October 14, 2020

Review : Maze Runner: The Scorch Trials


“I’m a Crank. I’m slowly going crazy. I keep wanting to chew off my own fingers and randomly kill people.” 

Di penghujung The Maze Runner, para penyintas berusia dewasa dibawah pimpinan Thomas (Dylan O’Brien) yang menjadi korban eksperimen sebuah organisasi misterius berjulukan W.C.K.D. berhasil melepaskan diri dari labirin raksasa berbenteng tembok tinggi yang mengungkung kebebasan mereka dan melawan monster mengerikan penjaga labirin sesudah sebelumnya mengobrak abrik tatanan komunitas The Gladers hanya untuk mendapati bumi bukan lagi kawasan ideal untuk melangsungkan hidup. Seolah-olah pergolakan yang memakan korban beberapa anggota komunitas tersebut berakhir sia-sia. Akan tetapi, apakah memang begitu adanya cara Wes Ball mengakhiri penceritaan film arahannya? Well, kita sama-sama tahu bahwa The Maze Runner merupakan pembiasaan jilid pertama dari keseluruhan tiga seri novel young adult rekaan James Dashner, jadi ya, usaha Thomas dan kroni-kroninya ini barulah sekadar permulaan alasannya seusai berlari-larian mengitari labirin yang konfigurasinya senantiasa berubah saban malam hari, mereka harus berhadapan dengan wabah mematikan, kelompok pemberontak dan zombie-zombie ganas (ya, zombie!) dalam Maze Runner: The Scorch Trials.  

Saat para mantan penghuni The Gladers diselamatkan oleh Janson (Aidan Gillen) dari The Scorch yang dipenuhi marabahaya tak terbayangkan dan diboyong ke sebuah kemudahan penuh para pejuang dari kelompok lain, mereka mengira kehidupan lebih baik telah menanti. Belum usang mendiami kemudahan ini, Thomas segera menyadari bahwa Janson ialah kaki tangan petinggi W.C.K.D. usai menyelinap ke suatu ruangan bersama Aris (Jacob Lofland) yang telah meragukan adanya ketidakberesan disini semenjak lama. Tidak ingin kembali menjadi korban eksperimen, Thomas serta konco-konconya pun nekat mengambil resiko dengan meninggalkan kemudahan guna menemukan keberadaan Right Arm yang konon kabarnya menentang habis-habisan tindak tanduk W.C.K.D. Di tengah perjalanan, grup kecil ini berjumpa dengan kelompok pejuang perlawanan lainnya pimpinan Jorge (Giancarlo Esposito) yang bersedia menuntun mereka ke markas Right Arm. Berbekal dukungan Jorge dan Brenda (Rosa Salazar), orang kepercayaan Jorge, mereka pun kembali menempuh perjalanan panjang mengarungi The Scorch tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya akan menanti mereka. 
Tidak mirip seri pendahulu yang laju pengisahannya merangkak perlahan di awal sebelum benar-benar mencengkrammu bersahabat memasuki pertengahan, Maze Runner: The Scorch Trials telah tancap gas semenjak menit-menit pembuka. Wes Ball selaku sutradara mengondisikan The Scorch Trials sebagai suatu gelaran yang mempunyai lebih banyak laga, lebih banyak ketegangan, dan lebih banyak keseruan dibanding jilid pertama. Ya, mengingat sebagian besar sesi perkenalan telah ditunaikan di film pertama, keingintahuan mengenai citra dunia yang ditempati oleh para penghuni The Gladers juga perlahan-lahan sudah terjawab – setidaknya kita sudah mengetahui apa sebenarnya terjadi pada mereka kemudian mirip apa kondisi bumi di kisah posapokaliptik ini – dan skala konflik sekali ini tergolong masif dengan tidak lagi berlangsung sebatas pada sebuah komunitas yang dikelilingi tembok besar maka ada banyak ruang kosong yang butuh diisi dengan hentakan besar lengan berkuasa biar penonton tidak mencicipi kebosanan selama menyimak The Scorch Trials. Untuk itu, Ball butuh menarik perhatianmu secara cepat dengan cara menggenjot adrenalin sedari dini. 

Tempo The Scorch Trials memang bergerak begitu gesit. Setelah agresi melarikan diri dari kemudahan yang memungkinkan penonton menahan nafas – walau hasil simpulan sanggup diketahui dengan terang – penonton diboyong memasuki The Scorch yang sulit diduga. Yang mengasyikkan semenjak para abjad utama menjejakkan kaki di area ini ialah mereka harus bertahan hidup dari gempuran Crank, monster utama jilid ini, yang berwujud ibarat zombie! Betul sekali, ada banyak zombie mengerikan bertebaran yang siap menghabisi Thomas dan kawan-kawan disini – selain Janson yang tidak pernah lelah memburu – melalui penyebaran wabah mematikan. Setidaknya, kau akan memperoleh suplai vitamin dari rangkaian adegan kejar-kejaran antara para penyintas dengan Crank di paruh awal yang lantas kiprah dari Crank digantikan oleh pasukan pimpinan Janson yang begitu berambisi untuk menundukkan Thomas pada paruh berikutnya. Banyaknya elemen kesenangan ini memang sedikit banyak berdampak jalinan pengisahan yang sekali ini agak terabaikan – utamanya kita tidak banyak menerima isu terkait kelompok bentukan Jorge, Crank, dan The Scorch itu sendiri – namun Wes Ball berhasil mengakalinya dengan kemampuannya dalam menjaga tensi ketegangan biar tetap bergerak stabil sehingga penonton yang kadung terhibur pun bersedia memaafkannya.

Exceeds Expectations