October 20, 2020

Review : May Who


Mudah untuk memandang rendah May Who hanya karena premisnya yang sudah terlalu umum di genre komedi romantis. Ya, ini perihal seorang siswi biasa-biasa saja yang naksir siswa terkeren di sekolah tanpa menyadari sahabatnya yang juga berasal dari kaum ‘proletar’ rahasia menaruh hati padanya. Sepintas memang tidak ada keistimewaan terlebih dasar dongeng semacam ini telah mengalami bongkar pasang berulang-ulang kali untuk diaplikasikan dalam tontonan berpangsa pasar remaja. Akan tetapi, berguru dari pengalaman-pengalaman terdahulu, jangan sekali-kali meremehkan kreativitas dari sineas negeri Gajah Putih. Mereka semacam mempunyai kemampuan khusus dalam mengolah kembali gagasan lawas untuk disajikan sebagai tontonan menyegarkan – terlebih mereka yang terafiliasi dengan rumah produksi GMM Thai Hub (GTH) – yang sekali ini terbukti pada May Who. Sebuah tontonan pelepas penat dengan tingkat hiburan diatur untuk senantiasa berada di level maksimal yang akan menciptakan penontonnya terus menerus digenjot tawa tiada henti sampai detik terakhir. 

May Who berceloteh mengenai seorang siswi penyendiri berjulukan May (Sutatta Udomsilp) yang memendam perasaan terhadap bintang sekolah, Fame (Thanapob Leeratanakajorn). Memilih untuk mengaguminya dari kejauhan menyadari posisinya yang bukan siapa-siapa, gayung bersambut tatkala Fame menawari May untuk bergabung dengan tim larinya yang akan berkompetisi di Porseni usai melihat adanya potensi besar dalam diri May sebagai atlet lari. Dengan masing-masing mempunyai ketertarikan satu sama lain, ditambah intensitas pertemuan kian meninggi, seharusnya gampang saja bagi May dan Fame untuk bersatu. Namun korelasi ini kesulitan melangkah lebih jauh karena adanya ‘bakat istimewa’ May yang menciptakan tubuhnya sanggup mengeluarkan ajaran listrik apabila jantungnya berdegup terlalu kencang dan keberadaan sang sahabat, Pong (Thiti Mahayotharak), yang entah mengapa memunculkan kebimbangan dalam hati May. Walau mulanya persahabatan diantara mereka terbentuk sebatas karena persamaan nasib, lambat laun baik May maupun Pong mencicipi getaran-getaran yang sulit dijabarkan maknanya. Apakah ini yang disebut cinta? 

Seriously, I really had a great time watching May Who. Chayanop Boonpakob berhasil mentransfer kesenangan tingkat tinggi yang diciptakannya dalam SuckSeed ke May Who. Sulit untuk menutup lisan supaya tidak terbuka lebar-lebar disebabkan ledakan tawa selama menyaksikan film ini. Sejak menit pertama, film telah menyita perhatian penonton yang dimulai dengan narasi Pong perihal “hirarki sekolah” yang memetakan setiap siswa ke dalam kelas-kelas sosial dari tingkatan teratas sampai terbawah. Dari sini, kita mengetahui bahwa dua tokoh utama film; May dan Pong, bahkan tidak memenuhi kriteria manapun yang menempatkan keduanya dalam posisi tidak terjamah alias Invisible. Dikemas secara mengasyikkan dipenuhi humor-humor absurd khas film komedi Thailand, Chayanop telah menawarkan isyarat di babak perkenalan ini mengenai kegilaan menyerupai apa yang akan kau hadapi selama dua jam ke depan. Betul, May Who masih mengedepankan sederet absurditas untuk memantik tawa penonton (favorit secara personal, tukang pukul berkedok cheerleader) yang walau sulit untuk diterima nalar sehat, tapi hey, atas nama humor semuanya menjadi sah-sah saja. 

Lagipula imajinasi liar si pembuat film yang tak terbendung ini sanggup diterjemahkan secara tepat ke bahasa gambar. Entah itu kala berwujud live action yang ditunjang lakon menawan nan ekspresif formasi pemainnya – dari Thiti Mahayotharak, Thanapob Leeratanakajorn, Sutatta Udomsilp, sampai Narikun Ketprapakorn yang memerankan Mink, gadis terkenal pujaan Pong – atau kala berbentuk animasi 3D yang tergores mengesankan guna menjlentrehkan isi komik (penuh kelebayan) rekaan Pong, semuanya terkomunikasikan dengan baik ke penonton sehingga gampang untuk merasa terikat ke penceritaan sekaligus karakter-karakter uniknya. Yang mengakibatkan film kian menarik buat diikuti yaitu dalam mengarungi perjalanan imajinatif yang dikomandoi oleh Chayanop ini kita tidak sekadar diajak untuk tertawa lepas saja. Mengingat ada pelengkap ‘romantis’ di belakang komedi, maka ya tentu saja turut dihadirkan sejumlah momen manis-manis menggemaskan pula mengharu biru… and it works! Tanpa pernah terdistraksi oleh banyolan-banyolan konyolnya, sisi melankolis dari May Who pun sama kuatnya dengan sisi komedi mengakibatkan May Who sebagai sebuah gelaran hiburan berpaket komplit yang rasa-rasanya akan tetap terasa nikmat buat disantap sekalipun telah menontonnya berkali-kali. Asyik banget!

Outstanding