July 12, 2020

Review : Mantan Manten


“Cerita orang itu beda-beda. Jangan menggunakan pengalaman satu orang untuk membandingkan dengan diri sendiri. Kalau kau terus membandingkan, nanti kau jadi susah bersyukurnya.”

(Ulasan di bawah ini turut membahas babak pamungkas, jadi berhati-hatilah kalian yang anti spoiler!)

Apabila hanya berpatokan pada materi promosi yang digeber oleh Visinema Pictures (Love for Sale, Keluarga Cemara), entah itu dari poster berwarna merah muda yang unyu-unyu maupun kutipan-kutipan mengenai mantan di media sosial, saya cukup meyakini sebagian besar dari kita niscaya mengira Mantan Manten sebagai film percintaan yang diniatkan untuk bikin gemas para penontonnya. Kalaupun ternyata dugaan tersebut meleset, paling tidak film masih berpijak di genre romansa dengan pendekatan beralih ke melodrama yang meminta para pemirsanya untuk bersedu sedan terhadap nasib huruf utamanya yang pilu. Berhubung saya tergolong konservatif – dan tidak pula banyak menggali info mengenai film ini sebelum menonton – sudah barang tentu dua ekspektasi ini yang saya memutuskan tatkala menyimak Mantan Manten yang ternyata oh ternyata menciptakan saya terkezut. Alih-alih mengkreasinya sebagai film percintaan konvensional dimana fokusnya tertambat pada korelasi dua sejoli yang tengah dimabuk asmara, Farishad Latjuba (film sebelumnya pun bekerjasama dengan kekasih dari masa lampau, Mantan Terindah) selaku sutradara mencoba untuk membelokkannya. Tak sebatas berceloteh soal pahit manisnya cinta, film turut menyinggung budaya Jawa dengan segala unsur mistis yang melingkunginya serta gosip women empowerment dimana si huruf wanita tidak dideskripsikan tunduk pada lelaki yang dicintainya melainkan sebagai seorang pejuang yang menolak untuk mengalah pada keadaan.

Karakter wanita yang dimaksud dalam konteks ini ialah Yasnina Putri (Atiqah Hasiholan) yang dikisahkan telah merengkuh segalanya dalam usia menjelang kepala tiga. Dia mempunyai karir sangat mapan sebagai manajer investasi, ia mempunyai harta melimpah ruah hasil dari kerja kerasnya selama bertahun-tahun, dan ia juga mempunyai seorang tunangan bertampang rupawan yang bersedia melaksanakan apa saja demi Yasnina, Surya (Arifin Putra). Lalu, apa lagi yang kurang dari kehidupannya? Jika sekadar ditengok dari permukaan, Yasnina memang terlihat telah mempunyai semuanya. Tapi sehabis rekan kerjanya, Iskandar (Tyo Pakusadewo), yang merangkap pula sebagai calon mertuanya tiba-tiba mengkhianatinya dalam suatu kasus pemalsuan, penonton mulai mengendus basi tak sedap yang mengindikasikan bahwa protagonis kita ini mungkin tidak benar-benar kaya. Bukan soal hartanya yang bisa ludes hanya dalam satu kejapan mata, melainkan soal orang-orang yang mencintainya secara tulus dan bagaimana ia menyikapi permasalahan. Yasnina memang tidak terpuruk, tapi ia menaruh dendam kesumat kepada Iskandar dan berniat untuk membalas dendam. Guna memenangkan pertarungan, wanita yang bersahabat dipanggal Nina ini mesti mendapat uang dari satu-satunya properti miliknya yang tersisa di Tawangmangu, Jawa Tengah. Mengira seluruh proses berkenaan dengan villa akan berlangsung lancar, Nina justru dihadapkan pada kasus lain ketika dukun manten yang mendiami villa tersebut, Marjanti (Tutie Kirana yang tampak berwibawa sekaligus keibuan di waktu bersamaan), mengajukan satu syarat sulit yang harus dipenuhi apabila Nina ingin memperoleh apa yang dimauinya.


Syarat sulit yang dimaksud dalam konteks ini ialah mengisi posisi sebagai ajudan pribadi Marjanti yang profesinya berkaitan dengan ijab kabul tradisional atau lebih spesifik lagi, memaes. Sebagai seorang Jawa tulen yang kebetulan mempunyai kerabat yang penghasilan sehari-harinya bersumber dari rias manten, saya tentu pernah mendengar sekaligus melihat pribadi paes yang definisi sederhananya ialah tata rias pengantin dalam budbahasa Jawa berupa lekukan berwarna hitam di dahi pengantin. Tapi bagi penonton yang tak pernah mengetahuinya mungkin bertanya-tanya, “apa sih kegunaan paes ini? Mengapa keberadaannya sedemikian sakral sampai-sampai hanya orang tertentu yang sanggup mengemban kiprah memaes?”. Mantan Manten yang naskahnya ditulis oleh Farishad Latjuba bersama Jenny Jusuf ini sayangnya kurang memperlihatkan pembagian terstruktur mengenai memuaskan mengenai latar belakang ilmu paes termasuk soal filosofi dibaliknya dan ketentuan-ketentuan untuk menjadi seorang pemaes sehingga tanya para awam bisa jadi kurang terjawab termasuk hubungannya dengan klenik. Dalam paruh awal yang memang mengalami hambatan dalam mengutarakan narasi (terkadang bertele-tele terkadang tergesa-gesa), film juga urung memberi penitikberatan pada korelasi percintaan yang terjalin diantara Yasnina dengan Surya. Kedua pemain tampil kompeten, khususnya Atiqah Hasiholan yang bermain gemilang sebagai wanita tangguh dengan ego menggelembung, namun mereka tidak terlihat menyerupai pasangan yang benar-benar saling mencintai. Apakah ini disengaja oleh si pembuat film guna memperlihatkan aba-aba bahwa ada problematika yang coba diredam diantara mereka atau semata-mata alasannya ialah film tak mengeksplorasi kekerabatan keduanya?

Saya sempat mempertanyakan hal ini dan sempat pula beberapa kali dibentuk mengernyitkan dahi tanggapan narasi yang cenderung kagok, hingga lalu Mantan Manten membuat saya bersedia untuk memafhuminya sehabis film secara perlahan tapi niscaya menambat hati ini terhitung sedari melunaknya perilaku Nina kepada Marjanti. Ya, meski digambarkan sebagai wanita cerdas nan tangguh, Nita bukanlah sosok huruf yang gampang disukai pada mulanya alasannya ialah tindak tanduknya yang acapkali mengabaikan unggah ungguh (baca: sopan santun) terutama dikala berinteraksi dengan Marjanti yang secara usia berada jauh di atasnya. Perubahan dalam dirinya mulai tampak usai Marjanti mengutarakan alasannya menjalani profesi dukun manten yang dilandasi oleh keikhlasan. Dari sini, Mantan Manten tak lagi menaruh minat untuk membahas anggun pahitnya korelasi percintaan Nina-Surya dan lebih memberi perhatian terhadap usaha si huruf utama dalam membangun kehidupan gres yang menciptakan film terasa menyerupai tontonan pengembangan diri dengan tema utama “sebuah seni untuk bersikap ikhlas.” Apakah ini salah? Bagi saya pribadi, tidak sama sekali alasannya ialah film justru menguarkan pesona sebetulnya di sini. Saat dirinya menghadirkan metafora untuk mendeskripsikan nuansa mistis dalam budaya Jawa yang bisa pula tampak indah alih-alih menakutkan, dikala dirinya memperbincangkan wacana “senjata” yang dipersiapkan oleh Nina untuk memenangkan pertarungan besarnya. Nina yang tadinya seorang wanita modern dengan aliran pragmatis akibatnya bersedia merangkul budaya Jawa yang serba tradisional sesuai dengan saran dari Marjanti. Berkat budaya yang gres dikenalnya secara mendalam ini, Nina menyadari bahwa dirinya sanggup memperoleh kekayaan hati serta jalan keluar untuk merampungkan sederet permasalahannya asalkan ia bersedia berdamai dengan luka, meredam dendam, hingga akibatnya datang dalam fase “nerimo”. Sebuah fase yang sulit untuk dicapai kecuali pihak bersangkutan mengerti arti dari bersyukur dan menyayangi dirinya sendiri.


Mantan Manten memang mempunyai babak pamungkas menyesakkan dada yang akan menciptakan penonton beruraian air mata, khususnya bagi mereka yang mempunyai pengalaman serupa. Tapi bagi saya, air mata ini tumpah bukan alasannya ialah kenelangsaan si huruf utama melainkan alasannya ialah akting ciamik Atiqah Hasiholan yang memperlihatkan bagaimana Nina akibatnya bisa memenangkan pertarungannya secara elegan. Dia menegakkan kepala, ia pun tersenyum. Andai huruf ini benar-benar konkret adanya di depan mata, saya niscaya sudah menghampirinya seraya berujar, “kamu wanita hebat, Mbak Nina. I am so proud of you!”

Exceeds Expectations (3,5/5)