July 4, 2020

Review : Maze Runner: The Death Cure


What if we were sent here for a reason?”

Tatkala mendengar kabar bahwa pemain film utama dari franchise Maze Runner, Dylan O’Brien, mengalami kecelakaan kerja yang menimbulkan cedera parah sehingga tahapan produksi jilid ketiga bertajuk The Death Cure terpaksa ditunda, hati ini seketika ketar-ketir. Bagaimana bila franchise ini akan bernasib sama dengan Divergent atau dalam artian kita tidak akan pernah menyaksikan babak konklusinya di layar lebar? Disamping The Hunger Games yang telah terlebih dahulu rampung, Maze Runner tergolong film berlatar distopia hasil pembiasaan novel berseri untuk young adult yang saya nikmati. Seri pertamanya menarik sekali, sementara jilid keduanya sekalipun awut-awutan masih menunjukkan pengalaman sinematik cukup mengasyikkan. Maka begitu memperoleh kepastian mengenai jadwal perilisan The Death Cure pasca terombang-ambing selama setahun selagi menunggu Dylan O’Brien pulih, saya seketika sorak-sorak bergembira. Filmnya sendiri (pada akhirnya) memang tidak menjadikan efek bungah luar biasa yang setipe selepas saya menyaksikannya di layar lebar. Namun The Death Cure tetap sanggup dikategorikan sebagai sebuah seri epilog yang pantas bagi franchise Maze Runner. 

Tanpa banyak berbasa-basi untuk menyegarkan ingatan penonton (jika kau lupa, ada baiknya menyaksikan lagi seri pertama dan kedua sebelum menjajaki jilid ketiga), The Death Cure pribadi membawa kita pada sekuens laga besar yang mendebarkan berupa misi pembajakan kereta. Bukan dilakukan oleh WCKD – organisasi yang menjadi musuh utama di franchise ini – melainkan Thomas (Dylan O’Brien) beserta rekan-rekan seperjuangannya, termasuk Newt (Thomas Brodie-Sangster), demi menyelamatkan Minho (Ki Hong Lee) yang diculik WCKD pada penghujung film kedua menyusul pengkhianatan Teresa (Kaya Scodelario). Meski berhasil membebaskan sejumlah sandera, sayangnya tak ditemukan jejak Minho di gerbong kereta. Usut punya usut, Minho bersama bakir balig cukup akal terpilih lainnya diboyong ke markas WCKD di Last City – satu-satunya kota tersisa yang terbebas dari wabah – untuk diambil darahnya yang dipergunakan sebagai materi utama terciptanya serum penawar. Meminta sumbangan kepada sebuah kelompok pemberontak yang bermarkas di sekeliling Last City, Thomas dan kawan-kawan pun merancang misi terakhir yang bukan saja bertujuan untuk menyelamatkan Minho serta menghancurkan WCKD tetapi juga menyelamatkan umat manusia. 


Disandingkan dengan sang predesesor, The Scorch Trials, yang cenderung kering dan gampang dilupakan, The Death Cure merupakan suatu peningkatan. Memang sih kalau berbicara soal guliran pengisahan, tidak ada sesuatu mencengangkan atau mengikat selayaknya jilid pembuka yang bisa kau jumpai disini. Malah bisa dikata, plotnya setipis kertas pula terkesan dipanjang-panjangkan. Yang lantas membuat The Death Cure sanggup tegak bangkit dan melampaui pencapaian seri kedua yakni kemampuan sang sutradara, Wes Ball, dalam meramu barisan laga seru yang menghiasi sepanjang durasi. Menyadari penuh bahwa naskah rekaan T.S. Nowlin yang disadur dari novel buatan James Dashner tidak menyediakan ruang memadai bagi terciptanya intrik-intrik pamungkas dengan daya ledak besar selayaknya dua babak Mockingjay (atau seri epilog The Hunger Games), Ball pun memutuskan untuk meletakkan fokus sepenuhnya pada peningkatan cakupan skala terkait sekuens laga. Tujuan utamanya sederhana, membuat agresi yang lebih gegap gempita dibanding Maze Runner maupun The Scorch Trials. Sebuah tujuan yang untungnya sanggup dicapai oleh Ball sehingga membuat The Death Cure terasa renyah untuk dikudap. 

Sedari menit pertama, Ball mencoba untuk menempatkan intensitas dari instalmen ketiga ini dalam level cukup tinggi. Belum apa-apa, kita telah disuguhi adegan ‘adu kecepatan’ antara kendaraan beroda empat dengan kereta yang berlangsung selama kurang lebih 10 menit. Laju pengisahan yang lantas mengikutinya pun diusahakan untuk tetap kencang. Tidak banyak momen senyap tersedia yang memungkinkan karakter-karakternya saling bertukar emosi (maka dari itu, bila kau berharap seri ketiga ini mempunyai ‘kedalaman’, hempaskan segera) alasannya yakni apa yang disuguhkan Ball yakni sebatas tontonan eskapisme sarat dentuman. Entah itu bersumber dari baku hantam, tembakan, atau pengeboman yang nyaris tanpa henti. Selain adegan pembuka, highlight lain dalam The Death Cure berada di satu jam terakhir ketika misi evakuasi Minho dilangsungkan utamanya pada adegan dengan kata kunci “terjun bebas” dan “bis melayang”. Dalam penanganan yang salah, rentetan laga yang sambung menyambung semacam ini sanggup berpotensi terasa sangat melelahkan. Akan tetapi, melalui The Death Cure, Wes Ball pertanda bahwa ia mempunyai talenta untuk menangani gelaran laga eksplosif yang seru sekaligus mendebarkan meski saya sejatinya berharap durasinya sanggup lebih singkat.

Exceeds Expectations (3,5/5)