya ini sehingga lupa bahwa film bukanlah media yang sempurna untuk menyalurkan minatnya ini. Andaikan saja Mama Cake tidak mempunyai durasi yang kelewat panjang, tidak kelewat banyaomong menyerupai nenek-nenek, dan tidak menganggap film mempunyai peranan yang sama dengan mimbar Masjid, maka Mama Cake bisa berkali-kali lipat lebih menarik dan menyenangkan dari sekarang. Sungguh sangat disayangkan.

Acceptable