July 1, 2020

Review : Midsommar

 
“Are you not disturbed by what we just saw?”

Pada tahun 2018 lalu, sutradara pendatang gres Ari Aster membuat para pecinta film terhenyak melalui debutnya bertajuk Hereditary yang kerap disebut-sebut sebagai salah satu tontonan angker terbaik di kurun 2010-an. Tanpa banyak mengandalkan jump scares untuk memantik ketakutan, si pembuat film justru banyak bergantung pada atmosfer beserta imaji-imaji menggelisahkan guna membuat mimpi jelek bagi penonton. Sebuah trik yang terhitung berhasil, lebih-lebih sebab Aster mempunyai dua bekal penunjang yang kuat: narasi mengikat beserta akting pemain yang gila. Saking mempannya Hereditary dalam meninggalkan kesan tak mengenakkan selepas menonton, para penonton (termasuk saya) pun seketika menaruh perhatian terhadap langkah Aster selanjutnya. Kita ingin tahu, akankah ia mengkreasi kegilaan lain dalam film keduanya, atau ia akan mencoba bereksperimen dengan menjajal genre lain? Tanpa mengambil waktu jeda terlampau lama, sutradara yang mengawali karirnya dengan menggarap film-film pendek ini lantas berkolaborasi kembali dengan A24 – biro dari film perdananya – untuk mengerjakan sebuah film horor. Mengusung judul Midsommar, pendekatan yang coba diambil sekali ini agak berbeda dengan buah karya terdahulu. Tak ada lagi nuansa serba gelap nan bermuram durja untuk membangun atmosfer mengganggu, sebagai penggantinya ialah warna-warna ceria khas trend panas. Menilik pendekatan yang terbilang nyeleneh tersebut, maka tak heran ada satu pertanyaan mengemuka: apa yang lantas menimbulkan Midsommar terasa menyeramkan jikalau segalanya serba cerah?

Well, menyerupai kita ketahui bersama, dunia ini begitu misterius. Sesuatu yang tampak dilingkupi kegembiraan belum tentu memperlihatkan rasa aman, demikian pula sebaliknya. Dalam kasus Midsommar, kengerian beserta teror berasal dari sebuah lokasi yang tampilan luarnya memperlihatkan kesan menyerupai daerah paling layak huni di muka bumi. Para penduduknya senantiasa tersenyum ramah, pesta perayaan penuh suka cita dihelat saban trend panas, pemukiman yang jauh dari hingar bingar perkotaan, dan sinar matahari pun tak henti-hentinya menyinari sekalipun malam telah tiba. Menengok deskripsi tersebut, apa sih yang mungkin salah dari komunitas Harga di Swedia ini? Dani (Florence Pugh), seorang mahasiswi asal Amerika Serikat, yang mengunjungi komunitas ini bersama kekasihnya, Christian (Jack Reynor), beserta teman-temannya, Mark (Will Poulter) dan Josh (William Jackson Harper), pada mulanya menganggap segala sesuatu di daerah ini tampak sempurna. Lebih-lebih bagi Josh yang berencana mengulik tradisi trend panas Harga sebagai topik utama untuk kiprah akhirnya. Tapi selepas mereka menyaksikan para tetua menjalankan ritual attestupa dimana mereka melaksanakan agresi bunuh diri pada usia tertentu, pandangan mengenai kesempurnaan seketika terhempas. Beberapa personil tampak terguncang sampai-sampai berinisiatif untuk kabur, sementara Josh sendiri justru menaruh ketertarikan lebih. Di ketika mereka karenanya memutuskan untuk bertahan pasca ditenangkan oleh penduduk setempat, kejanggalan demi kejanggalan justru semakin tak terbendung hingga karenanya mencapai tahap mengancam keselamatan Dani dan kawan-kawannya.


Ketimbang Hereditary yang terpampang faktual sebagai produk horor, mesti diakui Midsommar lebih berpotensi untuk memecah belah pandangan penonton sebab pendekatan sang sutradara yang terbilang nyentrik. Tak ada kegelapan yang mendorong kecurigaan, tak ada pula daya kejut untuk membuat penonton terlonjak dari bangku bioskop. Segalanya berlangsung cerah, tenang, serta tak jarang pula, ada canda tawa menghiasi. Yang kemudian menjadikannya mengerikan ialah perspektif penonton yang diatur sedemikian rupa oleh si pembuat film sehingga melahirkan kesimpulan bahwa “ada sesuatu yang salah dari Harga, ada sesuatu yang jahat di sini.” Tapi benarkah demikian? Apakah komunitas ini memang perlu diwaspadai, atau justru sesungguhnya teman-teman Dani lah yang merupakan villain utama dari film berjenis folk horror ini? Pada separuh durasi pertama, saya yakin bahwa Harga bukanlah daerah yang aman. Ada kejanggalan-kejanggalan muncul yang ditampilkan dalam bentuk imaji menggelisahkan kenyamanan oleh Aster, menyerupai kepala yang dihancurkan memakai palu raksasa, diiringi dengan musik bernuansa etnik yang membuat bulu kuduk meremang. Selayaknya Dani, saya mengalami keterkejutan (dan guncangan) bukan main menyaksikan para tetua menjalani ritual atestupa. Tapi seiring berjalannya durasi, saya menyadari bahwa ini semua perihal perspektif. Ini semua hanya soal “kebiasaan”. Kita menganggap Harga sebagai daerah menyeramkan, tapi bukankah daerah yang kita diami ketika ini justru lebih menyeramkan? Setidaknya ada alasan-alasan baik dibalik kepercayaan pagan yang dipegang teguh oleh masyarakat Harga dan mereka tidak mempunyai tendensi untuk melukai antara satu dengan yang lain. Mereka rukun, mereka saling mencintai, dan mereka tidak mengembangkan kebencian diantara sesama warga.    

Pandangan Dani pun berangsur-angsur berubah sehabis ia memutuskan untuk bertahan di Harga. Dia melihat kepedulian dari mata para penduduk, sementara dari mata kekasih maupun teman-temannya, ia melihat keengganan. Dari sini, definisi “horor” digali lebih mendalam oleh Aster melalui jalinan pengisahan mengikat dimana rasa takut bukan semata-mata dipantik oleh parade gambar menyeramkan atau musik yang mengakibatkan diri ini bergidik ngeri, melainkan dari sudut pandang insan mengenai kesendirian maupun diabaikan. Itulah mengapa, Aster lantas menentukan Dani sebagai fokus penceritaan. Semua kengerian di sini berasal dari sudut pandang Dani sehingga gampang bagi saya untuk menyampaikan bahwa Midsommar sejatinya merupakan kisah perjalanan spiritual bagi si protagonis utama. Terlebih, kita juga menyaksikannya berproses. Dari seseorang yang menanggung sedih akhir kehilangan keluarga dalam satu tragedi, kemudian menyimpan luka akhir penolakan implisit dari orang-orang di sekitarnya, hingga kemudian ia menemukan satu komunitas yang bersedia menerimanya dengan tangan terbuka. Terdengar dalam? Memang begitulah film ini. Disamping mengulik soal perspektif, sang sutradara juga berniat memperbincangkan ihwal mental illness, atau dalam hal ini depresi, dalam Midsommar. Dani ialah perwakilan penyandang depresi, Christian ialah representasi dari masyarakat kebanyakan yang kebingungan tatkala berhadapan pribadi dengan penderita depresi, Mark beserta Josh ialah citra toxic people nihil tenggang rasa yang memandang sepele depresi, dan Harga ialah support system yang seharusnya dimiliki oleh setiap penyandang depresi.


Dalam satu adegan yang memperlihatkan Dani terkena panic attack dan penduduk Harga mengikuti tangisan meraung-raungnya, saya menemukan beberapa penonton tertawa terbahak-bahak. Memang betul bahwa reaksi penduduk Harga ini tergolong janggal. Tapi janggal berdasarkan siapa? Menurut masyarakat yang menentukan untuk meredam perasaan sedemikian rupa karena menangis tersedu-sedu atau melompat kegirangan bertopensi diberi label “gila”, “drama”, maupun “lebay”? Lagi-lagi, ini soal perspektif. Namun dalam pandangan saya, adegan yang menjadi titik balik bagi huruf Dani ini sesungguhnya menyesakkan sekaligus melegakan. Menyesakkan sebab Dani mencicipi sakitnya pengkhianatan dari seseorang yang selama ini ia pikir punya kepedulian kepadanya, melegakan sebab ia menemukan orang-orang yang memahami betul kondisi kejiwaannya. Sebagai seseorang yang pernah berada di posisi Dani – dan beruntung mendapatkan support system – saya sanggup mengerti bagaimana perasaannya. Saya pun sanggup mengerti apa makna dari senyuman di penghujung film. Sebuah senyuman yang membuat diri ikut tersenyum (dan juga merana), kemudian merinding dibuatnya. Tapi tentu saja, ini merinding yang berbeda dari merinding tatkala menyaksikan imaji-imaji asing di sepanjang durasi Midsommar.

Outstanding (4/5)