October 22, 2020

Review : Minions


“Doesn’t it feel so good to be bad?” 

Kamu boleh oke atau tidak, tapi bagi saya, makhluk kuning mungil berjulukan minions yang menjadi kaki tangan Gru di dwilogi Despicable Me yaitu salah satu abjad paling menggemaskan di sejarah film animasi. Berkat tingkah polah konyol yang senantiasa mengundang tawa berkepanjangan – khususnya bagi penonton cilik – minions pun menjadi scene stealer, bahkan kepopulerannya semakin berkembang yang mengilhami lahirnya figure, game, maupun film pendek. Dengan para penguin bengal dari kawanan binatang Madagascar telah mempunyai filmnya sendiri, maka tinggal menunggu saatnya bagi pasukan minions ini mengikuti jejak mereka… dan Universal Studios tidak membuang-buang waktu untuk ini! Selagi mempersiapkan jilid ketiga untuk Gru, Pierre Coffin ditemani Kyle Balda mencetuskan sebuah spin-off (sekaligus prekuel) yang secara khusus menempatkan makhluk unyu-unyu ini di garda terdepan. Ya, para minion ini diizinkan mempunyai petualangannya sendiri tentunya dengan lebih banyak kegilaan yang bisa jadi akan membuat para penggemar beratnya bersorak-sorai kegirangan. Tapi benarkah demikian? 

Ditarik jauh ke belakang, eksistensi dari makhluk penggila pisang ini rupanya telah ada semenjak terciptanya bumi. Dalam rentang waktu di 15 menit pertama, kita mengetahui tujuan hidup para minion: mengabdi pada majikan paling keji seantero jagad raya. Ragam penjahat mereka layani, dari T-Rex, Genghis Khan, Napoleon, hingga Dracula, tapi tak satupun sanggup dipertahankan karena kecorobohan minion yang menggiring setiap majikan ke nasib tragis. Terlunta-lunta tanpa didampingi seorang master selama menahun, semangat hidup minion kian menipis dari hari ke hari. Menyadari kaumnya diambang kepunahan, salah satu minion, Kevin, berinisiatif untuk mengembara mencari majikan gres ditemani oleh Stuart yang cenderung nakal dan Bob yang masih kanak-kanak. Menyebrangi samudra luas, ketiga minion ini lantas terdampar di Villain Con yang mempertemukan ketiganya dengan seorang super-villain kenamaan, Scarlet Overkill (Sandra Bullock), yang berambisi menaklukkan dunia mempergunakan kekuatan magis dari mahkota Ratu Elizabeth II. 

Saat mendengar para minion diberikan panggung utama untuk berakrobatik demi menghibur penonton, apa yang pertama kali terbersit di benakmu? Lebih banyak kekocakan, kegilaan, dan keseruan? Jika ekspektasi ini yang kau tetapkan, ada baiknya segera diturunkan. Bukan apa-apa, hanya saja tingkat kehebohan dari Minions memang tidak terlampau tinggi selayaknya diperkirakan banyak pihak. Tidak mirip dwilogi Despicable Me yang bisa mengawinkan penceritaan seru mengikat dengan banyolan-banyolan bernada slapstick, Minions bergantung sepenuhnya pada lawakan yang dibombardir tanpa ampun semenjak menit pertama. Bukan sesuatu yang salah, tentu saja, toh tujuan utama menyaksikan Minions yaitu memperoleh sajian yang memungkinkan kita untuk tertawa terbahak-bahak. Sederet peringai konyol para minion juga tak bisa dipungkiri masih efektif dalam memancing gelak tawa – walau cukup disayangkan kebanyakan momen terbaik dari film telah digelontorkan tanpa ampun di bahan promosi – khususnya Stuart yang seringkali bertindak di luar kendali meski tidak sedikit pula lawakan yang meleset dari sasaran. Ada kesunyian bercita rasa garing ditengah keriuhan. 
Hanya saja, saking fokusnya duo Coffin-Balda untuk membuat derai tawa sampai-sampai mengabaikan faktor krusial lain: naskah. Ya, Minions tidak mempunyai jalinan pengisahan menggigit yang meliuk-liukkan emosi penonton. Menghilangkan begitu saja rasa penasaran, greget, dan hangat yang sejatinya memainkan peranan penting dalam dwilogi Despicable Me. Membiarkan penonton tertinggal dalam kehampaan yang tidak jarang nyaris menjadikan jenuh terlebih abjad Scarlet Overkill turut disulihsuarakan secara malas-malasan oleh Sandra Bullock yang membuatnya lebih mirip ‘penjahat membosankan’ ketimbang ‘penjahat beringas’. Jika ada pendongkrak semangat di Minions selain makhluk-makhluk kuning yang memang sudah begitu adorable dari sononya, maka itu yaitu dukungan bunyi energik dari Jon Hamm (sebagai suami Scarlet) dan Jennifer Saunders (sang Ratu Elizabeth II) beserta polesan animasinya yang sangat halus nan kaya warna. Walau pada balasannya Minions memang tidak semengasyikkan dwilogi Despicable Me, tapi film produksi Illumination Entertainment ini masih mempunyai amunisi mencukupi untuk membuatmu terhibur. Bolehlah sebagai sajian pelepas penat.

Fun fact: kau bisa mendengar obrolan berbahasa Indonesia di Minions

Acceptable