October 20, 2020
Drama / Film / US

Review : Midnight Special


“I like worrying about you, Alton.” 

Dua orang pria, Roy (Michael Shannon) dan Lucas (Joel Edgerton), pergi terburu-buru meninggalkan motel. Mereka membawa serta seorang bocah berusia delapan tahun yang mengenakan kacamata khusus untuk membantu penglihatannya, Alton (Jaeden Lieberher). Dari sebuah informasi di kaca kaca yang dipirsa Roy pada permulaan film, penonton memperoleh informasi bahwa status Roy ialah buron. Dia dituduh menculik Alton. Sejurus kemudian, kita melihat mereka bertiga menunggangi kendaraan beroda empat berkecepatan tinggi dan melintasi beberapa negara bab mencoba menghindari kejaran pihak berwajib. Untuk sesaat si pembuat film membiarkan penonton meyakini Alton merupakan korban penculikkan kedua laki-laki tersebut hingga di satu titik terkonfirmasi relasi sesungguhnya antara si bocah dengan Roy. Tidak hanya itu, kita juga mengetahui alasan bahu-membahu Roy dan Lucas membawa kabur Alton dari daerah mereka bermukim sebelumnya sehingga ketiganya dikejar-kejar oleh dua pihak yang masing-masing memiliki kepentingan terselubung dibalik alasan ingin menyelamatkan Alton dari cengkraman Roy.  

Jangan terkecoh sinopsis Midnight Special yang seolah mengisyaratkan akan hadirnya gelaran seru bermuatan ‘boom boom bang’ mencukupi di dalamnya alasannya ialah menyerupai karya-karya Jeff Nichols terdahulu – sebut saja Take Shelter dan Mud – film keempat sang sutradara ini terang tidak dipresentasikan sebagai tontonan eskapisme murni yang sanggup kau nikmati secara santai seraya mencemil berondong jagung sekaligus menyeruput minuman bersoda di gedung bioskop walau ya, bisa dibilang Midnight Special ialah buah karyanya yang paling ngepop. Laju pengisahannya tetap mengalun lambat yang akan sangat menguji kesabaran penonton penggemar film bertempo cergas dan sekalipun Midnight Special menyerupai bentuk penghormatan Nichols kepada film-film fiksi ilmiah buatan Steven Spielberg semacam E.T. atau Close Encounters of the Third Kind, kau tidak bisa mengharap munculnya spektakel epik dengan visualisasi mencengangkan alasannya ialah disamping bujetnya terhitung minimalis, Nichols tetaplah Nichols yang menganggap aksara ialah elemen paling penting dalam menggerakkan film. 

Masalahnya, barisan aksara yang bersliweran sepanjang film tidak cukup bernyawa karena Nichols tidak cukup memfasilitasi mereka dengan latar belakang. Penonton dibiarkan terus bertanya-tanya, “siapa mereka? Mengapa mereka melaksanakan ini atau itu? Bagaimana ini atau itu bermula?” tanpa pernah ada klarifikasi memuaskan untuk semua pertanyaan tersebut. Lantaran tidak bisa mengenal baik setiap aksara termasuk ketiadaan motif terang yang melandasi setiap agresi mereka, muncul sekat pembatas yang menyulitkan kita untuk benar-benar terhubung secara emosi utamanya kepada relasi Alton dengan Roy yang seharusnya menjadi kunci. Kepedulian untuk Alton, Roy, Lucas, bahkan ibunda Alton (Kirsten Dunst) gagal tersematkan. Memang ada satu momen yang memunculkan rasa tegang ketika kendaraan beroda empat mereka terjebak di antrian panjang, namun selebihnya, Midnight Special bercita rasa dingin dan datar. Jajaran pelakonnya pun tidak bisa membantu banyak – terhitung hanya Joel Edgerton yang memberi performa istimewa – terlebih chemistry diantara mereka hanya berada di level “bolehlah”
Padahal Midnight Special bahu-membahu punya materi kupasan yang cukup menggiurkan dan berpotensi mengusik pikiran. Coba bayangkan bagaimana kalau film fiksi ilmiah ala Spielberg dipertemukan dengan religious theme? Oh ya, Midnight Special terbilang kental unsur religinya. Ada perwujudan Yesus dalam sosok Alton begitu pula Yudas Iskariot serta Pontius Pilatus di aksara lain. Lalu Nichols juga memperbincangkan perihal pengorbanan, masa depan lebih baik, hingga keberadaan agama gres yang berpotensi membawa kehancuran. Menarik, bukan? Hanya saja, materi dialog semenarik plus sedalam itu gagal terhantarkan dengan baik karena Nichols enggan menggalinya lebih dalam. Penonton lagi-lagi dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mengganggu yang tidak juga dijawab oleh si pembuat film. Dengan jalinan pengisahan yang seiring berjalannya durasi kian melonggarkan atensi karena ketiadaan emosi sebagai pencengkeram, bisa menikmati Midnight Special bukanlah perkara mudah. Dibandingkan Take Shelter maupun Mud, Midnight Special terang sebuah penurunan. Sungguh sayang menyidik betapa besarnya modal yang dimiliki oleh film ini untuk menjadi mahakarya bagi Nichols.

Acceptable (3/5)