October 22, 2020

Review : Me Vs Mami


Dengan dibekali skrip, pengarahan beserta lakonan ciamik dan bukan semata-mata bentuk perpanjangan dari video pariwisata, probabilitas sebuah road movie berakhir menggelorakan semangat dalam artian asyik buat disantap sebenarnya cenderung lebih besar ketimbang kering kerontang. Me Vs Mami, keluaran teranyar MNC Pictures, memiliki modal mumpuni untuk tegak berdiri diantara jajaran film-film yang mengambil pendekatan road movie. Betapa tidak, film ini memiliki Cut Mini (salah satu aktris terbaik di perfilman Indonesia) di lini utama, disutradarai Ody C. Harahap yang berjasa memberi penonton kekacauan seru nan menyenangkan dalam wujud Kapan Kawin? maupun Skakmat, dan premisnya wacana perjalanan darat penuh lika-liku pasangan ibu-anak wanita yang tidak akur begitu menggiurkan. Jaminan mutu seolah telah terang ada dalam genggaman. Dengan rilisan pekan kemudian bertajuk Wonderful Life yang mengangkat semangat senada – hanya saja aura sentimentilnya lebih pekat – melampaui ekspektasi, ada sejumput euforia menyertai buat sesegera mungkin menyantap Me Vs Mami yang ternyata oh ternyata, sayang beribu sayang, merupakan anggota gres dari klub “film yang kesulitan memenuhi potensi besarnya”. 

Diadaptasi dari FTV terkenal berjudul sama, Me Vs Mami memberi pemfokusan pada naik turunnya kekerabatan seorang celebrity chef berjulukan Maudy (Cut Mini) dengan putri semata wayangnya, Mira (Irish Bella), selama perjalanan menuju Payakumbuh, Sumatera Barat. Perjalanan mereka dimulai dikala Uci, nenek dari ayah Mira, yang tengah sakit keras menelpon dan meminta Mira untuk menjenguknya karena belum pernah melihat secara pribadi cucu buyutnya tersebut. Tidak ingin putrinya melancong seorang diri sekaligus sebagai upayanya memperbaiki korelasi dengan Mira yang telah merenggang – meski keduanya lebih disebabkan atas desakkan pihak lain – Maudy mengambil cuti dari pekerjaannya dan menemani Mira bersilaturahmi ke Payakumbuh. Apabila tidak ada aral melintang (jadi nggak seru dong, bu, filmnya!), segala urusan ini sanggup saja kelar dalam satu hari. Akan tetapi cobaan mulai tiba menghadang tatkala sopir travel yang bertujuan mengantarkan mereka hingga ke daerah tujuan mendadak undur diri karena istrinya hendak melahirkan. Mau tak mau, pasangan ibu anak ini pun mengendarai kendaraan beroda empat sendiri berbekal proteksi insting dan GPS yang kemudian menghantarkan mereka pada banyak sekali macam insiden-insiden konyol yang perlahan tapi niscaya turut membantu menyembuhkan luka diantara mereka. 

Jika apa yang kau butuhkan yakni tontonan eskapisme, Me Vs Mami memenuhinya. Terhitung sedari ditelantarkannya Maudy dan Mira di sebuah rumah makan, kelakar demi kelakar – entah itu mencuat dari celetukan-celetukan dua huruf utamanya maupun situasi-situasi yang tidak mereka harapkan terjadi – menghiasi film yang lebih banyak didominasi diantaranya bekerja cukup efektif untuk memancing gelak-gelak tawa penonton dalam level “heboh”. Selama setidaknya satu jam pertama dari durasi secara keseluruhan, Me Vs Mami was freaking hilarious. Benar-benar kocak. Satu kelucuan undur diri, kelucuan lain menyelinap masuk menggantikan, dan begitu seterusnya. Dari kagoknya Maudy dalam mengendarai mobil, buang-buang gawai yang dianggap mendistraksi, keliru mengidentifikasi perampok, memporakporandakan sebuah penginapan, menyelamatkan Udo yang berencana menenggelamkan diri, hingga menabrak seekor kerbau yang tengah melintas, tawa boleh dikata terjaga konstan. Serentetan momen komedik ini pun kian mempertegas kualitas keaktoran dari seorang Cut Mini. Performa enerjik Cut Mini, comic timing-nya yang berakurasi jempolan, dan chemistry solid-nya bersama Irish Bella yakni kunci mengapa kelucuan di Me Vs Mami sanggup tersampaikan dengan semestinya. 

Ya, tanpa sokongan akting elok pula meyakinkan Cut Mini sebagai mami-mami yang bawelnya sudah berada di tahapan “tiada ampun lagi”, Me Vs Mami sanggup jadi tidak akan semenghibur ini mengingat dua sektor penting lain kurang bergema, yakni penyutradaraan oleh Ody C. Harahap dan skrip olahan Vera Varidia. 30 menit terakhir menjadi saksi bahwa film ini tidak dibangun di atas pondasi dongeng kokoh seiring berpindahnya mode film dari ‘riang’ menuju ‘sendu’. Meski sudah diberi ancang-ancang bahwa film akan melembut, tetap saja dibentuk tersentak tatkala Me Vs Mami dikuasai situasi dramatis. Bukan karena kekontrasannya, melainkan pada perpindahannya yang sama sekali tak mulus sehingga meninggalkan rasa janggal beserta dipaksakan. Ini masih belum ditambah bagaimana cara si pembuat film mengakhiri Me Vs Mami yang sungguh… menyebalkan (sangat, sangat menyebalkan!). Saking menyebalkannya, saya bahkan hingga ngoceh berpanjang-panjang ke seorang mitra usai menontonnya. Jika filmnya mengecewakan sedari awal, saya tentu tidak ambil pusing mengenai perlakuan terhadap ending. Masalahnya, Me Vs Mami jauh dari kata buruk. Ini road movie yang menyenangkan buat ditonton paling tidak di satu jam pertama sebelum balasannya laju terburu-buru di sisa durasi membuyarkan potensinya. Maka memperoleh penyelesaian yang memicu reaksi “hah, kok gitu sih?” bukanlah sesuatu yang dibutuhkan terlebih dikala momen ini seharusnya menjadi gong bagi film dan menebus kekacauan di menit-menit sebelumnya. Duh, sayang sekali.

Acceptable (3/5)