November 28, 2020

Review : Me & You Vs The World

“Cinta itu tak mengenal usia. Tapi cinta itu mengenal rasa.” 

Tidak bisa mengingat dengan terang kapan sebuah film pembiasaan novel percintaan yang menempatkan cukup umur Sekolah Menengan Atas dalam sorot utama penceritaan berhasil menciptakan perhatian saya tertahan – satu hal pasti, tidak ada satu pun dari tahun lalu. Ketimbang memuaskan, rata-rata bermetamorfosis sebagai suguhan yang menjemukan. Apakah ini sebuah mengambarkan bahwa saya tidak lagi cocok menikmati sebuah film dengan sasaran pasar utama ialah para cukup umur usia belasan? Tentu itu bukan menjadi alasan. Sebuah film cukup umur yang bagus, tentunya bisa dinikmati semua kalangan. Untuk saya, Me & You vs The World kode Fajar Nugros termasuk salah satu dari sedikit yang berhasil. Memang, mengusut dari sisi penceritaan tidak terlampau istimewa dan bisa dikatakan klise, namun Me & You vs The World masih begitu menyenangkan untuk disimak. Terlebih, segala kenangan manis dan pahit saya semasa Sekolah Menengan Atas pun turut kembali mengemuka ketika menyaksikan film ini.

Didasarkan pada novel karangan Stanley Meulen, Me & You vs The World memperkenalkan penonton kepada Sera (Dhea Seto), seorang gadis Sekolah Menengan Atas kutu buku yang kehidupan sosialnya hanya berkisar di sekolah. Nilai-nilainya memang sempurna, kedua orang bau tanah serta para guru menyayanginya, akan tetapi, sebagai seorang cukup umur kehidupan Sera berjalan begitu hirau taacuh dan monoton. Nyaris tidak ada kesenangan di dalamnya. Segalanya berangsur-angsur menemui titik perubahan ketika takdir mempertemukannya dengan Jeremy (Rio Dewanto) yang mencoba mengenalkan konsep ‘Menaklukkan Dunia’ kepada rekan-rekan sekolahnya. Menentang keras di awal, tanpa disadari Sera menemukan sebuah dunia gres yang selama ini tidak pernah dirasakannya yang membuatnya jatuh hati. Sera mendapatkan permintaan Jeremy untuk menyelami kehidupan penuh kebebasan dan suka cita ini lebih dalam – bahkan membuatnya rela menanggalkan predikat siswi teladan. Segalanya memang tampak baik-baik saja dan mengasyikkan… sampai Sera dan Jeremy bertindak melampaui batas. 

Klise? Memang. Me & You vs The World beranjak dari sebuah novel cukup umur dengan kadar keklisean tinggi yang memudahkan siapapun untuk menebak kemana sederetan konflik yang diapungkan akan bermuara. Tapi apa ini berarti buruk? Tidak. Bagus atau tidak, menarik atau tidak, sebuah film tidak ditentukan oleh seberapa klise (atau seberapa inovatif) jalinan pengisahannya melainkan bergantung kepada penanganan yang terampil sehingga ketika disajikan bisa menggugah selera penonton. Dan… Fajar Nugros berhasil melakukannya untuk Me & You vs The World. Beruntung, ia diberkahi tim yang solid sehingga meski serba klise dalam penuturannya, film produksi Rapi Films ini masih sanggup hadir sebagai sebuah tontonan yang jenaka, mengasyikkan, manis sekaligus menyentuh. Para penonton usia belasan akan dengan gampang menggilainya, sementara mereka yang telah menapaki usia dua puluh ke atas masih bisa menikmatinya terlebih bagi yang mempunyai banyak dongeng wacana masa-masa SMA. 

Kekuatan utama dari Me & You vs The World bersumber dari departemen akting, naskah, dan musik. Rio Dewanto dan Dhea Seto yang ditempatkan di garda terdepan bisa memperlihatkan performa yang solid dengan chemistry yang terajut secara meyakinkan dan bisa dipercaya. Mengingat telah terbiasa di ranah romansa, Rio Dewanto seolah tiada mengalami kesulitan berarti. Dia bisa menampilkan verbal dan reaksi yang tepat dalam konflik yang dihadapinya, memperlihatkan ‘bantuan’ kepada Dhea Seto wacana apa yang seharusnya dilakukan. Kehadiran formasi pemain pendukung pun menguatkan posisi para pemain film utama. Mereka menerima porsi penting dan bukan sekadar pengisi ruang kosong belaka. Salah satu yang menonjol ialah Gofar Hilman – sebagai Baron, sobat Jeremy – yang difungsikan sebagai tokoh yang menghadirkan gelak tawa. Gofar Hilman melakoninya dengan tidak berlebihan, tampak bersenang-senang, dan menghidupkan setiap adegan yang ia jalani. Memberi keceriaan yang diharapkan oleh film ini. 

Tapi tentu saja Me & You vs The World tak akan hadir sekuat ini tanpa sokongan naskah olahan Endik Koeswoyo dan skoring musik dari Andhika Triyadi. Tidak sepenuhnya patuh pada sumber asli, Endik Koeswoyo melaksanakan sejumlah perombakan dan membubuhkan cukup banyak obrolan ceplas ceplos yang menyegarkan serta menyuntikkan sedikit kehangatan. Menjadi semakin bernyawa ketika Andhika Triyadi turun tangan untuk melaksanakan tugasnya, menghidupkan setiap adegan dalam film. Salah satu yang terbaik ialah adegan di penghujung film yang berlangsung di India dan melibatkan tarian-tarian. Magis! Kehadiran tembang pengiring yang meminjam vokal merdu Ashilla pun menajamkan suasana yang menggugah dan menyayat hati. Perpaduan (dan peleburan) dari kesemuanya inilah yang menimbulkan Me & You vs The World terasa lebih kokoh, hidup, dan mengikat ketimbang film romansa cukup umur belakangan ini. Menyenangkan.

Acceptable