October 29, 2020

Review : Mermaid


Dirangkum dalam satu kalimat, ketertarikan utama terhadap Mermaid disebabkan oleh ini yaitu film terbaru dari Stephen Chow yang memecahkan banyak sekali macam rekor box office di Tiongkok. Mermaid mengantongi lebih dari $500 juta hanya dari pasar dalam negeri yang sekaligus menempatkannya sebagai film non-Hollywood pertama yang bisa menembus angka setengah miliar dollar di negara selain Amerika Utara! Sungguh mengagumkan, bukan? Pun begitu, sekalipun tanpa dilabeli pelengkap ‘film terlaris’, Mermaid telah mencuri rasa ingin tau semata-mata karena faktor Stephen Chow. Ada kerinduan besar terhadap karya-karya pembesut dua film legendaris, Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle, ini terlebih beliau tidak menghasilkan film apapun selama kurang lebih tiga tahun terakhir sejak Journey to the West: Conquering the Demons. Memang sih Chow tidak lagi aktif menampakkan diri di depan kamera – olah kiprah terakhirnya yaitu CJ7 – namun menyerupai halnya Journey to the West, kau masih akan sangat bisa mencicipi cita rasa humor Chow lewat Mermaid. Kamu juga masih akan sangat bisa tertawa terbahak-bahak di dalam bioskop kala menyaksikan Mermaid.

Seorang (atau seekor?) putri duyung berparas manis berjulukan Shan (Lin Yun) ditugaskan oleh kaumnya untuk membunuh konglomerat properti, Liu Xuan (Deng Chao), semoga proyek pengembangan real estate-nya yang mereklamasi perairan daerah pemukiman para duyung ini berhenti. Setelah banyak sekali upaya pembunuhan gagal dilakukan – malah cenderung berakhir konyol – Shan memutuskan untuk menarik hati Liu Xuan. Meski tidak juga gampang mendekati sang konglomerat, lama-lama Liu Xuan luluh melihat kegigihan tidak biasa dari Shan terlebih lagi di lubuk hati terdalam Liu Xuan yang kesepian mendambakan cinta. Sering menghabiskan waktu bersama, Shan mulai menyadari bahwa laki-laki yang coba dibunuhnya ini tidaklah sejahat menyerupai asumsi awal. Benih-benih cinta diantara mereka pun mulai tumbuh. Mengetahui Shan telah kehilangan fokus dan mulai bias, insan gurita, Octopus (Show Lo), mencoba mengandaskan hubungan keduanya yang berujung pada terungkapnya identitas orisinil Shan. Di tengah-tengah kebingungan Liu Xuan dalam memilih pilihannya – cinta atau uang – Shan berjuang keras menyelamatkan kaumnya dan dirinya sendiri dari incaran sebuah kelompok rahasia. 

Satu hal yang dijamin bisa kau sanggup seusai menonton Mermaid: kebahagiaan. Semenjak menit pembuka, Stephen Chow tak segan-segan untuk melempar bom pemicu ledakan tawa dalam jumlah masif plus tanpa henti. Ya, membutuhkan perut, rahang, maupun lisan besar lengan berkuasa kala menyimak Mermaid di layar lebar karena Chow akan membuatmu mengeluarkan tawa berderai-derai yang hampir tak ada putusnya serta berlangsung terus menerus. Mengingat lawakan absurd serba lebay khas Chow – biasa disebut juga sebagai Mo lei tau – menghiasi keseluruhan durasi film yang mencapai 90 menit, maka sesekali meleset yaitu kewajaran. Momen-momen jayus sulit terhindarkan. Namun begitu sekalinya sempurna sasaran mengenai target, bersiaplah jungkir balik di dalam bioskop. Bagi saya, ketepatan itu muncul melibatkan kata kunci bathtub, landak laut, tentakel, beserta kantor polisi. Saya tidak akan menjelaskan rincian adegannya menyerupai apa (ada baiknya juga hindari trailer karena sekelumit diantaranya telah dipaparkan) karena kau harus mencicipi sensasi kekocakannya sendiri. Yang jelas, selain tentakel, kedua momen emas tersebut terkemas begitu sederhana namun efektif dalam menyulitkanmu menahan tawa. 

Dan, kau tidak perlu khawatir daya pikat Mermaid agak menurun karena Chow tidak turut berpartisipasi dalam ngelaba di depan kamera karena menyerupai telah saya singgung sedikit di paragraf pembuka, ruhnya masih bisa dirasakan. Kita pun sanggup melihat perwujudan sosoknya melalui huruf Liu Xuan (maupun karakter-karakter lain). Walau dideskripsikan sebagai pengusaha properti sukses, Liu Xuan mempunyai jiwa ‘low class’ dengan tindak tanduk yang tidak jarang too weird to be true. Tanpa pernah berusaha terlalu keras menduplikasi, perangai Deng Chao dalam menghidupkan tokoh Liu Xuan seketika melambungkan ingatan kita ke sosok Chow. Seolah-olah kita melihat versi muda dari sang sutradara. Sedangkan Shan yaitu cerminan huruf yang gampang merebut hati siapapun. She’s so lovable. Dia cantik, jelas, tetapi sisi charming-nya lebih besar lengan berkuasa berasa pada kepolosan maupun ketulusannya. Lin Yun berhasil menyatukan kemudian memancarkan ketiga energi konkret tersebut sehingga penonton pun tak menggugat mengapa Liu Xuan cenderung terpikat ke Shan yang luar biasa sederhana malah cenderung agak ndeso dari penampilan ketimbang Ruolan (Zhang Yuqi), rekan bisnis Liu Xuan dengan tampilan fisik sangat menarik hati yang sedikit banyak mengingatkan saya pada Song Hye-kyo. 

Romantisme beserta canda tawa yang kemudian diperjumpakan pula dengan gosip besar mengenai pencemaran lingkungan dan parade agresi berbalut CGI konyol yaitu sajian yang disajikan Stephen Chow dalam Mermaid. Terkesan penuh sesak memang bahkan berdampak pula pada kurang tergalinya plot ihwal lingkungan, namun akankah kita mengeluhkan ini dikala Mermaid sukses mencapai tujuannya untuk menciptakan penonton tertawa? Rasa-rasanya tidak perlu. Lagipula Chow mempunyai kepekaan bagus dalam memilih kapan waktu yang sempurna untuk melontarkan humor dan kapan waktu yang sempurna untuk menahannya. Peralihan nada film ke arah melankolis di paruh simpulan pun dilangsungkan mulus. Air mata hasil tertawa lepas perlahan tapi niscaya tergantikan oleh air mata hasil momen-momen dramatis yang sekalipun klise namun dihukum dengan sangat baik sehingga memunculkan sensasi menyentuh. Memadukan tawa, air mata, sekaligus secuil semangat (membara?), Mermaid yaitu suatu paket hiburan yang komplit. Jika kau menggemari karya-karya Stephen Chow atau semata-mata ingin mencari penghiburan atas kepenatan hidup, maka terang Mermaid sebaiknya tak kau lewatkan begitu saja. Percayalah, kau akan tetap tersenyum-senyum senang selama melangkahkan kaki ke luar bioskop usai menonton film ini. Tidak mengherankan Mermaid bisa laku manis di pasar Asia, lha wong filmnya memang sangat menghibur!

Outstanding (4/5)