October 20, 2020

Review : Mission Impossible – Fallout


“There cannot be peace without first a great suffering. The greater the suffering, the greater the peace. The end you’ve always feared is coming and the blood will be on your hands.” 

I have a good news for you. Ladies and gentleman, Ethan Hunt is back! 

Usai planning Ethan Hunt untuk menjalani hidup tenang digagalkan sedemikian rupa oleh seorang antagonis di Mission: Impossible III (2006) kemudian disempurnakan oleh ‘kematian’ sang istri menyerupai dikonfirmasi dalam Mission: Impossible Ghost Protocol (2011), Ethan Hunt seolah tidak lagi mempunyai alasan berpengaruh untuk mengundurkan diri dari IMF dan menghabiskan masa senjanya dengan bersantai-santai di pantai. Terlebih, ada dorongan besar dari pihak studio pemilik cap dagang Mission: Impossible untuk terus menerjunkannya ke lapangan demi merampungkan misi-misi tidak mungkin karena resepsi yang diterima dari penonton maupun kritikus semakin menghangat dari seri ke serinya. Tom Cruise selaku bintang utama – menjabat pula sebagai produser – pun tidak keberatan untuk direkrut kembali, bahkan beliau terus mengatakan diri melakoni rentetan sekuens tabrak berbahaya di beberapa seri terakhir tanpa dukungan pemeran pengganti. Mudahnya, selama masih ada yang sanggup dieksplorasi dan masih ada yang sanggup dijual baik dari segi narasi maupun gelaran laga, kenapa harus berhenti? Itulah kenapa sesudah kekacauan masif di Rogue Nation (2015) yang mengakibatkan ‘rumah’ hero utama kita, IMF, terancam gulung tikar, misi lainnya telah dipersiapkan oleh Christopher McQuarrie yang kembali menempati bangku penyutradaraan untuk Ethan Hunt dan tim di Fallout 

Misi yang harus dicapai oleh para protagonis kesayangan kita yang konfigurasinya terdiri dari Ethan Hunt (Tom Cruise), Luther Stickell (Ving Rhames), dan Benji Dunn (Simon Pegg) kali ini bekerjasama dengan mengamankan plutonium, unsur kimia yang apabila jatuh ke tangan pihak-pihak tak bertanggung jawab sanggup bermetamorfosis sebagai senjata nuklir mematikan. Salah satu pihak yang mengincar plutonium tersebut yaitu Apostles, sebuah kelompok misterius yang mempercayai konsep bahwa perdamaian dunia hanya sanggup direngkuh apabila masyarakat dunia telah menderita secara hebat. Nah, memanfaatkan plutonium ini, Apostles berencana untuk melancarkan serangan yang sanggup mengakibatkan sedikitnya sepertiga populasi dunia musnah dari peradaban. Ethan Hunt yang menyadari dunia tengah berada di ujung tanduk, tentu tidak tinggal membisu begitu saja. Ditemani oleh dua rekan setianya beserta seorang biro CIA, August Walker (Henry Cavill), yang motifnya masih samar-samar, Ethan pun bertolak ke Perancis, Inggris, sampai Kashmir, guna mencegah Apostles mendapat plutonium. Misi yang sejatinya sudah rumit dan mempunyai pertaruhan sangat tinggi ini menjadi kian kompleks tatkala Ethan berjumpa kembali dengan mantan biro MI6, Ilsa Faust (Rebecca Ferguson), kemudian menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang sanggup beliau percaya, dan mendapati sebuah fakta mengejutkan dari masa lalu.

Seperti halnya Rogue Nation, Fallout telah mencuri perhatian sedari menit pembuka. Pembedanya, Christopher McQuarrie tidak pribadi menyuguhi penonton dengan sekuens tabrak pemompa adrenalin yang memperlihatkan Tom Cruise sedang bergelayutan di ketinggian. Sebagai gantinya, beliau menyisipinya dengan latar belakang permasalahan yang akan dikulik oleh film. Ethan Hunt beserta timnya mengacaukan transaksi pembelian plutonium yang berimbas pada raibnya benda berbahaya tersebut, sehingga beliau harus bertanggungjawab untuk menemukannya kembali dengan disupervisi secara pribadi oleh pihak CIA. Beranjak dari sini, film tidak mengizinkan penonton untuk menghembuskan nafas, mengecek ponsel genggam, atau pamit sejenak ke toilet. Sebagai pemanasan, Tom Cruise mengajak kita melompat dari pesawat yang telah melambung sampai ketinggian 25 ribu kaki. Sebagian dari kalian mungkin menerka bahwa adegan ini dihukum di dalam studio memakai dukungan layar hijau – atau kalaupun nyata, memakai pemeran pengganti – tapi faktanya yaitu Tom Cruise beserta Rob Hardy, sang sinematografer, memang diterjunkan dari pesawat. Mereka menjalani training selama setahun demi mengabadikan adegan yang hanya sanggup diambil selama 3 menit setiap harinya ini apabila ingin mendapat pencahayaan yang sempurna. Gila, kan? Tapi tenang saja, kegilaan tidak akan memuncak secara dini alasannya yaitu Fallout masih menyimpan seabrek stok rangkaian tabrak impresif yang akan menciptakan jantungmu berdegup dalam tempo cepat untuk menghiasi sisa durasi. 

Setelah pendaratan di Paris, Fallout mulai konsisten memunculkan sekuens tabrak secara sambung menyambung dan mengeskalasi ketegangan yang seketika membangun mood ke arah positif. Yang sanggup kita antisipasi selama Ethan bertandang ke Kota Cahaya yaitu pertarungan tangan kosong di toilet pria yang intensitasnya melemparkan ingatan saya ke The Raid (2011) beserta ciri khas dari rangkaian seri Mission: Impossible yakni kebut-kebutan beroktan tinggi memanfaatkan kendaraan bermotor. Mengingat mereka sedang melaksanakan kunjungan ke Paris, maka sudah barang tentu agresi tidak akan berlangsung di pedesaan yang tenang melainkan lokasi turistik yang ramai kendaraan berlalu lalang menyerupai Champs-Élysées dan Arc de Triomphe. Itu berarti, kau bakal disuguhi adegan yang memperlihatkan Ethan menggeber motor bertipe R NineT dan kendaraan beroda empat BMW klasik melintasi kepadatan kota dikala jam sibuk. Mendebarkan? Tentu saja. Selama momen tabrak berintensitas tinggi yang mempunyai durasi cukup panjang ini, saya bahkan mengalami kesulitan untuk bernafas dan terus mencengkram erat pegangan bangku bioskop. Sensasi yang kurang lebih sama – meski cakupan skalanya tidaklah sebesar agresi di Paris – turut sanggup dicecap oleh penonton kala para protagonis bertolak ke London yang menghadirkan adegan kejar-kejaran mengasyikkan memakai kaki dan melompat-lompati atap gedung. Dalam penggarapan adegan ini, pergelangan kaki Tom Cruise mengalami retak ketika kakinya membentur dinding sehingga tahapan produksi sempat diberhentikan selama tujuh pekan untuk menunggu sang pemain drama utama pulih dari cederanya. 

Saat kau menerka segala kesenangan di Paris dan London ini sudah tidak sanggup lebih sinting lagi – menyerupai dikala kau menerka Rogue Nation telah bertengger di puncak seri terbaik Mission: Impossible terkait kecapakannya mengkreasi parade gelaran tabrak – Fallout mempersembahkan kita dengan ‘pertarungan’ helikopter yang entah bagaimana caranya akan dilampaui oleh instalmen berikutnya. Sulit dibayangkan. Yang kemudian menciptakan sederet momen tabrak ini mempunyai impak lebih dari sisi intensitas disamping pengabdian Tom Cruise, gerak kamera dinamis, penyuntingan cekatan, dan iringan musik menghentak yaitu kapabilitas McQuarrie dalam bercerita. Dia memberi narasi penghantar untuk setiap momen tabrak sehingga keberadaannya bukanlah sebatas ajang unjuk kebolehan semata, tetapi ada urgensi dan pertaruhan yang terang dibaliknya. Pendekatannya kurang lebih senada dengan Rogue Nation dimana jalinan pengisahan yang diajukan oleh si pembuat film mengandung konflik berlapis-lapis penuh konspirasi dan tikungan-tikungan tak terduga yang membetot atensi. Tidak sepenuhnya gres dan ada kalanya terasa berbelit-belit, tapi cara penyampaiannya memakai nada pengisahan yang bergerak gesit seraya disisipi humor pengundang gelak tawa memungkinkan penonton untuk terhindar dari kejenuhan ketika mendengar para biro dalam film saling bertukar obrolan guna memberi eksposisi mengenai duduk masalah yang tengah mereka hadapi. Pertanyaan “siapa yang sanggup dipercaya?” senantiasa diperbaharui setiap beberapa menit sekali karena, well, setiap aksara mempunyai kesempatan sama besar untuk membelot termasuk Ethan Hunt sendiri. Keberadaan sang Superman alias Henry Cavill yang menggantikan Jeremy Renner (konon, jadwalnya bertabrakan dengan syuting Avengers terbaru) menjadikan tanda tanya mengingat keputusannya untuk ikut serta dalam misi tim kecil Ethan Hunt masih dipertanyakan. 
Demi menambah daya pikat, McQuarrie turut mengulik lebih dalam kehidupan pribadi Ethan Hunt dalam Fallout yang tak saja membantu menjabarkan motivasinya dibalik agresi berani mati yang dilakoninya selama ini tetapi juga menginjeksikan momen mengharu biru pada film. Sebuah momen yang turut berkontribusi dalam menempatkan Fallout sebagai seri terbaik dalam rangkaian seri Mission: Impossible. Sebentar, sebentar, terbaik? Ya, berkat Fallout, franchise Mission: Impossible telah berhasil menjalankan setidaknya dua hal. Pertama, memosisikan diri sebagai cap dagang paling jempolan untuk subgenre spionase secara spesifik (laga secara umum) di era ke-21 ini mengungguli Jason Bourne yang telah berakhir dan James Bond yang kurang konsisten. Dan kedua, Fallout mengambarkan bahwa franchise ini menua dengan cantik selayaknya Tom Cruise alasannya yaitu setiap serinya senantiasa melampaui pencapaian dari seri sebelumnya. Serentetan kesenangan yang kita dapatkan dari jilid-jilid terdahulu, utamanya Ghost Protocol dan Rogue Nation, dilipatgandakan oleh McQuarrie di sini melalui seabrek sekuens tabrak asing kemudian dipertautkan dengan narasi mengikat yang mengundang ketertarikan dan jajaran pemain ansambel badass terutama trio Cruise-Rhames-Pegg yang chemistry-nya kian solid. Tanpa memedulikan durasi panjangnya yang merentang sampai 147 menit, diri ini masih berteriak “I want more! I want more!” di penghujung durasinya saking kecanduannya. Semoga saja Tom Cruise diberi umur panjang dan kesehatan sehingga kita sanggup melihat seri lainnya dari Mission: Impossible di tahun-tahun mendatang.

Outstanding (4/5)