October 31, 2020

Review : Mantan


“Pernah nggak kau kepikiran, orang yang deket sama kau itu jodoh yang dikasih Tuhan apa nggak?” 

Setiap mantan kekasih pastinya menggoreskan kisah dan pengalaman berbeda-beda untuk dikenang. Ada yang menyenangkan, memilukan, menjengkelkan, hingga biasa-biasa saja. Tatkala kenangan jelek lebih sering menghinggapi selama menjalin tali asmara, umumnya hubungan berakhir secara tidak baik yang berdampak pada cita-cita untuk tidak lagi saling berkomunikasi demi menghempaskan memori-memori buruk. Kurang lebih, ibarat diutarakan Geisha dalam tembang “Lumpuhkan Ingatanku”. Akan tetapi, pernahkah terlintas di pikiran bahwa jalan terbaik untuk berdamai dengan masa kemudian semoga sanggup melanjutkan hidup tanpa ada beban di hati yaitu memaafkan alih-alih melupakan? Gandhi Fernando (The Right One, Midnight Show) agaknya mempunyai pedoman senada alasannya yaitu ibarat apa yang dituangkannya dalam film terbaru keluaran Renee Pictures, Mantan, yang menampilkannya sebagai pelakon sekaligus penulis skrip, mantan tidak semestinya dihempas begitu saja dari ingatan terlebih kalau menyisakan masalah belum terselesaikan di masa lampau. Semestinya kita bersilaturahmi dengan mantan, kemudian mengajaknya untuk berkonsiliasi. Siapa tahu soulmate yang sesungguhnya untuk kita ada diantara mereka. Dalam? Ya. Tapi terperinci tidak gampang untuk dilakukan. 

Dalam Mantan, Gandhi Fernando memerankan Adi, seorang kolumnis majalah percintaan, yang mengunjungi kelima mantan kekasihnya di beberapa kota demi memastikan bahwa tunangannya memang benar-benar tambatan hatinya sebelum mereka mengikat akad ijab kabul secara resmi. Mantan pertama yang dikunjunginya yaitu Ella (Ayudia Bing Slamet) di Bandung. Keduanya menjalin hubungan semasa masih duduk di dingklik Sekolah Menengan Atas dan perpisahan diantara mereka berlangsung jauh dari kata mengenakkan. Mengingat ada masalah di masa lalu, reuni dengan Ella yang kini telah berumah tangga pun tidak berlangsung mulus. Mencuat pertikaian diantara mereka terlebih ketika terungkap fakta dibalik alasan Adi dan Ella berpisah. Selepas permulaan yang buruk, Adi bertolak ke Jogja guna menemui mantan kedua, Frida (Karina Nadila). Ketimbang Ella, Frida lebih sanggup mendapatkan kehadiran Adi sekalipun argumentasi jago tetap tak terelakkan. Dari Jogja, Adi meluncur ke Bali untuk melepas rindu bersama Juliana (Kimberly Ryder) kemudian berlanjut menjumpai mantannya yang dulu beprofesi sebagai penyanyi, Tara (Luna Maya), di Medan. Perjalanan Adi yang melelahkan untuk menemui para mantan ini mencapai ujungnya di Deedee (Citra Scholastika) yang bermukim di Jakarta.

Harus diakui, Mantan bahwasanya mempunyai premis menggelitik, menjual, sekaligus accessible bagi penonton kebanyakan terlebih kalau mempunyai pengalaman menarik dengan mantan kekasih di masa lalu. Hanya saja, entah dilandasi oleh keterbatasan bujet atau murni pilihan kreatifitas si pembuat film, Mantan mengambil pendekatan penceritaan yang sanggup dikata tidak umum bagi penonton awam walau metodenya sendiri telah diaplikasikan beberapa kali di sinema dunia dan sedikit banyak mengingatkan pada film perdana Renee Pictures, The Right One. Setidaknya ada dua hal yang perlu diketahui soal Mantan. Pertama, jalinan pengisahan dalam film digerakkan hampir sepenuhnya oleh dialog, dan kedua, sebagian besar durasi dihabiskan di kamar hotel yang menjadi daerah pertemuan antara Adi dengan mantan-mantannya. Sedari mantan pertama, penonton telah diboyong memasuki kamar hotel dan menyaksikan argumentasi antar dua insan yang mengungkit-ungkit masa lalu. Siklusnya terus berulang hingga mencapai mantan keempat. Svetlana Dea selaku sutradara beserta Gandhi Fernando lantas sedikit membelokkannya begitu hingga di Deedee karena sang mantan tidak menyimpan murung lara dan Adi telah mempelajari kesalahan-kesalahannya dari keempat mantan yang ditemuinya terlebih dahulu. Melalui mantan-mantannya tersebut pula, penonton mempelajari karakteristik dari si tokoh utama. 

Menyimak tabrak lisan di hampir sepanjang durasi memang terdengar melelahkan apalagi sang sutradara masih terlihat kagok dalam mengeksekusi adegan yang menjadikan intensitas tak menentu. Namun yang menciptakan setiap pertemuan yang umumnya berlanjut ke pertengkaran ganas dalam film terasa lezat untuk diikuti serta ada kalanya terasa menghibur yaitu dialog-dialog renyah sarat humor kreasi Gandhi dan performa memikat dari barisan pelakonnya. Beruntung bagi Mantan sanggup merekrut Ayudia Bing Slamet, Kimberly Ryder, dan Luna Maya untuk bergabung ke dalam departemen akting alasannya yaitu film mengatakan kekuatannya ketika berada di segmen Ella, Juliana, serta Tara. Penonton sanggup mencicipi adanya kemarahan mendidih dalam sosok Ella melalui intonasi, gestur, dan air muka yang diperagakan secara sempurna target oleh Ayudia, kemudian Luna Maya dengan karisma seorang wanita mapan yang memancar menciptakan kita sanggup memahami mengapa Adi klepek-klepek kepada Tara, dan Kimberly Ryder yang mengatakan performa amat luwes dan terbaik dalam karir berlakonnya (serius, ia semestinya sanggup lebih besar dari sekarang!) mempersembahkan pertikaian paling mempunyai intensitas dalam film yang dipicu oleh kompleksitas dari aksara Juliana. Tidak ibarat keempat mantan lainnya yang mengatakan posisinya secara gamblang, Juliana mengatakan ambiguitas yang lantas membentuk satu kecurigaan: jangan-jangan, bahwasanya ia masih menyimpan rasa kepada Adi?

Note : Ada mid-credits scene di sela-sela bergulirnya credit title yang layak dinanti. Jangan buru-buru beranjak.

Acceptable (3/5)