October 19, 2020

Review : Men In Black 3


“Never ask a question you don’t want to know the answer to”

Apa kiprah yang harus dilakukan oleh dua biro berjas hitam rapi yang senantiasa menggunakan kacamata hitam dengan pekerjaan paling misterius di dunia, Agen J (Will Smith) dan Agen K (Tommy Lee Jones), selama 10 tahun sampai tetapkan untuk rehat menyapa penggemar mereka di layar bioskop? Tidak mungkin alasannya alasannya ialah uang alasannya ialah Men In Black II masih mampu mencetak angka yang terbilang tinggi dari peredaran seluruh dunia, mencapai $441 juta. Bisa jadi, kecaman pedas dari para kritikus film, plus nominasi Razzie Awards, yang membuat Columbia Pictures tak kunjung menawarkan lampu hijau untuk pembuatan sekuelnya. Berbagai spekulasi pun bertebaran, sementara para pecinta film tidak lagi menaruh keinginan untuk menyaksikan kelanjutan sepak terjang dari dua biro ini dalam waktu dekat. Apakah proyek ini telah dihentikan? Terlalu sayang untuk dilepaskan. Benar saja, sehabis sekian usang tak ada kabar, Men In Black 3 mendadak muncul dan direncakan untuk tayang pada Mei 2012. Whoaaa… sungguh sebuah pertaruhan. Menghilang selama 10 tahun, apa masyarakat masih tergugah untuk menyaksikan bab ketiga dari Men In Black sementara film-film besar macam The Avengers, Battleship, dan Prometheus dirilis dalam waktu berdekatan? Saran saya, ada baiknya Anda menjajalnya terlebih dahulu. 

Setelah film pendahulunya yang tidak ciamik dengan polesan dampak khusus yang kurang cihuy, Men In Black 3 diperlukan bisa membayar semua kesalahan yang diperbuat oleh Barry Sonnenfeld 10 tahun silam. Menambah kuota action di dalamnya, jilid ketiga ini akan menggali lebih jauh masa kemudian dari Agen K di tahun 1969. Dengan melompatnya setting ke 40 tahun yang lalu, itu artinya film ini akan memasukkan unsur time travel. Menurut sang sutradara, semua ini berawal dari wangsit yang dilontarkan oleh Will Smith tatkala syuting Men In Black II. Karena wangsit yang dianggap sulit untuk direalisasikan apabila menginginkan hasil yang memuaskan inilah film ketiga molor sampai 10 tahun. Well, dengan persiapan yang membutuhkan waktu sedemikian usang dan terpola matang, sudah sepatutnya film ini tak menawarkan hasil yang mengecewakan. Dan, yeah… Men In Black 3 is surprisingly good. Walaupun belum bisa menyamai pencapaian film pertama, Men In Black 3 terperinci merupakan peningkatan yang memuaskan dari film sebelumnya. Josh Brolin tampil mengagumkan sebagai Agen K muda, wajah, gestur dan cara bicaranya menyerupai dengan Tommy Lee Jones. Luar biasa. Sementara itu, chemistry yang terjalin antara Smith dan Jones pun kian padu. Tak bisa dibayangkan bagaimana akhirnya film ini apabila Jones tidak dilibatkan menyerupai rencana awal. 

Apa yang terjadi dengan Agen K sehingga Barry Sonnenfeld membuat sebuah petualangan yang melibatkan time travel di Men In Black 3? Semuanya berawal dari Boris the Animal (Jermaine Clement) yang berhasil kabur dari penjara Lunar Max yang berlokasi di Bulan dengan tingkat keamanan super tinggi. Rencana utama dari Boris ialah menuntut balas kepada Agen K yang telah merenggut lengan kirinya ketika K tengah berusaha untuk membekuk Boris. Kaburnya Boris dari penjara membuat K meratapi keputusannya untuk tidak membunuh Boris kala itu. Dihinggapi dengan rasa ingin tau yang semakin usang semakin berkecamuk, Agen J mencoba untuk menggali warta seputar relasi antara rekannya dengan Boris. Belum sempat info didapat, Agen O (Emma Thompson) menghentikannya. Sang partner pun tidak bisa diandalkan. Memilih membisu seribu bahasa ketika pembahasan mengenai masa lalunya diapungkan. “Never ask a question you don’t want to know the answer to,” begitu yang sering diucapkan oleh K. Ketegangan mulai meningkat ketika K mendadak lenyap dari peredaran, tak ada seorang pun dari masa sekarang yang mengingat kehadirannya dan O menyatakan bahwa K telah tewas 40 tahun lalu. J gundah bukan kepalang. Setelah diwarnai dengan perdebatan yang alot, sebuah kesimpulan berhasil didapat. K dibunuh oleh Boris yang kembali ke masa lalu. Maka demi menyelamatkan rekannya, J pun mau tak mau kudu rela menyusuri portal waktu menuju tahun 1969. Nyatanya, tak hanya menyelamatkan K, J pun menemukan sebuah fakta pahit yang selama ini disimpan rapat oleh K. 

Men In Black 3 memenuhi keinginan saya akan sebuah film popcorn super ringan yang menghibur. Jika Anda sedikit kecewa dengan Men In Black II, maka kekecewaan Anda terbayarkan dengan lunas disini. Sudah sepantasnya Barry Sonnenfeld, Etan Cohen dan Columbia Pictures berterima kasih kepada Smith yang telah menyumbangkan wangsit briliannya seputar time travel dan penggalian masa kemudian Agen K. Jilid ketiga ini memiliki alur dongeng yang sungguh mengasyikkan, adegan pembukanya yang melibatkan Nicole Scherzinger pun menjanjikan. Memasuki tahun 1969, petualangan Agen J pun semakin menarik untuk diikuti terlebih alasannya ialah melibatkan rujukan budaya populer, Neuralyzer versi jadul, monocycle, serta Griffin (Michael Stuhlbarg) yang menjadi bintang di paruh akhir. Sekalipun Sonnenfeld menggenjot porsi adegan laga, namun porsinya tetap diubahsuaikan dengan adegan komedinya yang memang menjadi fokus semenjak awal sehingga keseimbangan bisa terjaga membuat sebuah ritme yang pas. Ditimpali dengan sebuah ‘twist’ yang cukup mengejutkan plus mengharu biru – percayalah, Anda sangat membutuhkan tissue untuk ini – Men In Black 3 menjadi sebuah hiburan yang komplit.

3D atau 2D? Tak ada yang istimewa dari versi 3D-nya, saya menyarankan Anda untuk menyaksikan Men In Black 3 dalam versi 2D saja. 

Exceeds Expectations