October 28, 2020

Review : Mirror Mirror



“Magic mirror on the wall, who’s the fairest of them all?” siapa yang tidak kenal dengan obrolan yang satu ini? Dikutip dari salah satu dongeng terpopuler sepanjang masa, Snow White, rasanya nyaris tidak ada insan yang tidak mengenalnya. Saking ngetopnya Si Putri Salju, aneka macam sineas dari aneka macam penjuru dunia pun mengeksploitasinya habis-habisan dalam film, dari mulai penyesuaian yang sangat patuh kepada kisah aslinya hingga yang merupakan penyesuaian bebas, dari bentuk animasi khusus konsumsi keluarga hingga film dewasa. Tarsem Singh, yang gres saja merilis Immortals, rupanya ikut-ikutan menaruh minat terhadap dongeng ini. Sutradara yang memiliki ciri khas yang berpengaruh pada visualisasi yang penuh warna ini harus menghadapi Rupert Sanders yang rupanya turut terpesona dengan kecantikan si putri. Keduanya, sama-sama merilis versi film Putri Salju pada tahun ini. Sementara Sanders masih sibuk menunjukkan sentuhan final untuk versinya, Singh telah selangkah lebih maju dengan melemparnya lebih awal ke pasaran dengan titel Mirror Mirror. Didukung oleh Julia Roberts, Lily Collins, Armie Hammer, Nathan Lane, dan Sean Bean, proyek ini tampak menjanjikan. 


Dan apakah memang Mirror Mirror semenjanjikan kelihatannya? Well, tergantung dari ekspektasi yang Anda tanamkan terhadap film ini. Bagi saya, Mirror Mirror yaitu salah satu karya terbaik dari Tarsem Singh. Setelah berulang kali dikecewakan melalui karya-karya sebelumnya yang elok tapi memble, kecuali The Fall tentunya, kesannya Singh menemukan irama yang sempurna untuk film terbarunya. Beranjak dari dongeng yang dikumpulkan oleh Grimm Bersaudara, Mirror Mirror yaitu penyesuaian bebas dari Putri Salju yang dengan sengaja mengobrak-abrik jalan kisah orisinil untuk kemudian dibangun alur baru. Tidak menyerupai versi lainnya yang cenderung menekankan pada unsur romantisme, versi Singh ini menunjukkan suntikan humor yang lebih banyak. Porsi tugas utamanya pun tidak lagi didominasi oleh Snow White (Lily Collins), melainkan diserahkan kepada Evil Queen (Julia Roberts). Demi membuat mood yang ceria nan menyenangkan, maka huruf Evil Queen pun dirombak habis-habisan sehingga lebih layak disebut Crazy ketimbang Evil. Ya, Marc Klein dan Jason Keller memosisikan Sang Ratu sebagai pencair suasana yang senantiasa mengocok perut penonton, sekalipun tetap keji. 

Evil Queen yang Anda kenal yaitu seseorang yang rela melaksanakan apapun demi mendapat apa yang didambakannya. Dia yaitu seorang perempuan yang haus akan kekuasaan, harta dan pengakuan. Snow White disingkirkannya hanya sebab beliau dianggap lebih elok dari Evil Queen oleh beling ajaib. Tarsem Singh tetap memertahankan inti kisah menyerupai apa adanya, akan tetapi beliau membubuhkan twist terhadap motif Evil Queen dalam melenyapkan Snow White. Bukan didasari atas kecemburuan tentang keelokan fisik, melainkan oleh permasalahan finansial. Satu-satunya cara untuk memerbaiki kondisi keuangan yang memburuk ini yaitu dengan menikahi Pangeran Alcott (Armie Hammer) dari Valensia yang kebetulan mampir ke Kerajaan. Mengetahui fakta bahwa Alcott menaruh hati pada Snow White, maka Evil Queen pun menitahkan pengawal pribadinya, Brighton (Nathan Lane), untuk membunuh putri tirinya tersebut di hutan. Alih-alih menuruti perintah sang atasan, Brighton yang merasa iba justru melepaskan Snow White. Setelah nasibnya sempat terkatung-katung, Snow White kesannya bertemu dengan tujuh kurcaci yang digambarkan sama sekali berbeda dengan apa yang Anda kenal selama ini. Mereka bukanlah sekumpulan kurcaci yang ulet bekerja, ramah, dan menyenangkan, melainkan sekumpulan bandit. Nah lho! 

Tidak butuh waktu usang bagi Snow White untuk memenangkan hati para kurcaci terlebih dengan kecantikan dan pesona yang beliau miliki. Rasanya susah untuk menolak undangan dari sang putri. Maka, Snow White dan ketujuh kurcaci pun pundak membahu untuk menumbangkan rezim lalim dari Evil Queen sekaligus menggagalkan ijab kabul Prince Alcott dengan Evil Queen. Yang sanggup diberikan oleh Mirror Mirror, tapi tidak dengan film-film Singh sebelumnya, yaitu sebuah tontonan ringan yang menghibur. Masih didominasi dengan visual-visual elok penuh warna nan mengagumkan yang sebagian besar dipancarkan melalui kostum unik dan luar biasa rancangan Eiko Ishioka, sekali ini Singh mengajak Anda untuk bersenang-senang berkat naskah buatan Klein dan Keller yang memiliki amunisi yang cukup ampuh dalam membuat penonton tergelak. Ketepatan dalam menentukan pemain pun rupanya turut berperan besar dalam menyukseskan film. Baik Julia Roberts, Lily Collins, Nathan Lane, dan sekumpulan bintang film yang memerankan kurcaci berperan sangat pas sesuai dengan tuntutan skenario. Susah rasa-rasanya membayangkan mereka digantikan oleh bintang film lain. Dengan durasi yang tidak terlalu panjang, alur kisah yang straight to the point, taburan bumbu komedi dan agresi dalam dosis yang tepat, serta visualisasi yang indah, Mirror Mirror cocok dinikmati sebagai tontonan keluarga di kala liburan. Dan, jangan hingga Anda melewatkan adegan bonus ketika credit title mulai bergulir yang memertontonkan kemampuan Lily Collins dalam olah vokal dan tari ala Bollywood. Itu yaitu kepingan terbaik dari film ini.

Acceptable