October 16, 2020

Review : Mars Met Venus (Part Cewe & Part Cowo)


“Pupil mata cewe itu kayak buaya. Bisa ngeliat 180 derajat tanpa ngelirik.” 

MNC Pictures punya gagasan menarik. Memecah film terbaru mereka yang bergenre komedi romantis, Mars Met Venus, menjadi dua bab terpisah yakni Part Cowo dan Part Cewe. Ditinjau dari inti penceritaan sih, kedua film tersebut serupa. Pembedanya terletak pada perspektif dalam melihat serentetan insiden dalam kehidupan sepasang kekasih sedari keduanya saling lempar pandang hingga hendak melangkahkan ke jenjang pernikahan. Dalam hal ini pilihannya yaitu memakai kacamata pria atau memakai kacamata perempuan. Narasi semacam ini sejatinya tidak benar-benar anyar di sinema dunia alasannya yaitu sudah diaplikasikan terlebih dahulu dalam The Disappearance of Eleanor Ribgby yang mempunyai tiga versi film; Him, Her, dan Them (gabungan antara keduanya). Tapi tentu tetap menggelitik kepenasaran bukan buat menengok bagaimana sang sutradara, Hadrah Daeng Ratu (Super Didi), mempresentasikan konsep yang tampak begitu unik di atas kertas ke dalam bahasa gambar? Apakah memang ada signifikansinya membagi satu kisah sama ke dalam dua film berbeda atau pembagian menjadi Part Cewe dan Part Cowo justru berakhir tak lebih dari sekadar gimmick? Jawabannya gres sanggup kau peroleh selepas menyaksikan kedua bab terpisah tersebut. 

Mars Met Venus sendiri berkisah mengenai kisah percintaan antara seorang pria berjulukan Kelvin (Ge Pamungkas) dengan kekasihnya, Mila (Pamela Bowie), yang telah berlangsung selama 5 tahun. Sebelum melamar Mila, Kelvin bersama temannya, Lukman (Lukman Sardi), berniat menciptakan vlog – video blog – yang merekam perjalanan asmara keduanya sedari masa-masa pertama kali munculnya ketertarikan satu sama lain, pedekate, hingga alhasil mereka memproklamirkan status berpacaran. Dalam Part Cewe, penonton akan melihat bagaimana korelasi Kelvin dan Mila tumbuh berkembang menurut versi Mila. Karakter pendukung yang banyak memainkan tugas dalam bab ini yaitu dua sahabat Mila; Icha (Ria Ricis) dan Malia (Rani Ramadhany). Sedangkan dalam Part Cowo, tentu saja kita melihatnya dari sudut pandang Kelvin. Teman-teman sekontrakan Kelvin; Reza (Reza Nangin), Bobby (Ibob Tarigan), Steve (Steve Pattinama), dan Martin (Martin Anugrah), turut berkontribusi dalam menggerakkan alur cerita. Selama pembuatan vlog ini, baik Mila maupun Kelvin lantas menyadari bahwa mereka mempunyai aneka macam perbedaan. Perbedaan yang berpotensi meretakkan korelasi asmara keduanya. 


Ketimbang saling menguatkan satu sama lain, memecah Mars Met Venus menjadi dua bab justru menciptakan film terasa timpang karena Part Cewe dan Part Cowo tidak mempunyai kekuatan yang berimbang. Part Cewe seolah sebatas hore-hore, sementara Part Cowo menyimpan sedikit kedalaman dalam memaparkan konflik diluar bahan guyonannya yang makin liar. Mengingat sang sutradara yaitu seorang wanita – begitu pula peracik naskahnya, Nataya Bagya – cukup mengagetkan melihat bagaimana mereka lebih fasih tatkala mengatakan persahabatan Tim Mars (para cowo) daripada Tim Venus (para cewe). Bisa jadi, faktor performa barisan pemain berkontribusi besar. Ge menjalin kekompakkan yang aktual bersama Reza, Bobby, Steve, dan Martin sehingga setiap kehebohan yang mereka tampilkan di layar menciptakan Part Cowo terasa mengasyikkan buat ditengok. Gelak-gelak tawa penonton hampir sanggup dipastikan menyertai sekaligus melempar ingatan saya pada masa-masa jahiliyah bersama rekan-rekan kontrakan dulu – tentu dengan kadar keliaran yang agak diturunkan. Disamping itu, Reza beserta konco-konco turut membantu kita lebih mengenal Kelvin. Sesuatu yang tidak kita dapatkan dari Tim Venus dalam Part Cewe. Mereka cenderung hambar. Sehambar chemistry yang terbentuk diantara mereka; Ria Ricis heboh sendiri, kemudian Rani Ramadhany mirip berada di dunia yang terpisah dari mereka. Kurang sanggup menyatu. 

Alhasil, kenikmatan dalam menyaksikan Part Cewe bersumber dari kedua pelakon utamanya. Paling tidak, Ge dan Pamela sanggup mengatakan kepada penonton bahwa mereka yaitu dua sejoli yang tengah kasmaran. Beberapa momen sanggup tampil manis, terkadang pula menggelitik. Cukup yakin bakal menciptakan para pasangan dari generasi milenial tersenyum-senyum sendiri di dingklik bioskop karena teringat pada gaya berpacaran mereka. Yang kemudian menciptakan Part Cewe tak semengikat Part Cowo selain minimnya chemistry dari sektor pemain pendukung yaitu tuturannya yang tak selalu mulus. Lebih ibarat campuran setumpuk denah daripada sebuah kisah utuh. Konfliknya juga mengawang-awang. Pemenggalan film berdampak pada kaburnya motivasi abjad tertentu sampai-sampai momen emosional kurang memberi impak mirip semestinya. Pada titik ini saya pun bertanya-tanya, apakah Mars Met Venus memang perlu memperoleh perlakuan semacam ini? Seusai menonton Part Cowo, balasan saya pun mantap: tidak. Seandainya sejumlah momen dari Part Cewe diintergrasikan ke Part Cowo kemudian dilempar sebagai satu film saja, hasilnya akan lebih nendang. Pasalnya, Part Cowo sanggup memenuhi apa yang terlewatkan dari sang pendahulu: keberadaan chemistry dan emosi. Dari sisi penuturan pun, bab ini lebih rapi alirannya. Kita ikut merasa geli melihat bagaimana Kelvin salah tingkah kemudian kerap ‘didzalimi’ Mila, dan kita ikut bersimpati padanya dikala cobaan besar menghadang. Kita tidak pernah betul-betul mengalami fase ini dalam Part Cewe.

Pun begitu, baik Part Cewe maupun Part Cowo dalam Mars Met Venus mempunyai kandungan hiburan yang mencukupi. Keduanya sama-sama mempunyai momen cantik menggemaskan sekaligus momen pemantik tawa heboh yang akan menciptakan perutmu kram. Antisipasi munculnya tawa dari adegan sate padang, gudeg, cewek garang vs cewek pasif, jangan berantem dan mie ayam. Seru! 
      
Part Cewe: Acceptable (3/5)
Part Cowo: Exceeds Expectations (3,5/5)

Ulasan ini sanggup juga dibaca di http://tz.ucweb.com/8_tJAY