October 22, 2020

Review : Midnight Show


“Aku sudah membuat neraka, kini darah harus menjadi penebusnya.” 

Selepas belajar kepada Gareth Evans dan The Mo Brothers dengan menduduki dingklik ajun sutradara untuk Rumah Dara, The Raid, sampai Killers, Ginanti Rona mencoba mengaplikasikan ilmu yang diperolehnya dari sutradara-sutradara muda andal plus ‘sinting’ tersebut ke film perdana arahannya, Midnight Show. Tidak mirip diduga kebanyakan orang yang belum apa-apa menuding Midnight Show mencuplik plot film horor asal Thailand bertajuk Coming Soon hanya alasannya ialah keduanya memanfaatkan bioskop sebagai latar tempat, film keempat produksi Renee Pictures ini bergerak sepenuhnya ke arah slasher tanpa sedikitpun memasukkan unsur supranatural ke guliran pengisahanya. Malah Midnight Show cenderung mirip Ten Little Indians kepunyaan Agatha Christie dan Identity – saya meyakini dua karya ini ialah sumber inspirasinya – hanya saja mengingat portofolionya, Ginanti Rona pun bersuka cita dengan menambahkan galonan darah di filmnya yang menerapkan contoh dongeng ‘whodunnit’ ini. Brutal dan mencekam? Tentu saja. 

Di tengah kondisi finansial Bioskop Podium yang kembang kempis, Pak Johan (Ronny P Tjandra) mengambil keputusan berani dengan menayangkan sebuah film kontroversial berjudul Bocah yang didasarkan pada kisah faktual pembantaian sebuah keluarga oleh si anak sulung berusia 12 tahun untuk penayangan tengah malam. Akan tetapi, impian Pak Johan sanggup melihat bioskop miliknya kembali dipadati penonton seketika sirna tatkala hujan deras mengguyur kota malam itu. Hanya ada segelintir orang menampakkan diri di Podium dengan masing-masing diantaranya memiliki agenda terselubung alih-alih sekadar menonton film. Tercium adanya ketidakberesan sejak terpantik pertikaian di lobby alasannya ialah seorang PSK berjulukan Sarah (Ratu Felisha), problem sebetulnya mulai timbul tatkala salah seorang penonton mengalami percobaan pembunuhan di dalam ruang pemutaran. Tidak diketahui siapa pelakunya, tapi apa mungkin kelakar Juna (Gandhi Fernando), proyeksionis Podium, perihal si bocah kembali menuntut balas alasannya ialah tidak menyukai film wacana dirinya memang benar adanya? Jika ya, mengapa di Podium? 

Sekelumit flashback yang memberi penonton citra mengenai bencana keluarga si bocah ditampilkan pada menit-menit pertama. Dengan kekerasan dan ketegangan ditempatkan pada level medium, Midnight Show menyetel ekspektasi kita cukup tinggi terhadap apa yang akan terjadi berikutnya. Adanya kemungkinan bahwa reka ulang TKP ini menyimpan petunjuk besar untuk misteri utama, turut membuat excitement akan filmnya itu sendiri. Apa keterkaitan antara peristiwa tragis ini dengan teror yang terjadi di Podium? Itulah bekal pertanyaan yang kita bawa. Lalu si pembuat film memberi perkenalan singkat kepada beberapa huruf dalam Midnight Show dimulai dari para pekerja Podium mirip Pak Johan, Juna, si penjual tiket Naya (Acha Septriasa), security pemalas Allan (Daniel Topan), serta rekan kerja Naya, Lusi (Gesata Stella), sampai pengunjung bioskop yakni Sarah, lelaki misterius Tama (Ganindra Bimo), laki-laki penuh kegelisahan Seno (Arthur Tobing), Guntur (Ade Firman Hakim) yang berniat membajak film dan pelanggan Sarah, Ikhsan (Boy Harsya). Selain Naya – well, kita sanggup menduga bahwa ia ialah heroine disini mirip Julie di I Know What You Did Last Summer atau Sidney di Scream – setiap tokohnya memiliki kemungkinan sama besar berada di balik topeng pembunuh. 

Begitu penonton dirasa telah cukup memperoleh informasi terkait para tokoh, Ginanti Rona pun memulai permainannya dengan membuka keran ‘persediaan darah’, menutup rapat seluruh saluran keluar masuk bioskop, dan memunculkan atmosfir klaustrofobik yang serba tidak mengenakkan. Setelah korban pertama tumbang, disusul secara cepat korban kedua dan korban ketiga, titik cekam mengalami eskalasi. Memanfaatkan sangat baik terbatasnya ruang bioskop (oh, sebelum lupa, saya menyukai penanda waktu yang tertoreh detil lewat beberapa gimmick semisal poster film esek-esek Indonesia), secara otomatis aroma ketegangan berbalut rasa cemas pun semerbak alasannya ialah kita mengetahui tidak ada jalan keluar, minim daerah bersembunyi, dan satu-satunya cara meloloskan diri ialah berkonfrontasi dengan si pembunuh. Adrenalin dipacu sedemikian rupa – sesekali memunculkan momen sulit menghembuskan nafas – oleh pemandangan serba merah hasil dari semburan darah, kucing-kucingan antara pembunuh dengan para penyintas, atmosfir suram Podium dan tebak-tebak manggis “who’s the killer?.” 

Ketegangan ini, sayangnya, tidak penah benar-benar terjaga konstan. Mengalami beberapa kali naik turun sepanjang durasi, kemerosotan terbesar justru terjadi kala film memasuki klimaks. Kala topeng pembunuh mulai tersibak dan pembagian terstruktur mengenai motif mulai dijabarkan. Terlalu berlama-lama menjelaskan motif pembunuhan sekaligus siapa-siapa terlibat apa berdampak terhadap melunaknya tensi. Ya, kita masih mendapati momen penyiksaan yang cukup mencekat disini (walau kena tebang sensor juga, damn you LSF!), tetapi tidak sanggup ditampik ada sekelumit rasa jenuh yang muncul karena mendengar segala bentuk klarifikasi mengapa semua ini harus terjadi dalam rentang waktu yang cukup panjang. Duh. Kembali membaik begitu tuturan flashback diakhiri, Midnight Show pada alhasil sanggup dikatakan sebagai sebuah effort yang paling baik diantara rentetan judul keluaran Renee Pictures sejauh ini. Masih agak terseok-seok di sisi penceritaan memang, namun Midnight Show tetap berhasil menerjemahkan premis menariknya ke bahasa gambar yang seru, mencekam, dan brutal. Sebuah debut menjanjikan dari Ginanti Rona!

Exceeds Expectations (3,5/5)