October 23, 2020

Review : Miss Peregrine’s Home For Peculiar Children


“You don’t have to make us feel safe, because you’ve made us feel brave.” 

Seperti telah kehilangan mojo-nya, Tim Burton tergagap-gagap dalam menawarkan impresi mendalam melalui beberapa film terakhirnya terkhusus selepas kurun Sweeney Todd (2007). Memang tidak ada satupun yang hingga berakhir mengenaskan bahkan terhitung tetap berada di level “diatas rata-rata”, hanya saja mengingat kita mengetahui reputasi serta seberapa tinggi kapabilitas sutradara berciri khas gothic ini tentu film-film ‘kering’ yang lebih menekankan pada permainan visual daripada substansi yakni suatu kemunduran. Dengan kekecewaan berulang, tentu tidak banyak pengharapan tersemat ke film terbarunya, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, yang didasarkan pada novel young adult bertajuk serupa karya Ransom Riggs walau sekali ini Burton kembali menceburkan diri ke ranah kegemarannya: petualangan bernuansa fantasi yang gelap bagi bocah-bocah terpinggirkan. Membawa sejumput ekspektasi saja ke gedung bioskop – apalagi aku belum pernah sedikitpun menyentuh novel buatan Riggs tersebut – nyatanya menghadirkan laba tersendiri. I quite enjoyed it. Terdapat kesenangan berikut sekelumit excitement dalam Miss Peregrine yang belakangan cenderung agak sulit ditemukan di film-film Burton. 

Miss Peregrine mempertemukan kita pertama kali dengan Jake (Asa Butterfield), cukup umur berusia 16 tahun asal Florida, yang penyendiri. Kehidupan sosialnya menyedihkan dengan satu-satunya sahabat baginya yakni sang kakek, Abe (Terrence Stamp), dan kedua orang tuanya pun kesulitan membangun interaksi dua arah yang hangat. Laju film mulai memperlihatkan gejala pergerakkan kala Abe ditemukan tewas terbunuh oleh Jake di halaman belakang rumahnya. Terpukul, disertai adanya dugaan mengalami halusinasi karena melihat makhluk misterius di tkp, Jake pun menemui psikiater yang berlangsung selama beberapa bulan nyaris tanpa hasil. Jake lantas berinisiatif mengunjungi sebuah pulau kecil di Wales, Inggris, bersama ayahnya dalam upayanya untuk ‘sembuh’ usai menemukan surat-surat kepunyaan Abe. Tujuan Jake ke pulau tersebut hanya satu, mengunjungi sebuah panti asuhan bagi bawah umur berbakat khusus dibawah kepengurusan Nona Peregrine (Eva Green) yang konon keajaiban-keajaiban di dalamnya kerap diceritakan Abe kepada Jake semasa kecil. Namun alangkah kecewanya Jake begitu mengetahui ternyata destinasinya telah luluh lantak akhir dijatuhi rudal dikala Perang Dunia II berlangsung… hingga kemudian beberapa penghuni panti tiba-tiba tiba menghampirinya membawa sebuah kisah mengejutkan. 

Demi menghormati mereka yang belum pernah membaca bahan sumbernya, aku tidak akan membocorkan kejutan tersebut guna mempertahankan daya pikat. Ya, aku pribadi tertarik mengikuti guliran penceritaan Miss Peregrine karena ada ‘sesuatu’ tersembunyi. Mula-mula dipicu oleh keingintahuan untuk melihat ibarat apa petualangan yang bakal dihadapi oleh Jake. Kemudian, diliputi kepenasaran terkait bagaimana Tim Burton memberi sentuhan magisnya dalam memvisualisasikan sang titular character beserta para penghuni panti yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri; ada yang memiliki kemampuan mengendalikan udara, mengeluarkan lebah dari mulut, memantik api, menghidupkan benda-benda mati, memproyeksikan mimpi dalam bentuk film melalui mata, tembus pandang, hingga sanggup mengangkat beban berat yang berkali-kali lipat melebihi bobot tubuhnya. Dan terakhir, gejolak konflik apa yang bakal dihadapi oleh para protagonis kita. Meski Tim Burton berikut sang peracik skrip, Jane Goldman, tampak kesulitan membuat ruang untuk tumbuh berkembangnya jajaran abjad pendukung sehingga menghalangi adanya keterikatan emosi lebih jauh dengan penonton, mereka cukup lihai merekonstruksi jalinan pengisahan menarik perhatian yang tampak ibarat perpaduan antara X-Men, Harry Potter, Groundhog Day, dan Mary Poppins

Memang sih Miss Peregrine agak lambat memanas mengikuti keputusan sang pembuat film untuk memberi citra lebih terang mengenai dunia yang akan dimasuki oleh penonton – dan babak eksposisi ini sendiri untungnya tak pernah berasa menjemukan karena ada kesenangan menyimak keseharian tak biasa dari bawah umur asuh Nona Peregrine – namun begitu Jake mengendus adanya ketidakberesan, ritme film yang semula santai mulai gesit. Intensitas yang sempat memudar sehabis inovasi jenazah Abe, kembali muncul. Kepiawaian Burton membuat nuansa creepy dalam permainan visual pun lantas mencuat, bisa ditilik dari caranya menggambarkan Hollow (monster yang mengancam keberadaan para protagonis kita) maupun sesederhana kencan Jake bersama Emma (Ella Purnell) di kapal tenggelam bawah bahari ditemani “penumpang kapal”, yang kesemuanya tidak lupa ditaburi selera humor nyelenehnya. Disamping berkat Burton yang terlihat telah menemukan iramanya lagi, asyiknya petualangan di Miss Peregrine ini turut disebabkan sokongan dari performa elok barisan pemainnya. Eva Green – versi sedikit lebih normalnya Helena Bonham Carter – memberi eksentriksitas mencukupi pada sosok Nona Peregrine dengan setiap kemunculannya mengundang perhatian, Samuel L. Jackson membawa keseimbangan antara kengerian dan kekonyolan, sedangkan duo Asa Butterfield beserta Ella Purnell tampak elok kala bersatu di layar menguarkan aroma persahabatan plus, ehem, percintaan yang kuat.

Exceeds Expectations (3,5/5)